Labels

Senin, 28 Oktober 2013

Enggano dan Tas Merah

Saya sudah siapkan pil kina dan mental
Mendengar kabar bahwa di salah satu pulau terluar Indonesia ini merupakan peringkat kedua penyebar penyakit malaria, cukup membuat saya was-was. Tidak ada salahnya antisipasi meminum pil kina.

Perjalanan luar biasapun saya mulai dengan dua orang rekan. Dua belas jam waktu tempuh dengan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Pulo Tello Bengkulu menuju Enggano, dilakukan pada malam hari. Mengarungi Samudera Indonesia, ombaknya tentunya tidak dapat dikatakan 'biasa'. Biaya perjalanan yang hanya Rp. 49.000,- tidak cukup menghibur dan mengurangi rasa was-was.

Sesampai di Enggano, kami harus mencari tumpangan yang dapat membawa kami ke basecamp. Sampai akhirnya dengan dibantu oleh Koramil setempat kami dititipkan pada Pa A Buki (merupakan sebutan bagi ketua para kepala suku). Dengan kendaraan milik Pa A Buki, yaitu mobil dengan bak terbuka, kami duduk di depan samping pak sopir, memulai melewati jalanan Pulau Enggano yang sama sekali tidak bagus, pun melewati hutan-hutan dengan pohon yang sangat besar dan rindang.

Setibanya di Basecamp kami turun dan kagetlah karena tas merah milik saya tidak ada di bak belakang tempat kami menyimpan barang-barang dan perbekalan kami. Pasalnya, surat tugas kami ada di tas itu, dan notebook yang berisi data-data pribadi dan pekerjaan saya yang menurut saya penting ada di dalam tas itu pula. Panik, tapi akhirnya tidak ada yang dapat kami perbuat.

Betapa warga di pulau terluar ini sangat simpatik dan mereka mampu berempati. Setelah hari saya kehilangan tas, hampir setiap warga yang berpapasan ketika kami berjalan, menanyakan mengenai tas itu. Di pulau terpencil, kami seketika menjadi terkenal. Bukan karena pekerjaan yang kami lakukan, namun karena tas itu.

Kami tak menyangka Pa A Buki dibantu warga lainnya masih berusaha keras untuk menemukan tas itu. Bagaimanapun, akses keluar masuk Enggano hanya dapat dilakukan 1 - 2 kali seminggu, sehingga sangat mungkin tas itu tidak berada jauh dari tempat kami tinggal.

Pa A Buki bersama warga yang merasa bersalah (meskipun tentunya ini bukanlah kesalahannya), yang terus berusaha menemukan, membuat saya dan rekan saya terharu. Bagaimana tidak, mungkin kepedulian seperti ini, sudah sangat jarang kami dapatkan, dan ini kami terima dari orang yang baru kami kenal.

Selang tiga hari, saya memutuskan untuk berbicara pada Pa A Buki dan beberapa warga, bahwa saya sudah merelakan tas dan isinya tentu saja. Meskipun mereka tetap bersikukuh untuk mencari, saya pastikan bahwa dengan kami diterima dengan baik di pulau tersebut sudah lebih dari cukup, tidak perlu sampai kami merepotkan mereka dengan harus dan membuat mereka merasa memiliki kewajiban untuk mencari tas.

Malam terakhir kami di Enggano, adalah malam dimana pekerjaan kami sudah hampir selesai. Ketika kami tengah duduk dalam gelap, karena belum ada akses listrik disini, munculah Pa A Buki, dengan membawa kabar baik. Tas saya ditemukan! Seketika kami saling merangkul. Spontan saja.

Tidak hanya mereka yang masih memiliki rasa empati, mereka juga jujur. Pak Puput adalah penemu tas itu. Dia menjaga tas itu sampai berhasil menemui Pa A Buki. Tempat tinggal Pak Puput yang berjauhan dari tempat kami tinggal dan tempat tinggal Pa A Buki, menyebabkan informasi tidak sampai dengan cepat. Ditambah akses jalan yang kurang baik, dan juga tidak adanya sinyal untuk alat komunikasi.

Enggano, salah satu lokasi paling berkesan selama saya bepergian dan melaksanakan survey. Selain karena pengalaman kehilangan tas, keramahan penduduk, ikan yang besar-besar tak jarang menjadi santapan lezat kami, hutannya yang menantang karena belum terjamah, tentunya juga karena panoramanya yang luar biasa. Mengenai malaria, saya rasa itu terjadi beberapa tahun belakang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Enggano, sama sekali.