Dekat dengan anak kecil menurut saya hal yang luar biasa. Mereka adalah guru di beberapa situasi, juga obat hati yang cukup ampuh serta mereka pula yang dalam banyak kesempatan selalu memberikan bahagia, tanpa batas.
Tidak seperti sebagian orang, yang menganggap bahwa anak - anak adalah monster menakutkan, saya selalu menyukai anak - anak, oke, mungkin tidak semua anak, dan wajar pula jika tidak semua anak pula menyukai saya.
Namun dalam lingkungan terdekat saya, saya dikelilingi empat anak luar biasa. Kesemuanya lelaki yang memiliki cerita yang tak ada habisnya. Celoteh yang selalu membuat kagum, tingkah konyol dan kadang bisa membuat saya terperangah kagum, juga sikap yang tak bosan untuk diperhatikan.
Seperti yang telah disebutkan, bahwa mereka adalah guru di beberapa situasi, ya, belajar ketulusan bahkan saya lebih bisa memahami dari mereka. Memaafkan dan mencintai tanpa syarat, adalah pelajaran keseharian mereka yang tanpa mereka sadar tengah ditularkan pada saya.
Mereka adalah obat hati, dan benar-benar cukup ampuh. Seperti halnya siang yang pastinya akan ada malam, maka hidup tidak pula selalu terang. Ada kala saya merasa terpuruk dan dunia sedang tidak ramah pada saya, mereka datang selalu dengan membawa ceria. Meskipun ketika merengek dan menangis, tapi dekat dengan mereka selalu bisa meredam ketidak adilan yang saat itu dirasakan.
Saya tidak pernah bosan menceritakan mereka, seperti halnya mereka yang tidak pernah bosan membuat saya tersenyum, tertawa.
Dari mereka pula, akhirnya saya sampai pada titik dimana dunia tidaklah "sulit", dari mereka pula saya belajar untuk gigih, dan dari mereka pula saya melihat dunia dari sisi lain.
Tapi cukup mengenai saya, waktunya mengenai mereka
Issa Oikawa
Dari namanya saja, sudah bisa ditebak, bahwa dia bukan sepenuhnya berdarah Melayu. Ya, dia adalah hasil "perkawinan silang" Melayu dan Nihon (Jepang). Dia adalah satu-satunya putra kakak lelakiku, yang mana 11 tahun lebih lalu menikahi perempuan Jepang, dan tinggal disana.
Kesempatan untuk dekat dengan anak lelaki ini baru didapat sebulan lalu, yang mana pertemuan terakhir sebelumnya adalah 9 tahun yang lalu. Lalu ada kesulitan untuk dekat dengannya? Bersyukurnya tidak. Bahasa terkadang menjadi kendala, tapi ini lagi pelajaran yang bisa diambil,bahwa bukan satu halangan mengenai budaya, bahasa dan hal lainnya.
Ketika sebulan lalu dia muncul di depan pintu, dia membelalakan matanya lalu tersenyum lebar. Setelah itu kami menjadi sangat dekat.
Bahkan saya terkadang kewalahan menjaganya, karena seperti layaknya anak lelaki kebanyakan, mereka selalu tertarik untuk bermain yang melibatkan fisiknya. Saya yang sudah tidak muda lagi, terkadang merasa kelelahan lebih dulu.
Suatu waktu dia bilang sama ayahnya dengan Bahasa Jepangnya, "selama apapun Ayah kerja, mau sampai malampun tidak masalah, selama ada Anpanman". Anpanman, ya, sayalah si manusia bapau yang dia maksud.
Dia memang menjadi sangat dekat dengan saya, bahkan ketika Ayahnya akan berangkat ke suatu tempat, dan saya juga akan pergi, dia memilih ikut dengan saya.
Banyak hal lucu semenjak dia ada di rumah kami. Bagaimana saya menggambarkan dia? Mungkin tepat jika saya bilang dia adalah tokoh dalam Manga yang penuh ekspresi dan selalu bertingkah konyol namun juga menjadi favorit pembacanya.
Dia hobi membaca komik, juga dia hobi menggambar komik. Hebatnya, dia bisa menggambar dengan sangat bagus, dan dia juga merupakan anak yang minat belajarnya cukup baik.
Satu malam, dia dengan bukunya duduk di lantai. Tidak lama, dia pindah ke tempat tidur. Lalu dengan mata mengantuknya, dia menampar pipinya yang merah berkali-kali. Saya tanya kenapa, dia menggeleng. Saya lanjut bertanya, apa dia mengantuk, dia mengangguk. Saya bilang, tidak boleh menampar pipi begitu, kalau mengantuk, tidur saja. Dia menjawab, Issa harus belajar, dan menampar pipi untuk menghilangkan kantuknya.
Banyak cerita mengenai Issa, meskipun baru sebulan dia tinggal di Bandung, dan meskipun hanya Jumat, Sabtu dan Minggu pula saya berkesempatan menemuinya.
Arghaza Ghafaralli
Seperti namanya dia memiliki watak yang keras, dan bersama bocah ini saya menghabiskan banyak waktu. Dia merupakan satu alasan kenapa saya sangat ingin pulang jika saya berada di kota lain, dan akan menjadi sangat kecewa jika dia tidak ada di rumah, entah menginap di tempat ibunya, atau di tempat ayahnya.
Dia adalah istimewa menurut saya, karena di usianya dia harus paham dan toleransi terhadap banyak keadaan yang tidak semua anak mengalaminya.
Dia tinggal dengan ibu saya dari usianya empat tahun, dan kini dia berusia 10 tahun, dia satu bulan lebih muda dari Issa. Di usia yang keempat dia harus mengalami peristiwa yang tidak satupun keluarga menginginkan hal itu menimpanya. Dia harus ketakutan dan berlindung di balik pintu ketika ada satu kejadian berhasil membuatnya ketakutan. Sementara orang yang seharusnya melindungi bergumul dalam pertikaian.
Gagha nama panggilannya adalah lelaki kecil yang penyayang dan juga memiliki hati yang sensitif. Dia berkali didapati menangis dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal, ketika melihat tontonan mengenai keluarga di televisi.
Karena berbagai kejadian yang mungkin bagi sayapun adalah suatu hal yang cukup berat, maka dia lebih mendapat perhatian. Mungkin orang bilang, saya memanjakan dia. Tapi selalu ada alasan untuk suatu hal.
Jika dia ditanya, siapa Magie? Jawabnya adalah kakak. Ya, kami adalah sedekat kakak-adik yang akur, lebih dari keponakan dan tantenya.
Dia sangat hobi sepakbola, tenis dan baseball. Dia hafal nama-nama pemain bola dan asalnya daripada nama menteri negaranya.
Dia juga menyukai beberapa hal yang saya sukai, yang membuat kami semakin dekat. Lego, mengenal dunia, dan menonton acara National Geographic. Dia bisa berjam-jam bermain bola dengan bola kecilnya dalam kamar, dan heboh sendiri dengan teriakannya yang melengking. Namun seketika dia bisa tiba-tiba duduk di lantai dan menghafal bendera-bendera dari berbagai dunia, lalu berlari ke arah saya untuk bermain tebak-tebakan asal negara bendera yang ia tunjuk.
Menciumi pipinya adalah hobi saya, pipi yang lembut kencang dan montok, Apalagi jika melihat dia tertidur, dia mungkin tidak sadar saya sering memperhatikannya dan memeluknya. Siapa yang tidak kagum dengan kedamaian yang ditawarkannya ketika tidur?
Aufa Dinata
Dia adalah anak lelaki yang memiliki kepintaran yang luar biasa. Dia adalah anak yang selalu banyak bertanya, dari satu pertanyaan berkembang menjadi ribuan pertanyaan. Dia juga adalah anak yang mudah mengerti. Dia sering melaporkan kemajuan belajar mengajinya, meskipun kami berjarak ribuan kilometer. Dia tinggal di Duri - Riau dan berusia 5 tahun.
Dia juga adalah anak yang tertib, aturan yang ibunya buat dia turuti dan dia lakukan dengan baik. Meskipun terkadang "melenceng" itu adalah satu kewajaran.
Dia anak yang jujur pula, dan tidak mau berbuat curang.
Satu waktu saya memberinya permen, yang mana permen adalah makanan yang dilarang untuk dia. Boleh dimakan tapi itupun sangat jarang. Saya bilang, jangan bilang ibu ok? dia mengangguk kesenengan dan melahap permennya. Sambil mengulum permennya, dia berlari mendekati ibunya, lalu menyeringai ibunya sambil berkata, "Ibu, Au makan permen".
Walaupun kami bertemu tidak setiap waktu, tidak setiap hari, dan juga tidak setiap saat berkomunikasi, namun kami sangat dekat.
Aufa kedapatan bercerita pada ibunya, dia menceritakan keadaan rumah di Bandung, lalu dia menceritakan kegiatan masing-masing penghuni rumah Neneknya. Ketika dia menceritakan kegiatan yang Magie-nya lakukan, dia bilang Magie kerja di Jakarta, rumahnya di Bandung. Ibunya bertanya Au lebih suka Magie dimana? Dia seketika menjawab, kalau Au di Bandung, Au lebih senang Magie di Bandung.
Mengenai kedekatan kami, anak ini hafal dengan suara saya. Maka jika saya pulang malam, dan sudah waktunya dia tidur, saya berbicara sedikit saja jauh dari kamarnya. Dia akan segera menghambur keluar lalu kami bermain untuk beberapa waktu. Hanya ibunya saja rasanya yang dongkol jika peristiwa ini berulang dan berulang terjadi.
Anak ini memiliki kreativitas yang tinggi, permainan berfikir dan membutuhkan daya imajinasi adalah kesukaannya. Dia juga hobi dengan Lego, dan selalu memiliki inovasi dalam membangun bata-bata Lego. Dia juga hobi bermain catur yang tentunya tidak semua anak menyenangi permainan ini.
Ail Beean Ibrahim
Adik kecil dari Aufa ini sebentar lagi berusia 3 tahun.
Dia selalu berlari kesana kemari tidak mau diam, dan tidak punya rasa takut.
Dia akan memanjat kursi lalu teralis jendela tanpa sedikitpun ada rasa was-was. Dia akan memanjat meja lalu duduk kemudian melompat.
Kami yang ngeri melihatnya, tapi dia adalah balita enerjik dan memiliki sepuluh kali lebih besar keberanian dari pada kami penontonnya. Lengah pengawasan sedikit dia tiba-tiba bisa berada di pinggir kasur, atau di tepi tangga, terkadang hanya ingin mengolok-olok kami yang jauh lebih tua darinya tapi "penakut".
Ketertarikannya pada WC (Water Closet) sangat tidak bisa dipahami. Jika dia diminta menggambar sesuatu, dia akan menggambar kamar mandi lengkap dengan isinya, bahkan satu paket dengan orang yang sedang (maaf) buang hajat.
Jika diminta membangun sesuatu dari bata-bata Lego, diapun akan melakukan hal yang sama. Dia akan membuat WC dan orang yang sedang menggunakannya.
Hobi lainnya adalah nungging. Yiay, dari umur beberapa bulan sampai sekarang dia sangat senang melakukannya, bahkan sekarang sudah sampai pada Koprol.
Ibu saya, setiap kali melihat Ail melakukan ini akan mengelus-ngelus dada karena khawatir tapi juga sekaligus takut.
Ail adalah anak manis, menurut orang yang melihatnya, penurut dan pendiam. Itu jika dia di luar. Coba saja lihat dia jika di rumahnya atau di rumah di Bandung. Dia adalah jago kandang dengan berbagai keajaibannya. Dia adalah anak yang suka berceloteh lalu bisa tiba-tiba bernyanyi sendiri, entah lagu apa yang dinyanyikan.
Dia juga bisa tanpa sadar memaksa kita untuk olahraga, Karena mengejar-ngejar anak ini sama dengan mengejar bola bekel yang bisa memantul tidak beraturan dan sangat lincah.
Issa dengan komiknya, Gagha dengan Olahraganya, Aufa dengan Lego dan Caturnya, dan Ail dengan WC-nya. Mereka punya keunikan masing-masing. Hobi yang unik, sifat yang unik, karakter yang unik, kebiasaan yang unik, dan menghadapi mereka dengan cara yang unik pula.
Yang pasti, bersama mereka selalu senang meskipun terkadang capai ngos-ngosan. Bersama mereka selalu tertawa, dan sayapun selalu riang. Ya, karena mereka adalah bahagia,....yang tanpa batas.
