Saya rasa sebagian besar manusia selalu menginginkan hal yang mapan, stabil dan sepertinya jarang ada yang menginginkan sesuatu hal yang tanpa pencapaian.
Layaknya pekerja yang selalu ingin menapaki jenjang karir, mendambakan jabatan yang tidak terhenti di level "bawahan", tak jarang yang menginginkan kekuasaan dan banyak lainnya.
Begitu pula menurut saya terkait dengan hubungan antar manusia itu sendiri, khususnya dengan seseorang yang bisa dikatakan dekat dengan dia, atau lebih eksplisitnya adalah seseorang yang dia sayang.
Umumnya manusia jika diberi rasa suka, rasa sayang, dia akan ingin selalu dekat dengan orang yang dimaksud, dan kebanyakan akan mengukuhkan menjadi pasangannya lalu hidup bersama selamanya. Termasuk saya, selalu mengharapkan hal itu bisa terjadi pada diri saya.
Berpasangan memang lebih baik, lebih menyenangkan dan fakta dari berbagai risetpun membuktikan bahwa memiliki pasangan membuat seseorang lebih bahagia, dengan garis bawah pasangan yang dia inginkan, bukan paksaan dan bukan karena keharusan.
Saya sebelumnya adalah orang yang sinis ketika mendengar kalimat, Saya bahagia jika kamu bahagia, meskipun kamu dengan orang lain. Menurut saya, keikhlasan seperti itu sebenarnya menyakitkan dan terlalu dibuat-buat.
Percaya atau tidak, saya sekarang ada di posisi itu. Bukan konteks bahagianya yang tengah saya alami, namun kerelaan (karena tidak juga dapat dikatakan ikhlas) untuk dia (orang yang saya care terhadapnya) berpasangan dengan yang lain.
Lalu apa hubungannya dengan bahasan di awal? Ya, ketika kita atau lebih tepatnya saya, peduli dan menyukai seseorang, saya ingin dekat dengan dia, dan pencapaiannya adalah bisa hidup bersama sampai tua. Jenjang yang meningkat seperti itu tidak beda jauh dengan karier toh.
Selama ini saya melakukan sesuatu hal yang seperti dikatakan tadi, bahwa saya berharap ada pencapaian dari setiap apa yang tengah saya usahakan.
Lalu kini? Saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya peduli terhadap seseorang dan dekat dengannya, saya berusaha untuk menjadi orang yang reliable untuknya, saya mengasihinya, namun sekaligus saya dihadapkan bahwa tidak lama lagi dia akan berpasangan dengan seseorang yang sayangnya bukan saya.
Saya melakukan dan mengusahakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada achievement-nya. Jika saya membayangkan di depan sana adalah dia dengan yang lain, tanpa perlu saya jabarkan mengenai perasaan, itu benar-benar bisa membuat saya terkulai.
Saat ini, saya bahagia dan sekaligus sedikit tidak bahagia ketika dekat dengannya. Bukan hal yang luar biasa jika saya pilih tetap dekat dengannya kan?
Entah apa yang saya lakukan. Saya juga sedang tidak dapat memilah yang baik dan yang tidak untuk diri saya,
Pada akhirnya saya hanya berpikir, ini hanya proses belajar saya yang lain mengenai hal yang semestinya saya sudah pahami betul. Saya jalankan sesuai skenario yang ditulis bukan oleh saya, tanpa berharap sedikitpun darinya dan dari apapun.
Mungkin saja pencapaian lain yang tak terbayangkan yang akan saya dapatkan di depannya, yang optimisnya dapat menjadikan saya lebih baik.