Labels

Selasa, 22 November 2011

Sulawesi Barat

Pemandangan seperti ini yang hampir saja tak dilihat


Teman seperti ini yang hampir saja tak didapatkan


Petualangan seperti ini yang hampir saja terlewati


Sulawesi Barat, provinsi terakhir yang dikunjungi dari 10 provinsi di Kalimantan dan Sulawesi ini hampir saja saya memilih dan membiarkan teman yang lain untuk mendatanginya.
Bersyukur saya tetap jalani, bahkan boleh dibilang diantara semua perjalanan dinas tahun ini, Sulawesi Barat yang paling memberikan kesan lebih.

Diawali dengan kesan moda transportasi yang lain dari pada yang lain, serta bandara kecil yang sederhana. Kemudian keramahan masyarakat serta pemandangan yang memanjakan.
Mamuju adalah destinasi pertama, bergerak ke Majene lalu Polewali Mandar.

Laut adalah teman sepanjang perjalanan.. Bersih, dan indah tentunya.Salah satu yang berat dari tempat ini adalah, meninggalkannya. Mungkin karena teman-teman perjalanan yang menyenangkan juga mungkin karena keindahan tempatnya yang mengagumkan.

Ketika saya under-estimate terhadap satu lokasi, ternyata malah lokasi ini yang memberikan kesan lebih dibanding lainnya.

Senin, 21 November 2011

:'(

lost control. Ol akhhh: Hey anggie magie .
lost control. Ol akhhh: What are u doing?
anggie Magie: Ngemiiiil
anggie Magie: :D
anggie Magie: Nimbun lemak

anggie Magie: Mau gk?
lost control.
Ol akhhh: Hahahah .
lost control.
Ol akhhh: Gmna olahraganya mau suksess
anggie Magie: Olahrga sukses, kan tiap pagi

anggie Magie: Nah
sore mst sukses jg nimbun lemak .
lost control.
Ol akhhh: Hahah .
lost control.
Ol akhhh: Ada2 aja
anggie Magie: Makaaaaan
.
lost control.
Ol akhhh: Makannnnn ajaaaa
anggie Magie: Daripada marah2.. Mending makan
lost control.
Ol akhhh: Haha bnr tuhhh
lost control.
Ol akhhh: Makan yg banyak yahh biar cpt gedeee
anggie Magie: Iya.. ˚\(´▽`)/˚


Percakapan ringan melalui bbm ini menjadi percakapan terakhir antara kami.
Saya masih ingat, hari itu selasa, dimana kami masih 'bicara' dalam riang...
Lalu dia menghilang tanpa kabar, hanya statusnya yang memberikan isyarat bahwa dia sedang tidak dalam kondisi baik.
Hanya berdoa yang bisa saya lakukan.

13 Juli tepat adzan maghrib berkumandang, seorang teman memberi kabar.
Berita yang belum ingin saya terima. Saya masih berharap ada kesempatan lain..
Tapi ketika kenyataan yang harus dihadapi lain dari yang diharapkan, maka hanya lemas, sakit, pedih yang saya rasakan.

Hari rabu sore, saya kehilangan salah satu teman terbaik... Sahabat,, adik...
Dia yang pernah mengisi sebagian waktu, berbagi banyak hal baik, sampai air mata.

Saya ingat satu hari dimana kami menangis bersama, karena masing-masing kami tahu salah satu dari kami divonis akan pergi lebih dulu. Kala itu saya berharap keajaiban... Atau lebih tepatnya berharap akan apa yang dikatakan (menurut orang-orang) sang ahli adalah salah.

Masih cukup jelas pula dalam ingatan, kalimat yang diucapkan olehnya setelah itu,
"kalau nanti datang waktunya, aku minta gak akan pernah lagi ada tangis. Cukup kamu yakini, aku lebih baik saat itu."

Ternyata, ketika datang waktunya...bukan hanya air mata, tapi rasanya seluruh tubuh menangis.
Saya benar-benar kehilangan.

Namun saya yakin, tidak ada lagi sakit itu padanya.

Makassar di bulan November

Satu janji akhirnya saya tepati, meskipun saya tahu ini terlambat.
Banyak rencana yang tidak sempat dipenuhi.
Sultan Hasanuddin Airport siang itu, seharusnya tidak hanya adiknya yang berdiri disitu.

Saya ingat dulu kami pernah berpura-pura seolah kami sedang olahraga sore di Pantai Losari, tapi kali ini, saya di pantai itu menyaksikan matahari terbenam dalam bisu.
Meskipun akhirnya cerita - cerita baik tentangmu mengalir dari mulut sang adik menemani perjalanan surya menenggelamkan dirinya.

UnHas, saya dan adiknya lewati untuk sekedar mengenang tempatnya dimana dia pernah berusaha meraih gelar dokter giginya. Lalu kembali saya teringat saat dia berniat untuk melarikan diri dari Ujian Akhir, karena menurutnya tidak ada gunanya. Namun akhirnya dia tetap jalankan ujian hingga selesai.
Argh, saya jadi teringat momen-momen yang pernah kami lewati.

Sekarang, jalan cerita sudah berbeda. Dulu kami mencoba jadi sutradara amatir dalam sebuah drama, namun penulisnya adalah Sang Agung yang tak terbantahkan.

Kamu yang terbaring disana...
waktu singkat yang pernah ada, berbekas hingga sedalam-dalamnya hati yang saya miliki.
Kamu pernah menunjukkan hal yang baik dan juga tidak, namun rasanya cela kecil itu tertutupi dengan kebaikan yang kamu miliki.
Bersyukur untuk waktu yang pernah kita miliki
Kamu tentunya tahu doa yang saya harapkan....
Terima kasih untukmu....

Semua (yang) berasal dari-Nya, akan kembali pada-Nya...