Labels

Kamis, 30 September 2010

Akhir Bulan Tutup Buku

Bukunya memang penuh saja belum
Coretanpun masih jarang
Bahkan banyak lembar yang terlewat

Tidak ada kesempatan untuk kembali menulis disitu
Tidak akan pernah memaksa
Jika memang harus seperti itu

Aku pamit
Kalaupun kembali bukan karena merasa terundang
Mungkin karena tidak benar-benar pergi
Atau karena kehendak hati

Akhir bulan,
Menutup buku

Bulan baru
Entah dengan buku yang baru
atau tetap menatap yang lama
dan berharap bisa kembali terbuka..

Jangan usang tanpa bermakna
Jangan lusuh tanpa berisi
Aku mohon

Isi dengan tulisan baik oleh tangan yang baik
Mungkin tidak olehku...

Jawaban...

Kuharap cukup pantas
Jika sampai harus menyita seluruh hidup

Aku ingin jadi jawaban

Tak paham
Begitu membutuhkannya

Selama kau perlu waktu
Aku ingin ada disitu

Bintang lenyap
Beri aku peran
Maka tetap terang untukku

Jadikan aku pijakan yang utuh
Aku akan seimbangkan
Dari sejak pagi buta
Agar malam selalu baik

オーラ

Menunggu kesempatan
Selalu ada alasan
Aku ingin disini bukan sekedar selingan

Jika kau ingin berhenti untuk sejenak menghela nafas
Aku menunggu

Tak perlu lama
Pembuluh sudah mengalir mengingatmu

Mari berlari menjauh dari kotak kayu yang kau duduki
Ayo kita terbang pergi dari ruangan dingin yang kau tinggali
Lekas genggam, atau perlu kuangkat agar kau tak perlu merasa lelah

Jangan cepat menyerah
Tidak perlu sendiri, aku disini

Tidak seperti malaikat yang selalu lembut
Tidak seperti dewa yang kuat
Tidak seperti sufi yang suci

Hanya punya hati
Aku ingin kau nyaman

Lihat aku
Bukan penyabar memang
Tapi aku mau belajar
Bukan menang yang dicari
Tapi tenang

Kemasi dan berangkat
Dari semua hitam
Untuk kita pilih warna lain, warna KITA...

2 Bungkus 1 Hari

Selamat datang di zona 'diburu-buru'
Seperti dikejar bis..yang sayangnya bis itu tidak pernah mogok atau berhenti untuk angkut penumpang..
Pilihannya, lari atau terlindas..

Saya pilih lari tentunya, karena saya belum ingin mati..

Saya tahu garis start-nya, tapi dimana finish-nya?

Belum benar-benar masuk hari kerja saja, mulai minggu lalu map di atas meja kerja sudah nangkring, merasa dia cukup manis ada disitu..

Cara ampuh untuk membantu otak bekerja adalah batangan putih berlogo A..
Setiap buntu, mulai dibakar...dan dihisap... cukup bikin lumer yang hampir beku..

Tidak tidur, lagi-lagi jadi asupan gizi yang harus ditelan mentah.
Saya yang tidak suka kegiatan menyegarkan diri yang dinamakan mandi, menjadi benar-benar tidak butuh itu dan tidak merasa perlu tidur.
Saya hanya ingin sehat, tidak seperti siang tadi yang tiba-tiba sempoyongan dan harus 'tewas' di tempat tidur.

Kepala berat dan tenggorokan tidak baik..

Masih banyak yang harus dikerjakan...
Belum boleh berhenti, dan istirahat..

Saya minta izin untuk melakukan semuanya sampai selesai dan kembali mengerjakan yang baru.
Minta izin karena membolak-balikkan waktu.
Minta izin untuk tetap dengan batangan putih itu, karena saya perlu itu untuk membantu saya bisa berpikir, walau sampai harus habis 2 bungkus 1 hari.
Saya minta izin, untuk boleh meminta sesuatu yang diberi julukan sehat...

Selasa, 28 September 2010

Pita Yang (tidak) Rusak

hmmm...
kenapa mesti mikirin sesuatu yang bukan apa-apa...
saya pikir hari kemarin itu merupakan satu titik terang
ternyata belum
atau bahkan bukan

semoga segera hilang dari ingatan
sayang semuanya terekam sempurna, mestinya gulungan itu menjadi kusut dan rusak sampai tidak dapat berfungsi lagi. Saya akan sangat lega..

Kalau semua tindakan tidak digubris, saya memang harus merasa tidak lagi melakukan apapun.
Harusnya mudah...

Berharap cuaca membuat pitanya berjamur
Berharap debu membuat piringan tergores

Saya hanya tidak ingin diperlakukan seperti ini, oleh apapun
oleh siapapun..
Tidak perlu dianggap penting
Tapi tidak juga menjadi yang terabaikan..

Tolong jangan mampir lagi dalam ingatan...

Pitanya tetap tidak rusak
Saya kesal...

Mohan...

Terjebak di dunia yang sedingin baja
Tanpa bisa bicara
Beku...
Siapa yang mampu menyelamatkan?
Jika ini begitu berarti untukmu, tak perlu berbagi sudut pandang

Selalu dengan pikiran jernih
Bersih...murni, dan nyata
Mungkin selamanya akan disini
Belajar dan tumbuh
Semua didapat dengan cuma-cuma
Sampai jiwa melepas

Bagaimana mengingat ini?
Dulu dan hari ini..
Besok masih tetap akan sama
Adakah seorang yang tahu?

Menanti lagu pelepasan
Dari sebuah biosfer berpijak tanah dan batu

Baja memanas
Mulut bersuara
Tak lagi bisu
Tak lagi dingin
Terberkati

Senin, 27 September 2010

Ketika Tidur Menjadi Sesuatu Yang Langka

Konsekuensi..

Saya pernah bermimpi bahwa tidur dengan kualitas yang baik bisa saya dapatkan..
Tidur yang tidak sekedar memejamkan mata...dan mendengkur seperti babi..
Tetapi benar-benar terlelap tanpa memikirkan pekerjaan yang selalu dikejar deadline..
Saya pernah sangat menginginkan itu..

Mengingat hal yang belum saya dapatkan itu...
Saya rasanya perlu berpikir dengan cara lain..
Hal yang setidaknya bisa membuat saya tersenyum...

Menyenangkan ketika saldo bertambah bukan hanya satu kali tiap bulannya...
Kadang menjadi hura-hura karena merasa perlu membayar 'hal yang hilang' rasanya masih cukup pantas dilakukan..

Bekerja bukan hanya di satu konsultan terkadang menjadi satu kebanggaan untuk saya sendiri..
Mencoba menambah daftar pengalaman untuk dapat 'dijual' ke depannya..

Itu konsekuensinya mungkin..
Semua seperti diburu waktu...
Tidur dan terjaga karena ingat ada saja pekerjaan yang belum benar-benar selesai...
Tidak perlu lagi saya keluhkan itu lagi...

Saya ternyata benar-benar mencintai 'dunia' ini...
Walaupun tidur yang baik menjadi hal yang langka...

Tak jarang tanpa sadar tertidur di depan monitor dan meja kerja..
Harus selalu bisa saya syukuri...

Setidaknya saya selalu punya yang namanya perjalanan..
Di travel, di pesawat, di mobil...
itu terkadang malah menjadi tempat nyaman untuk bisa sejenak tidur..
Ya setidaknya saya masih punya itu...

Semoga ini pantas saya jalankan dan saya dapatkan untuk bisa saya nikmati di depan...

Sen - Ci

Pelajaran penting yang saya dapat hari minggu 26 September 2010 adalah jangan pernah memaksakan diri atas sesuatu yang tidak pernah dapat dijalani..

Saya pikir, saya sudah cukup 'besar' untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan sekelompok orang (meskipun) yang belum terlalu saya kenal..
Ternyata saya masih seperti saya yang dulu, ya saya sebelum hari itu, bahkan masih sama seperti belasan tahun yang lalu...

Uji keberanian ternyata tidak cukup berhasil...

Seharusnya hari itu, merupakan hari yang ditunggu-tunggu..tetapi hasilnya malah menjadi hari yang tidak terlalu berjalan dengan sempurna...

Perjalanan 170 KM lebih menggunakan sepeda motor dipenuhi dengan pikiran, topik apa yang harus saya lontarkan untuk menjadikannya sebuah percakapan nanti...?
4 jam di perjalanan & saya tidak menemukan jawabannya.. Saya tahu pasti, saya hanya bisa diam..

Ketika saya harus dihadapkan dalam satu komunitas baru, harusnya saya sadar diri, bahwa saya tidak akan pernah bisa secepat itu untuk menjadi orang yang banyak bicara..
Harusnya jika saya ingin dekat dengan seseorang, hanya orang itu saja terlebih dahulu yang saya temui...
Yang lain bukan 'pengganggu', tapi ketika ada orang lain, saya seperti di posisikan sebagai murid baru di sekolah yang tidak bisa berkutik dan tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya...

Menjadi 'patung' di tengah kerumunan orang memang sangat tidak mengenakan..
Kursinya terasa panas, semuanya serba salah...

Mereka baik, tidak ada yang salah dengan mereka... Lagi-lagi... Saya...

Sepulang dari situ saya cepat menghubungi teman baik saya, karena saya perlu 'obat' yang bisa menetralisir kegugupan saya...

Ternyata diapun sama...
Ketika harus dihadapkan dengan kondisi seperti yang saya alami hari itu, dia berkata diapun hanya akan diam..
Ternyata kami hanya lancar jika mengirimkan pesan singkat... Tetapi jika bertemu muka, kami hanya menjadi bisu...

Bagaimana jika kesempatannya hanya hari itu saja?
Masih perlu yang namanya penyesalan?
Bagaimana jika ada kesempatan lain, tetapi tetap dengan kondisi yang sama?
Saya hanya bisa menjamin bahwa keadaanpun akan tetap sama...
Saya hanya akan menjadi orang yang menghafal menu makanan dan tanpa berani mengeluarkan suara...
Mungkin yang saya perlukan kesempatan untuk bertemu dengan satu orang itu tanpa hadirnya orang lain (terlebih dahulu)...
Sepertinya jika itu yang terjadi, keadaan masih cukup mudah...
Tetapi apakah dia tertarik untuk memberikan kesempatan lain?
Sepertinya tidak...

Mau diapakan lagi, saya memang tidak sepandai orang lain yang bisa cepat berinteraksi..

Setidaknya ke depannya, sebelum melakukan sesuatu saya harus mengukur kemampuan saya terlebih dahulu...

Maaf.....

Menyakiti dan disakiti..
Saya lebih memilih disakiti, meskipun itupun bukan hal yang dapat membuat hidup tenang..
Tetapi setidaknya untuk saya, ketika saya disakiti, saya tidak akan selalu hidup dalam penyesalan yang panjang dan hanya saya sendiri yang perlu disembuhkan...dengan cara saya sendiri.

Tapi lagi-lagi.. semua tidak sejalan dengan yang direncanakan..
Bukan keinginan saya jika harus ada diposisi ini..
Ketika harus kembali menyakiti orang yang pernah dekat.
selalu dan kembali hanya kata "maaf" yang bisa saya keluarkan...

Saya tahu itu sama sekali tidak membuat perihnya menjadi lebih baik..
Saya tahu itu tidak membuat galaunya berubah menjadi ketenangan..

Bukan tanpa usaha...
Saya pernah mencoba..tapi tidak berhasil
Waktu memang bukan ukuran..Lama...Sebentar...
Ketika saya merasa tidak dapat memberikan apa yang dibutuhkan..
Ketika saya merasa dia lebih layak mendapatkan apa yang seharusnya dia terima..dan sayangnya bukan dari saya.

Keinginan saya untuk selalu berhubungan baik tidak disambut dengan suka cita...saya bisa apa?

Lagi-lagi, saya harus mengulang kata-kata yang tentunya tidak ingin didengar olehnya..

Jika dia selalu bilang, dia tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup saya..
Dia harusnya tahu, bahwa itu tidak benar..

Sekali lagi...
Saya benar-benar pernah berusaha dan mencoba untuk hubungan yang dulu pernah ada berhasil..
Tapi kenyataannya?
Saya tidak akan pernah menyalahkan siapapun..kecuali diri sendiri..

Maaf jika semua yang pernah kita rencanakan tidak pernah terlaksana..
Maaf jika semua yang pernah ada membuat semua yang ada sekarang menjadi kacau..

Saya benar-benar berharap apa yang ada di hadapannya saat ini, menjadi yang terbaik baginya..
Yang bukan saja mengisi kekosongannya, tetapi benar-benar menjadikan hari, hati dan dunianya penuh dan saya benar-benar rindu dia tertawa lepas seperti dulu...

Maaf...saya tidak bisa memenuhi permintaan itu..
keadaaannya memang sudah tidak seperti sebelumnya..
Di samping itu...saya tidak akan pernah ingin lagi menyakiti dia lebih dalam...

Saya benar-benar ingin kami berteman dan saya yakin satu waktu...ketika semua sudah benar-benar baik...itu bisa terwujud..

Semoga waktu menjadi media yang tepat untuk kami menjadi orang yang berlapang dada menerima keadaan..

Saya yang pernah menyayanginya...
dan
Saya benar-benar minta maaf...