Labels

Rabu, 17 April 2013

Mencintai Al-Qur'an

Sering kali saya mendapatkan pesan singkat yang mengingatkan untuk saya selalu dan tidak lalai membaca Al-Qur'an.
Malu sebenarnya dengan tidak kontinyu-nya kebiasaan ini. Bila dibandingkan dengan yang saya lakukan lainnya, yang oke itu bisa dikatakan tidak penting sama sekali, saya lebih betah melakukan hal tidak penting itu. Harusnya malu. Bahkan setelah saya tuliskan inipun tidak menjadi jaminan saya akan lebih konstan dan benar membaca juga mengkajinya. 

Setiap memikirkan ini, ada rasa sedih, betapa saya adalah manusia yang selalu mengabaikan. Entah sampai kapan saya akan menjadi seperti ini. Astagfirullahaladzim.

 Karena hati di bawah kekuasaan Allah, dan saya tidak mampu menguasai hati saya sendiri. Semoga dengan sering berdoa ini dan mengharap Ridho-Nya, saya bisa benar mencintai Al-Quran.




اللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِيْ وَنُورَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

Ya Allah, sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu (laki-laki), anak dari hamba-Mu (perempuan). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, takdir-Mu berlaku atasku, dan ketetapan-Mu adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, Nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diri-mu, atau yang Engkau sebutkan dalam Kitab-mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang diantara hamba-Mu (Nabi), atau yang Engkau sembunyikan di alam keghaiban-Mu; hendaknya Engkau menjadikan Al-Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku, dan penolak rasa gundahku.

Aamiin..

Senin, 15 April 2013

Menjadi tidak di Dasar


Menunggu dan berharap memang sangat dekat dengan kecewa. Ada satu masa dimana saya seperti menemukan sesuatu yang saya kira itu yang diidamkan. Namun tanpa bisa dipaksakan, ternyata sesuatu itu nampaknya urung untuk mendekat. Akhirnya menjauh dan saya sulit untuk melihatnya kembali.

Kecewa, tentu terbesit. Meski berkali saya sadari segala sesuatu adalah sudah pasti atas kehendak-Nya, namun terkadang ada penolakan untuk saya bisa terima begitu saja. Saya kembali berusaha, tanpa berlebihan.

Bukankah tidak sekali ini saya mengalami kekecewaan? Namun kenapa rasanya tetap sulit ketika harus dialami kembali? Mengatasinya sangat tidak mudah. 

Meyakini yang terbaik ada di depan sana dan penantian akan berujung, memang salah satu upaya diri sendiri untuk mengikhlaskan yang saat ini terjadi. Benar, tidak mudah menjadi manusia yang pasrah. 

Kecewa memang kadang menyakitkan. Ingin sekali berjauhan dengan itu. Namun saya harus mengingat ini : jika saya takut untuk kecewa, maka saya akan tidak punya harapan. Lalu saya akan menjadi makhluk yang selalu ada di dasar. 

Ikhtiar saja, belajar lebih keras untuk menjadi manusia yang ikhlas dan berdoa. Mudah ditulis dan diucapkan, sulit diterapkan, tapi tidak ada lagi negosiasi, ini yang harus dilakukan.  Saya yakin Tuhan tidak buta dan tuli.

Jumat, 12 April 2013

Mati Sebelum Mati

Ada waktu dimana saya sama sekali tidak ingin apa-apa. Tetapi tetap melakukan banyak hal yang memang mesti dilakukan. Tanpa menginginkan kepemilikan akan sesuatu. Tidak jarang saya meyakini, bekal saya bukan sesuatu milik saya yang bersifat nyata, namun keyakinan dan kesadaran itu kerap kali terlupakan lalu saya menjadi terlena kembali untuk memburu banyak hal yang sifatnya sementara.

Menjadi ngeri sendiri ketika terlintas pertanyaan, setelah ini apa? Eksplisitnya, setelah masa hidup saya disini habis, apa yang terjadi pada diri saya?

Semoga kajian yang semalam saya lakukan dengan beberapa orang rekan akan hal ini menjadi berkah dan terlebih lagi, membuat saya menjadi lebih mawas diri dan lebih baik.

Banyak orang mendahului kita, kembali pada Sang Khalik. Ketika yang meninggalkan dunia ini adalah keluarga, teman dan orang yang saya kenal, beberapa saya hadir dalam pemakamannya. Berkali-kali juga ketika prosesi pemakaman, ustadz yang memberikan "sambutan" menjelaskan pada kami yang hadir bahwa setiap dari kita yang hidup pasti akan meninggal. Hal yang tengah dihadapkan pada kami kala itu merupakan pengingat bagi kami untuk selalu berbuat baik, karena tidak ada yang akan dibawa melainkan amal dan ilmu, yang tentunya tidak dapat kami lihat secara nyata.
Saya merinding, dan takut. Sayangnya, saya akan terlupa lagi.

Kajian semalam, bukan mengenia mengingat kematian saja. Saya yakini ada masa dimana kontrak saya habis di dunia ini. Karena mati adalah sudah ketetapan, dan tidak perlu diragukan lagi. Lalu saya dan rekan membahas mengenai 'kematian' yang lain. Pembahasan mengenai hidup hanya sementara adalah biasa kita dengar, tetapi jika mati sebelum mati, jarang menjadi pembahasan.

"Apa yang dilakukan dan diinginkan orang yang telah meninggal?", tanya seorang rekan. Saya menjawab, "tidak satupun". Rekan saya yang tentunya lebih paham mengenai ini membenarkan itu, dan menjabarkan bahwa yang meninggal, menyerahkan seluruhnya pada siapapun yang hidup untuk mengurusnya. Memandikan, mengkafani, menyolatkan, lalu memakamkan. Dia yang meninggal tidak akan protes ketika dimandikan dengan air yang kurang bersih, dia tidak akan mengucapkan terima kasih jika dimandikan dengan air bunga. Dia tidak akan protes jika dimakamkan di lahan kotor, tidak juga akan menyalami kita jika dimakamkan di pemakaman mewah. Semua diserahkan pada yang hidup. 

Lalu bagaimana dengan kita yang masih hidup? Mengurusi hal yang patut dan baik saja seharusnya yang dilakukan. Namun seandainya saya sanggup dan mampu saya ingin mati juga, sebelum mati (meninggal dunia).

Proses ketika kita mengurusi mayat hingga menguburkan, itu adalah poin utama yang harus saya sadari. Bahwa menyerahkan pada yang hidup adalah keharusan. Lalu siapa yang hidup yang sebenar-benarnya? Hanya satu, Allah. Saya ingin bisa mencapai tahap ini, bahwa saya mati (sebelum mati), dan menyerahkan sepenuhnya diri saya pada Yang Maha Hidup.

Kembali saya menuliskan disini adalah sebagai pengingat, untuk diri saya utamanya. Saya yang selalu protes ketika sesuatu tidak sesuai harapan, ketika sesuatu melenceng dari yang dirancang, semoga setidaknya setelah ini, tidak lagi melakukan hal itu. Perancang besar adalah Dia saja. Seharusnya saya malu dengan arogansi dan kesombongan. اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ

Semoga Tuhan mengizinkan hati saya untuk tetap terbuka, dan diizinkan pula untuk dapat selalu memperbaiki diri.

Kamis, 11 April 2013

Stuck

Kembali saya meyakini bahwa ketika keadaan sedang keluar dari jalurnya, saya memiliki hasrat untuk menulis. 

Sekarang keadaan sedang keluar dari jalurnya. Seharusnya malam ini saya mengerjakan perencanaan pipa namun mood saya lenyap seketika karena sesuatu hal. Saya bukan orang yang moody, tapi hanya jika berurusan dengan yang satu itu, saya menjadi tidak dapat mengontrol diri. 

Orang bilang ketika ada kedongkolan, atau apapun itu yang membuat hati tak berbentuk, salah satu hal yang dapat menenangkan adalah dengan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kuat melalui mulut. Namun buat saya itu saja tidak cukup, setelah menumpahkan disini entahlah, rasanya lebih baik.

Saya tahu hari tidak selalu terang, tidak selalu cerah dan menyenangkan. Meski begitu, masih saja saya selalu harus 'kaget' dengan perubahan cuaca, dari cerah menjadi mendung, dari terang menjadi gelap. Padahal ini sudah biasa, bertahun-tahun seperti ini, masih saja saya seperti bocah yang meminta perlindungan ketika perubahan datang. Senang yang berubah menjadi sedih, sehat yang berubah menjadi sakit, dan hal semacamnya, saya masih mencari perlindungan.

Walau sakit kadang kita yang cari sendiri, ketika kita menjadi "sesuatu" atau seseorang yang dengan sadar dan mau menjadi korban akan satu keadaan, seharusnya konsekuensinya dapat diterima dengan mudah tapi ternyata tidak begitu.

Apa pelajaran yang saya dapat untuk hari ini? Seharusnya saya sudah hafal mengenai ini. Jika ini adalah mata kuliah, saya sepertinya telah mengulang ini berkali - kali, tapi tidak juga lulus dengan nilai baik. Bahkan jika mendapatkan nilai C-pun itu adalah C minus yang merupakan hasil dongkrak karena kebaikan dosennya. Pelajaran yang saya dapat, saya tahu selalu itu. Sayangnya prosesnya selalu membuat hati semrawut.

Bagaimana naik tingkat, jika soal yang sama atau mirip, tidak dapat dijawab dan diselesaikan dengan baik.

Saya yang tidak naik kelas hhhhh....