Labels

Rabu, 23 Oktober 2013

Janganlah Marah

Saya tengah membayangkan, jika saya berpasangan dengan seorang yang baik menurut sebagian orang namun dia akan menjadi pemarah yang murkanya tidak dapat ditoleransi oleh sebagian orang pula. Akan seperti apa saya?
Dia yang baik, bisa menjadi makhluk hijau besar seperti Hulk, atau seperti Wolverine yang tiba-tiba bisa mengeluarkan cakar tajam dari tangannya ketika marah besar atau merasa terganggu.
Apakah saya akan menjadi seorang yang sabar, yang memaklumi, yang menerima dan akan merangkul dengan lembut ketika pasangan saya tengah marah. 

Atau saya akan menjadi orang yang takut terhadapnya, membiarkan kemarahannya, tidak peduli bahkan menjauhi karena tidak menerima sisi menakutkan dari pasangan saya.

Atau jika saya dekat dengan seseorang yang sedang berusaha membuang sisi arogan dalam dirinya apakah saya mampu berjuang bersama-sama menahan, membantu membuang amarah dalam dirinya, seperti teman-teman si hiu dalam film kartun Finding Nemo. Ya hiu yang tengah berusaha menjadi makhluk yang baik seketika berubah garang karena mencium bau darah, dan teman-temannya dengan payah berusaha menenangkannya.

Akan ada di posisi mana saya berada jika saya berhadapan dan dekat dengan seorang yang seperti itu?

Sebagian besar diri saya memilih menjadi teman, pasangan atau sahabat yang mampu merangkul, menenangkan, dan membantu menghilangkan arogansinya.
Ya, saya berpikir demikian karena sayalah arogan itu.

Banyak yang tidak menerima kenyataan bahwa saya memiliki sisi yang sangat buruk. Mungkin pula jika saya adalah bukan saya, saya akan jengah dan tidak nyaman pula berdekatan dengan seorang yang mampu marah dan kasar seperti yang bisa saya lakukan meski tanpa menyengaja.

Lalu muncul pertanyaan sinis, lalu saya harus selalu bersikap baik meskipun saya terganggu? Lalu saya hanya akan diterima jika saya adalah anak yang baik, sopan dan tidak bertingkah? Lalu saya hanya boleh menjadi seorang yang menelan sepahit apapun perlakuan orang lain?
Jawabannya, Ya.
Karena memang seperti itulah (mungkin) seharusnya.

Sekali saja saya tidak baik, saya akan ditinggalkan. Saya hanya boleh menerima tanpa boleh protes. Kebanyakan akan takut lalu beranjak. Kebanyakan akan tidak nyaman dan pergi dengan seketika karena tersakiti, tanpa memberi kesempatan. Wajar memang demikian. Siapapun tidak ingin dilukai dan terluka. 
Lalu jika saya terluka, terima saja dengan cara yang baik.

Seperti itulah..

Tidak ada yang benar-benar menerima seseorang dengan utuh dan seutuhnya. Mungkin sayapun demikian.