Hei..
Jangan menangis..
Kamu sudah terbiasa berbesar hati bukan?
Jangan menangis,
Saya mungkin tidak akan menjadikan semua baik-baik
Namun saya bisa mendampingi sampai kamu merasa baik
Jangan menangis,
Jika gundah tidak pernah ada, tidak pula kamu akan mengerti tenang
Jika sedih tak pernah datang, senang menjadi tidak luar biasa.
Jangan menangis,
Sampai habis waktunya, saya akan dampingi
Jangan menangis,
Saya menyayangimu bahkan mungkin hingga lewat masanya.
Rabu, 18 September 2013
Diraih Bukan Dialami
Kembali bicara mengenai pencapaian. Layaknya manusia yang telah meraih sesuatu utamanya yang diidamkan, saya jelas akan senang dan lebih dari itu, saya akan bahagia.
Ya, saya mengerti bahwa bahagia adalah harus dicapai bukan sekedar dialami. Lalu kini? Saya hanya tengah mengalami bahagia.
Saya sedang addict (mungkin) terhadap sesuatu, ya, kebersamaan dengan seseorang. Yang saya tahu pasti ini hanya sementara. Mungkin malam ini, besok pagi, atau beberapa hari mendatang itu akan lenyap. Tapi jelas membekas dalam diri saya.
Saya berpikir dan berpikir ulang, saat ini jika dibuat perumpamaan saya sedang asyik dengan zat adiktif yang bisa membuat saya tersenyum, tertawa, sekaligus sedih. Saya kecanduan.
Besok ketika zat itu tidak ada lagi saya juga tahu saya akan mengalami sakit seperti layaknya pemadat yang sedang mengalami sakau. Tapi juga melepaskan,..oke...sebut saja kebiasaan, kebiasaan ini tidak juga membuat tenang.
Oh, (tanpa bermaksud sinis) hanya berpihak pada saya saja tentunya dilema ini. Lagi-lagi seperti zat adiktif itu, zat itu tidak akan terpengaruh sama sekali jika saya mendekati atau menjauhi sekalipun.
Seandainya ini terjadi pada orang lain, dan saya adalah penonton yang berhak memberi komentar, saya akan terang-terangan mengatakan sudahi dan jangan semakin tebuai.
Saya tidak terbuai, dan bukan tanpa usaha juga saya ingin menyudahi. Berkali-kali pernah saya coba namun saya hanya mendapati diri saya sakit fisik dan hati. Lalu saya beranggapan, saya hanya belum siap.
Sore tadi terlintas, bagaimana jika ini membuat saya trauma. Bukan bermaksud drama. Tapi apa sebenarnya rencana yang disiapkan untuk saya? Saya rasanya berbuat sebaik yang seharusnya. Lalu beruntun akhirnya seperti yang sebelum-sebelumnya. Argh, lagi-lagi saya pamrih.
Ya, bisa jadi setelah ini saya enggan mencoba lagi.
Saya tahu betul rasanya bahagia, seperti halnya sakit dan sedih. Tapi saya benar-benar ingin meraih dan mencapai kebahagiaan, tidak hanya mengalami. Yang cukup dialami hanyalah sedih dan sakit itu.
Kamis, 12 September 2013
Achievement
Saya rasa sebagian besar manusia selalu menginginkan hal yang mapan, stabil dan sepertinya jarang ada yang menginginkan sesuatu hal yang tanpa pencapaian.
Layaknya pekerja yang selalu ingin menapaki jenjang karir, mendambakan jabatan yang tidak terhenti di level "bawahan", tak jarang yang menginginkan kekuasaan dan banyak lainnya.
Begitu pula menurut saya terkait dengan hubungan antar manusia itu sendiri, khususnya dengan seseorang yang bisa dikatakan dekat dengan dia, atau lebih eksplisitnya adalah seseorang yang dia sayang.
Umumnya manusia jika diberi rasa suka, rasa sayang, dia akan ingin selalu dekat dengan orang yang dimaksud, dan kebanyakan akan mengukuhkan menjadi pasangannya lalu hidup bersama selamanya. Termasuk saya, selalu mengharapkan hal itu bisa terjadi pada diri saya.
Berpasangan memang lebih baik, lebih menyenangkan dan fakta dari berbagai risetpun membuktikan bahwa memiliki pasangan membuat seseorang lebih bahagia, dengan garis bawah pasangan yang dia inginkan, bukan paksaan dan bukan karena keharusan.
Saya sebelumnya adalah orang yang sinis ketika mendengar kalimat, Saya bahagia jika kamu bahagia, meskipun kamu dengan orang lain. Menurut saya, keikhlasan seperti itu sebenarnya menyakitkan dan terlalu dibuat-buat.
Percaya atau tidak, saya sekarang ada di posisi itu. Bukan konteks bahagianya yang tengah saya alami, namun kerelaan (karena tidak juga dapat dikatakan ikhlas) untuk dia (orang yang saya care terhadapnya) berpasangan dengan yang lain.
Lalu apa hubungannya dengan bahasan di awal? Ya, ketika kita atau lebih tepatnya saya, peduli dan menyukai seseorang, saya ingin dekat dengan dia, dan pencapaiannya adalah bisa hidup bersama sampai tua. Jenjang yang meningkat seperti itu tidak beda jauh dengan karier toh.
Selama ini saya melakukan sesuatu hal yang seperti dikatakan tadi, bahwa saya berharap ada pencapaian dari setiap apa yang tengah saya usahakan.
Lalu kini? Saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya peduli terhadap seseorang dan dekat dengannya, saya berusaha untuk menjadi orang yang reliable untuknya, saya mengasihinya, namun sekaligus saya dihadapkan bahwa tidak lama lagi dia akan berpasangan dengan seseorang yang sayangnya bukan saya.
Saya melakukan dan mengusahakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada achievement-nya. Jika saya membayangkan di depan sana adalah dia dengan yang lain, tanpa perlu saya jabarkan mengenai perasaan, itu benar-benar bisa membuat saya terkulai.
Saat ini, saya bahagia dan sekaligus sedikit tidak bahagia ketika dekat dengannya. Bukan hal yang luar biasa jika saya pilih tetap dekat dengannya kan?
Entah apa yang saya lakukan. Saya juga sedang tidak dapat memilah yang baik dan yang tidak untuk diri saya,
Pada akhirnya saya hanya berpikir, ini hanya proses belajar saya yang lain mengenai hal yang semestinya saya sudah pahami betul. Saya jalankan sesuai skenario yang ditulis bukan oleh saya, tanpa berharap sedikitpun darinya dan dari apapun.
Mungkin saja pencapaian lain yang tak terbayangkan yang akan saya dapatkan di depannya, yang optimisnya dapat menjadikan saya lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)