Banyak yang bilang yang namanya hidup itu akan lebih berarti jika ada yang namanya harapan. Jika harapan terpenuhi orang-orang akan bersuka cita, senang, bahagia. Sementara jika tidak terpenuhi, akan kecewa, sedih, kesal dan lain-lain. Namun tidak jarang juga beberapa orang positif dalam bersikap, ketika harapan tidak terpenuhi, sebagian mereka akan tetap tenang, lalu bangkit dan belajar.
Lalu saya termasuk kelompok mana?
Untuk beberapa hal, saya bisa sangat positif, namun sayangnya jika menyangkut hati akan menjadi kebalikannya. Maka wajar jika menyangkut hati, saya lebih memilih untuk mengenyahkan "harapan". Tapi pilihan itu hanya angan-angan, justru ketika menyangkut hatilah harapan selalu timbul dan menggebu-gebu.
Saya terkadang iri dengan mereka yang bersikap biasa ketika mereka kecewa. Bersikap acuh ketika keadaan tidak seperti yang mereka harapkan. Sementara saya? Lagi-lagi jika menyangkut hati, ketika saya kecewa dampaknya sangat luar biasa.
Saya bosan dengan harus selalu tiba-tiba demam, tiba-tiba asam lambung meningkat, tiba-tiba sakit kepala, tiba-tiba tidak bisa berbuat apa-apa untuk sesuatu yang diakibatkan oleh kecewa.
Pada akhirnya saya tidak ingin berteman dengan harapan jika dia dekat dengan rasa sakit yang mengakibatkan sakit pada bagian yang lain. Namun nyatanya bagaimana? Harapan selalu bergelayut dalam hati saya. Artinya kecewa dapat mudah meresap dan sakit seperti selalu tampak jelas.
Seandainya saja harapan tidak ada