Labels

Rabu, 31 Juli 2013

Selamat Malam Penguasa Hati

Selamat malam penguasa hati...

Bolehkah saya meminta banyak hal dan menanyakan banyak hal pula?
Bolehkah?

Saya lihat hati ini banyak lebamnya, dari manakah dia berasal? Jika karena kesalahan saya sendiri, lalu mengapa kau biarkan saya merasakan ini? Atau jika asal mulanya karena dia, mengapa kau biarkan dia memperlakukan itu dengan sangat mudah? Jika dia begitu dimudahkan olehmu, mengapa sulit yang saya dapat?

Selamat malam penguasa hati...

Saya lihat hati ini tidak baik-baik, mengapa dia mengalami kondisi seperti itu? Jika karena saya menumpahkan rasa pada dia itu berasal, mengapa kau biarkan alirannya sangat deras sehingga sulit terbendung? Atau jika dia yang membiarkan semua masuk, mengapa dia tidak menampung dalam wadah yang saya kira telah dia siapkan namun ternyata tidak, sehingga semua yang mengalir hanya sekedar lewat lalu dia buang percuma. Karena itukah? Mengapa kau biarkan dia? Mengapa kau biarkan saya?

Selamat malam penguasa hati...

Saya lihat hati seakan jatuh dari sanggaannya, mengapa dia seperti itu? Apa yang saya khawatirkan ketika dia menganggap sayapun tidak? Apakah kau telah membiarkan pula saya bergantung padanya, dan berharap banyak padanya? Atau karena ego saja ketika disadarkan bahwa ketiadaan saya tak berdampak padanya, dan kehadiran sayapun tak memiliki arti?

Selamat malam penguasa hati...

Waktu pagi adalah waktu yang saya takuti, kau tahu itu. Ketika saya harus menghadapi hari yang tak sama, seperti sebelumnya. Bisakah saya meminta fajar besok menjadi sahabat saya? Hati berdamai dengan keadaan, lalu fajar lusa menjadi teman baik. Bisakah? Jika kau ijinkan hatinya tak pernah mencari saya, bisakah kau biarkan hati saya tidak menoleh padanya lalu bergegas membaik? Bisakah saya mendapat kemudahan seperti dia mendapatkan itu? Bisakah?

Selamat malam penguasa hati...

Saya sangat ingin hati ini baik-baik, kau ijinkan?



if there's no Hope

Banyak yang bilang yang namanya hidup itu akan lebih berarti jika ada yang namanya harapan. Jika harapan terpenuhi orang-orang akan bersuka cita, senang, bahagia. Sementara jika tidak terpenuhi, akan kecewa, sedih, kesal dan lain-lain. Namun tidak jarang juga beberapa orang positif dalam bersikap, ketika harapan tidak terpenuhi, sebagian mereka akan tetap tenang, lalu bangkit dan belajar.

Lalu saya termasuk kelompok mana?

Untuk beberapa hal, saya bisa sangat positif, namun sayangnya jika menyangkut hati akan menjadi kebalikannya. Maka wajar jika menyangkut hati, saya lebih memilih untuk mengenyahkan "harapan". Tapi pilihan itu hanya angan-angan, justru ketika menyangkut hatilah harapan selalu timbul dan menggebu-gebu.

Saya terkadang iri dengan mereka yang bersikap biasa ketika mereka kecewa. Bersikap acuh ketika keadaan tidak seperti yang mereka harapkan. Sementara saya? Lagi-lagi jika menyangkut hati, ketika saya kecewa dampaknya sangat luar biasa. 

Saya bosan dengan harus selalu tiba-tiba demam, tiba-tiba asam lambung meningkat, tiba-tiba sakit kepala, tiba-tiba tidak bisa berbuat apa-apa untuk sesuatu yang diakibatkan oleh kecewa. 

Pada akhirnya saya tidak ingin berteman dengan harapan jika dia dekat dengan rasa sakit yang mengakibatkan sakit pada bagian yang lain. Namun nyatanya bagaimana? Harapan selalu bergelayut dalam hati saya. Artinya kecewa dapat mudah meresap dan sakit seperti selalu tampak jelas.

Seandainya saja harapan tidak ada