Survey keluar kota otomatis selalu ada biaya perjalanan dinas.
Kali ini kami bertiga menuju kota hujan dengan minivan milik kantor.
Seperti biasa, setiap transaksi keuangan dicatat dan bukti transaksi disimpan untuk laporan pertanggung-jawaban.
Saya : "Zack, beli bensin nanti tolong jangan lupa notanya"
Zack : "Siip..."
Saya : "Zack, bukti tol saya simpan saja"
Zack : "Nih", (seraya menyerahkan bukti pembayaran tol).
Keluar tol Cibinong kami disambut dua orang peminta-minta tepat diperempatan jalan
Ervan : Zack, tolong kasih Zack, sedekah..
Zack menurunkan kaca jendela mobil, lalu memberikan uang ke peminta-minta yang berdiri di samping pintu pengemudi, sambil berkata : "bonnya ada?"
Saya dan Ervan : ???????
Selasa, 11 September 2012
Saya Sudah Tua Gigi Tanggal Dua
Menjadi sepuh adalah proses yang tak terelakkan
Waktu tidak bergerak mundur, selalu ke depan
Saya bukan Benjamin Button, yang semakin lama hidup semakin muda
Sekarang sudah terasa
Musik keras, kalau tidak keras tidak asyik
Begadang berhari-hari, dijabani dengan happy
Berkeliaran hingga larut malam, kuat dan anti dingin
ah, itu dulu sekali
Musik, salah satu indikatornya
Musik keras, jadi kurang nyaman didengar apalagi dipasang dengan suara nyaring
Rasanya tidak bisa dinikmati
Begadang, kini dua malam tak tidur sudah jadi prestasi
Semalam tidak tidur saja, badan sudah pegal-pegal
Meskipun masih tetap harus dijalani pada beberapa situasi
Malam harus berkeliaran, wah sudah menjadi pilihan sulit
Lebih memilih tinggal diam untuk istirahat
Atau sekedar menikmati sofa dengan ditemani tayangan televisi atau bacaan
Benar-benar bukan lagi pemudi yang enerjik
Rambut memang tidak (belum) putih
Gigi saja tanggal dua
Selera mulai beralih
Saya terima saya menua
Waktu tidak bergerak mundur, selalu ke depan
Saya bukan Benjamin Button, yang semakin lama hidup semakin muda
Sekarang sudah terasa
Musik keras, kalau tidak keras tidak asyik
Begadang berhari-hari, dijabani dengan happy
Berkeliaran hingga larut malam, kuat dan anti dingin
ah, itu dulu sekali
Musik, salah satu indikatornya
Musik keras, jadi kurang nyaman didengar apalagi dipasang dengan suara nyaring
Rasanya tidak bisa dinikmati
Begadang, kini dua malam tak tidur sudah jadi prestasi
Semalam tidak tidur saja, badan sudah pegal-pegal
Meskipun masih tetap harus dijalani pada beberapa situasi
Malam harus berkeliaran, wah sudah menjadi pilihan sulit
Lebih memilih tinggal diam untuk istirahat
Atau sekedar menikmati sofa dengan ditemani tayangan televisi atau bacaan
Benar-benar bukan lagi pemudi yang enerjik
Rambut memang tidak (belum) putih
Gigi saja tanggal dua
Selera mulai beralih
Saya terima saya menua
Semoga dilindungi
Siapa yang paling benar? Saya, kamu atau mereka?
Siapalah kita ini, hingga merasa punya hak untuk menilai?
Menjalani sesuatu yang baik dengan cara baik itulah yang perlu dilakukan, selanjutnya dikembalikan pada-Nya.
Tak jarang karena keangkuhan dan merasa paling benar, menyakiti orang lain menjadi dihalalkan. Lagi-lagi, siapalah kita ini?
Sayapun sepertinya sama seperti sebagian orang itu.
Tanpa berpikir mengenai hati, hati yang dibiarkan kotor, dan hati mereka yang terusik. Padahal kesempurnaan jauh sekali dari diri ini.
Terganggu dengan teman yang banyak cakap, lalu tanpa berani mengingatkan kadang hanya mampu bergunjing.
Terganggu dengan sifat teman yang tidak menyenangkan menurut kita, kembali bergunjing yang menjadi aktivitas.
Terlupa bahwa bukanlah kita pencipta itu.
Lalu menjadi hak kita untuk menilai?
Bukankah sedih rasanya jika teman yang kita cintai, saudara yang selalu ingin kita lindungi, orang tua yang kita kasihi menjadi bulan-bulanan orang lain. Lalu kenapa saya dan kita harus selalu memiliki kemampuan untuk menyakiti saudara, teman, orang tua mereka dengan selalu membicarakan hal yang tidak baiknya. Baik dan buruk bukan kita menakar.
Termasuk ketika melihat sesama kita yang memiliki keterbatasan fisik. Lalu kita sering mengatakan hal kurang baik, bahkan sampai berkata amit-amit atau naudzubillah min dzalik.
Padahal bisa jadi mereka itu makhluk yang lebih dicintai Tuhan, dan kitalah yang patut dikasihani.
Bahkan, acap kali kita dibantu oleh orang lain, tetapi mengomentari keburukannya (menurut kita) yang dilakukan si penolong. Entah ketika lapar, kita diberi makan, bukan terima kasih dengan tulus yang diucapkan tetapi malah berkomentar soal rasa yang kurang pas.
Mungkin pernah kita tinggal semalam atau dua malam di rumah seseorang, bukan berterima kasih, malah mengomentari kamar mandi yang kotor, tempat tidur yang kurang empuk, atau bahkan menjadi kurang ajar dengan berani membicarakan keburukan pemilik rumah. Mungkin banyak sekali yang lainnya yang tak pantas dilakukan karena melukai orang lain.
Maka kita benar-benar telah menjadi orang yang tidak bersyukur, dan memang justru kita yang lebih pantas dipandang oleh manusia lain dan dia berkata naudzubillah min dzalik.
Apa yang kita lakukan, semestinya melihat kembali pada diri kita.
Menerima jika kita diperlakukan tidak baik? Bersedia jika kita menjadi bahan pergunjingan orang lain?
Terlebih lagi, ketika kita menghina orang lain, bagaimana dengan Sang Pencipta? Pantas kita menghina-Nya?
Semoga kita dilindungi oleh Tuhan. Mencintai makhluknya wujud cinta kita pada-Nya juga bukan?
Siapalah kita ini, hingga merasa punya hak untuk menilai?
Menjalani sesuatu yang baik dengan cara baik itulah yang perlu dilakukan, selanjutnya dikembalikan pada-Nya.
Tak jarang karena keangkuhan dan merasa paling benar, menyakiti orang lain menjadi dihalalkan. Lagi-lagi, siapalah kita ini?
Sayapun sepertinya sama seperti sebagian orang itu.
Tanpa berpikir mengenai hati, hati yang dibiarkan kotor, dan hati mereka yang terusik. Padahal kesempurnaan jauh sekali dari diri ini.
Terganggu dengan teman yang banyak cakap, lalu tanpa berani mengingatkan kadang hanya mampu bergunjing.
Terganggu dengan sifat teman yang tidak menyenangkan menurut kita, kembali bergunjing yang menjadi aktivitas.
Terlupa bahwa bukanlah kita pencipta itu.
Lalu menjadi hak kita untuk menilai?
Bukankah sedih rasanya jika teman yang kita cintai, saudara yang selalu ingin kita lindungi, orang tua yang kita kasihi menjadi bulan-bulanan orang lain. Lalu kenapa saya dan kita harus selalu memiliki kemampuan untuk menyakiti saudara, teman, orang tua mereka dengan selalu membicarakan hal yang tidak baiknya. Baik dan buruk bukan kita menakar.
Termasuk ketika melihat sesama kita yang memiliki keterbatasan fisik. Lalu kita sering mengatakan hal kurang baik, bahkan sampai berkata amit-amit atau naudzubillah min dzalik.
Padahal bisa jadi mereka itu makhluk yang lebih dicintai Tuhan, dan kitalah yang patut dikasihani.
Bahkan, acap kali kita dibantu oleh orang lain, tetapi mengomentari keburukannya (menurut kita) yang dilakukan si penolong. Entah ketika lapar, kita diberi makan, bukan terima kasih dengan tulus yang diucapkan tetapi malah berkomentar soal rasa yang kurang pas.
Mungkin pernah kita tinggal semalam atau dua malam di rumah seseorang, bukan berterima kasih, malah mengomentari kamar mandi yang kotor, tempat tidur yang kurang empuk, atau bahkan menjadi kurang ajar dengan berani membicarakan keburukan pemilik rumah. Mungkin banyak sekali yang lainnya yang tak pantas dilakukan karena melukai orang lain.
Maka kita benar-benar telah menjadi orang yang tidak bersyukur, dan memang justru kita yang lebih pantas dipandang oleh manusia lain dan dia berkata naudzubillah min dzalik.
Apa yang kita lakukan, semestinya melihat kembali pada diri kita.
Menerima jika kita diperlakukan tidak baik? Bersedia jika kita menjadi bahan pergunjingan orang lain?
Terlebih lagi, ketika kita menghina orang lain, bagaimana dengan Sang Pencipta? Pantas kita menghina-Nya?
Semoga kita dilindungi oleh Tuhan. Mencintai makhluknya wujud cinta kita pada-Nya juga bukan?
Rabu, 05 September 2012
Satu Kurang Satu Sama Dengan Sepuluh
Welas Asih..
Itu yang tepat.
Saya kerap kali mendengar, membaca mengenai hal ini, baik itu keutamaan, hal yang didapat dan banyak lagi. Sampai akhirnya saya mencoba dan merasakan nikmatnya.
Bukan karena imbalan, bukan pula karena ingin terpuji dan bukan pula karena merasa sudah berlebih, tapi karena welas asih dan tentunya karena-Nya, Yang Maha Memiliki.
Semua yang ada di dunia ini bukan milik siapapun kecuali Dia, Sang Maha Satu. Lalu mengapa saya harus bersedih ketika kehilangan sesuatu, apalagi yang bersifat materi. Ketika sudah dicukupkan, saya memohon untuk tidak menjadikan saya serakah dan ingin berlebih, sayangnya itu terlupa. Maka ketika diingatkan dengan berkurangnya harta, seharusnya saya tidak perlu marah, sepertinya saya lupa mencukupkan yang kekurangan.
Sering saya ditunjukkan cerita-cerita bagaimana orang berbagi dengan sesamanya dan bagaimana si pemberi merasakan nikmat Allah yang tak terkira, saya hanya kagum tanpa ikut bertindak dan mencontoh. Ya, saya tahu dengan memberi secara ikhlas, banyak hal baik yang didapat, bahkan bisa mendapatkan pertolongan. Pertolongan dari-Nya melalui siapapun yang tak terduga. Tapi ilmu itu tidak saya amalkan dengan baik.
Saya bersyukur, satu waktu saya diingatkan, apa yang saya punya saat ini adalah bukan kepunyaan saya. Untuk apa saya harus menggebu-gebu menyimpan, menyembunyikan sesuatu sedangkan sebagian di luar banyak yang memerlukan. Akhirnya satu waktu saya memutuskan untuk memulai hal ini, hal yang menurut saya baik, tidak sulit untuk dilakukan tapi acap kali khilaf dan terlewat. Semoga setelah ini, tidak lagi lupa.
Bukankah Allah Maha Kaya? Maka kenapa saya harus takut untuk kekurangan? Mengapa pula saya harus menjadi orang yang kikir? Sekali lagi, apa yang saya miliki bukanlah sepenuhnya milik saya. Saya yakini saya adalah manusia, dan saya adalah makhluk-Nya. Allah adalah seperti apa yang kita pikirkan, saya yakin Dia tidak akan menjadikan saya miskin ketika saya berbagi.
Benar kata orang-orang, hal baik ini memberikan ketenangan.
Seperti yang pernah saya baca, satu dikurang satu seharusnya nol, tapi tidak dengan ini. Satu dikurang satu menjadikannya sepuluh bahkan lebih. Ketika kita memberikan satu, yang kita dapat adalah sepuluh. Subhanallah
Namun, semoga kita tidak mengharapkan hal tersebut. Semoga setiap hal baik yang kita lakukan untuk orang lain, untuk makhluk lain adalah karena welas asih dan karena Allah semata, bukan karena mengharap imbalan atas apa yang kita lakukan. Aamiin..
Saya menulis ini, berharap menjadi pengingat bagi diri saya sendiri jika saya terlupa kembali satu waktu nanti.
Bukan untuk menunjukkan saya pernah melakukan sesuatu yang baik menurut saya sehingga ingin mendapat pujian, na’udzubillahimindzalik.
Bukan untuk menunjukkan saya pernah melakukan sesuatu yang baik menurut saya sehingga ingin mendapat pujian, na’udzubillahimindzalik.
Langganan:
Postingan (Atom)
