Labels

Selasa, 24 Mei 2011

Facebook III

Entah apa yang mereka pikirkan
Jejaring sosial ini semakin marak dengan 'penipu'

Bodohnya, saya sukses menjadi korban..
Tidak tanggung - tanggung...
2 KALI...

Saya yang bego dan bodoh, tidak perlu ditanyakan kenapa begitu saja mudah percaya...

Yang perlu ditanyakan, kenapa orang begitu lihai, fasih dan pandai membual?
Merasa pantas ya, mengecoh, menipu, membuat orang rugi..
Entah kepuasan apa yang didapat...

Ataukah merasa memiliki kemampuan lebih, hingga disia-siakan untuk berbuat hal merugikan untuk orang lain...
Sombong sekali jika benar demikian..

Kamis, 19 Mei 2011

setelah hari kemarin

Games...
Saya selalu menyukai itu...

Permainan...
Membuat saya tertantang untuk membuat rekor, dan menyelesaikannya hingga tuntas..

Saya harusnya tak kesulitan untuk melakukan permainan lainnya...
Apapun itu...

Maka sekarang saya hanya akan bermain-main...

Lalu mungkin laman ini tidak akan berisi lagi biru dan keluhan...
Lalu jika masih??
Maka biru adalah memang sahabat saya..

Rabu, 18 Mei 2011

klasik

Seperti diingatkan,,, ketika seorang teman menuliskan, bahwa :
Kita tulis rencana dengan menggunakan pena tapi berikan penghapusnya pada Allah,,,biarkan Dia menghapus yang salah dan mengganti dengan rencana-NYA yang lebih indah..
Ya..saya yang terlalu sering merasa menjadi orang paling benar, sekarang hanya dapat terdiam, menyaksikan apa yang telah saya tulis memudar tanpa terelakkan..
Rencana terhapus perlahan...

Semua yang pernah saya tulis, tetap ada, hanya pada bagian rencananya saja sekarang terhapus..
Ya,,semua yang pernah saya tulis yang pernah menjadi nyata akan tetap ada..
Maka bila ada siapapun meminta saya melupakan itu.. Saya tidak akan melakukannya.

Seperti ucap seorang lelaki bijak :
Sidik jari kita tidak akan pernah hilang, dari kehidupan yang telah dan pernah kita lalui.

Jika kelak saya lupa, mungkin ketika daya ingat saya menurun,,
mungkin ketika rambut saya memutih,,

Semestinya saya tidak perlu merasa kecewa dan sedih hati,, karena toh hanya pada bagian rencana saja yang terhapus.
Jika saya pikir dengan otak saya, saya pernah mendapatkan bahagia yang saya idamkan kala itu.
Maka semestinya saya hanya cukup bersyukur pernah merasakan itu.
Namun, ktika saya melihat pada hati saya,,, dia terluka bukan pada masa depan yang kabur,, tapi karena ada kekosongan yang dalam.

Maka pantaskah jika saat ini dan nanti, saya hanya menjadi 'penerima' saja, tanpa rencana?
Atau jika saya bersikap seperti itu, maka saya akan menjadi anggota baru dari kelompok putus asa?