Kembali bicara mengenai pencapaian. Layaknya manusia yang telah meraih sesuatu utamanya yang diidamkan, saya jelas akan senang dan lebih dari itu, saya akan bahagia.
Ya, saya mengerti bahwa bahagia adalah harus dicapai bukan sekedar dialami. Lalu kini? Saya hanya tengah mengalami bahagia.
Saya sedang addict (mungkin) terhadap sesuatu, ya, kebersamaan dengan seseorang. Yang saya tahu pasti ini hanya sementara. Mungkin malam ini, besok pagi, atau beberapa hari mendatang itu akan lenyap. Tapi jelas membekas dalam diri saya.
Saya berpikir dan berpikir ulang, saat ini jika dibuat perumpamaan saya sedang asyik dengan zat adiktif yang bisa membuat saya tersenyum, tertawa, sekaligus sedih. Saya kecanduan.
Besok ketika zat itu tidak ada lagi saya juga tahu saya akan mengalami sakit seperti layaknya pemadat yang sedang mengalami sakau. Tapi juga melepaskan,..oke...sebut saja kebiasaan, kebiasaan ini tidak juga membuat tenang.
Oh, (tanpa bermaksud sinis) hanya berpihak pada saya saja tentunya dilema ini. Lagi-lagi seperti zat adiktif itu, zat itu tidak akan terpengaruh sama sekali jika saya mendekati atau menjauhi sekalipun.
Seandainya ini terjadi pada orang lain, dan saya adalah penonton yang berhak memberi komentar, saya akan terang-terangan mengatakan sudahi dan jangan semakin tebuai.
Saya tidak terbuai, dan bukan tanpa usaha juga saya ingin menyudahi. Berkali-kali pernah saya coba namun saya hanya mendapati diri saya sakit fisik dan hati. Lalu saya beranggapan, saya hanya belum siap.
Sore tadi terlintas, bagaimana jika ini membuat saya trauma. Bukan bermaksud drama. Tapi apa sebenarnya rencana yang disiapkan untuk saya? Saya rasanya berbuat sebaik yang seharusnya. Lalu beruntun akhirnya seperti yang sebelum-sebelumnya. Argh, lagi-lagi saya pamrih.
Ya, bisa jadi setelah ini saya enggan mencoba lagi.
Saya tahu betul rasanya bahagia, seperti halnya sakit dan sedih. Tapi saya benar-benar ingin meraih dan mencapai kebahagiaan, tidak hanya mengalami. Yang cukup dialami hanyalah sedih dan sakit itu.