Entahlah mesti prihatin atau sama sekali tidak peduli, namun yang pasti saya lebih menikmati percakapan dengan menggunakan Bahasa Indonesia sewaktu saya masih "muda". Katakanlah saya terlalu kolot untuk bisa menerima kreativitas yang dibuat segelintir orang yang akhirnya bisa "mewabah".
Jika memang diumpakan sebagai virus, bakteri, atau fungi, bahasa - bahasa dan atau kalimat 'baru' ini telah menjadi epidemi yang menyebar.Sayangnya bukan hanya di satu kawasan, tetapi sudah menyebar, bahkan hampir sampai ke pelosok.
Namun saja, memang tidak menimbulkan penyakit (mungkin), tapi setidaknya, menurut saya, mengurangi kadar tata krama dan sopan santun. Terus terang, awalnya saya tidak peduli, tapi ketika berkali-kali saya merasa 'dimatikan' dengan beberapa kalimat baru yang menurut orang sedang trend dan gaul, saya menjadi malas berkata-kata lagi.
Ketika sedang adu argumen, lalu ada kalimat "masalah buat lo?", saya rasa sudah tidak perlu saya lanjutkan lagi percakapannya, dengan siapapun itu.
Ketika saya bertanya, lalu dijawab dengan "mau tau banget atau mau tau aja?", seketika saya menjadi sangat tidak ingin tahu, sama sekali.
Bersyukurnya saya bukan orang yang latah, yang mengikuti trend.
Banyak kalimat atau kata-kata baru yang saya pikir tidak baik. Mungkin jika dipergunakan untuk beberapa kondisi masih bisa dianggap lucu, tapi terkadang banyak orang yang tidak dapat menempatkannya.
Tapi yang di atas masih terasa bisa dimaklumi, kadang-kadang.
Ada hal lain yang sangat mengganggu dengan kata-kata lainnya. Hal lain inilah yang menjadi pemicu saya untuk menuliskan ini disini.
Bagaimana seseorang bisa dengan mudah bicara "astajim"? Jika kata itu adalah plesetan dari astagfirullahaladzim, kenapa sulit berkata yang benar. Padahal ini termasuk kalimat yang boleh dibilang "keramat" oleh umat muslim.Lagi-lagi mungkin untuk sekedar lucu-lucuan, tapi rasanya tidak baik menurut saya.
Parahnya lagi, ada kata yang saya sampai harus geleng-geleng kepala jika ada yang menuliskan atau berkata ini : "ya oloh". Jika ini merupakan plesetan dari "YA ALLAH", betapa sulitnya ya memanggil nama Sang Pencipta dengan benar. Jika mengucapkan nama-Nya saja sudah berani dibuat main-main, maka saya tidak heran jika kalimat lain sangat mudah dipermainkan.
Saya lebih nyaman dengan penggunaan bahasa tanpa plesetan, sebutlah saya kuno. Tapi santun dan berkata benar, tidak mengenal waktu, saya rasa.
Kemana perginya Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar?