Labels

Kamis, 16 Desember 2010

ekspose

Hari sesudah hari ini, merupakan hari yang pikuk.
Mulai dari matahari beringsut naik, sepertinya gerak terbatas.
Menghadiri workshop hingga matahari tepat di atas kepala,
kemudian saya membayangkan saya harus mengendap-endap untuk dapat 'melarikan diri' dari situ agar dapat menghadiri ekspose terakhir laporan yang tengah dibuat.

Sangat-sangat berharap ekspose terakhir nantinya memberikan performance yang baik, tidak seperti sebelumnya.

Setelah itu, berkurang satu pekerjaan yang sudah berbulan-bulan selalu dipikirkan, namun tidak selalu dikerjakan.
Tentunya setelah itu (lagi-lagi) akan merasa ada yang hilang.
Kehilangan ritme salah satunya.

Rabu, 15 Desember 2010

Pak Sopir

Seperti biasa, selesai acara keluarga untuk sebagian yang bisa nyetir dan para sopir wajib mengantarkan saudara-saudara..
Pak Tatang sopir Ibu sepuh mengantarkan adik ibu sepuh dibarengi ibu sepuhnya sendiri...
Kami yang sudah selesai mengantar kembali ke tempat.
Pak Tatang adalah yang terakhir yang kembali.
Anehnya dia hanya sendiri...

Anak mertua ibu sepuh serta merta menanyakan ibunya...
"Ibu Sepuh mana????!"
Pak Tatangpun dengan linglung tapi polos menjawab, "hah?mmm ketinggalan..."
Kontan anak mertua kesal, "Kalau sandal karet yang ketinggalan, wajar... Ini majikan sendiri???!!!".
"Saya jemput lagi pak?", pak Tatang bertanya lagi, yang makin membuat kami geleng-geleng kepala.
"Gak usah, biarin aja!", jawab anak mertua.
Pak Tatang lalu duduk hendak beristirahat, "ooo ya sudah..."

"JEMPUUUUUT!!!", kami dan anak mertua serta merta berteriak...

Selasa, 14 Desember 2010

Bangunkan Saya

Benar - benar waktu yang 'tepat'
Penghujung tahun dihadapkan dengan kehilangan orang yang (pernah) ada untuk selamanya...
Anggota keluarga yang tengah tidak sehat yang menjadikan hati terkadang miris..
Lalu kini, harus menghadapi hal lain yang mendorong saya pada keadaaan yang tak baik...

Menutup wajah berharap ketika membukanya semua akan kembali pada situasi sebelum hari ini.
Namun kenyataannya tidak demikian.

Seperti inikah caranya?
Setiap detak dalam detik, sesak.

Entah ada apa dengan bulan Agustus dan Desember, selalu saya merasakan yang lain.

Saya seperti sedang bermain poker, saya mempertaruhkan semua yang ada, lalu kalah telak dan bangkrut. Tak lagi dapat bermain selama tidak memiliki cukup uang.
Menunggu terisi dengan sendirinya.
Butuh waktu.

Seperti itulah, tiba-tiba kosong..
Lunglai...

Obat menjadi racun..

Saya tak akan pernah mengumpat,
Tak akan pernah pula berkata tak ada pengaruhnya ada dan tidak adanya siapapun atau apapun itu.
Karena saya tak pernah tahu, kelak akan seperti apa.

Mungkinkah selama ini sebenarnya saya tengah bermimpi, lalu tiba-tiba terbangun dalam situasi yang saya kenal. Yaitu sakit.
Atau sebaliknya, hari-hari sebelumnya saya tengah terjaga, lalu sekejap saat ini tengah tertidur dan diberi mimpi buruk?

Jika benar demikian, maka bangunkan saya ketika Desember berakhir...

Selamat Pagi Sahabat

Lengkap di pagi yang tidak terlalu cerah...
Menuliskan ini, bukan untuk menyalahkan...

Sahabat, tiba-tiba saya teringat satu waktu, dimana saya harus membuang setan dalam diri saya.
Karena perintah, masukan dan karena saya tahu kamu menyayangi saya.

Seratus hari lebih yang lalu, kamulah yang meminta saya untuk banyak berubah.
Untuk saya yang lebih baik dan untuk kebaikan orang disekitar saya, terutama yang paling berarti.

Saya yang biasanya diam, menjadi (agak) banyak berceloteh
Saya yang biasanya merasa tidak perlu mengirim dan menuliskan kalimat manis, menjadi banyak mengumbar.
Saya yang biasanya merasa tidak perlu mengungkapkan isi hati, menjadi kecanduan untuk selalu menyatakan apa yang ada dan seadanya.

Tapi lihatlah sekarang...
Apa yang saya dapat...
Diabaikan lalu dibuang...

Senyum miris, lalu tangis...

Berangsur setan dalam hati saya kendalikan, tapi sakit yang saya terima.

Sahabat, inilah tulus yang ingin kamu ajarkan..?
Menerima apapun hanya cukup berlapang dada, lalu sakit saya rasakan sendiri.

Menyayangi bukan hal mudah bagi saya,
Namun lebih tidak mudah lagi bagi saya untuk menjadi orang sebaik yang kamu harap.

Luka...luka dan luka yang ada, tidak dapat dibagi.
Kebaikan yang kamu ajarkan semoga tidak lantas hilang, karena tersakiti.

Ini waktu tergelap lainnya bagi saya.
Apa yang saya harapkan?
Mungkin saya biarkan yang lain mengendalikan saya jika itu memang baik.

Tenangkan saya, tidak hanya menggenggam
Buat saya diam, lalu lindungi saya...
Melewati ketidak teraturan hari dan hati, kegaduhan dan ketakutan..

Sedang tak tahu cara tertawa dan menangis yang benar..
Semenjak...
Semoga hati tak lagi terkunci rapat...

Menjadi baik, selalu itu yang diinginkan..
Tak pernah mengira akan seperti ini..

Saya tahu, bukan seperti ini pula yang kamu inginkan..
Saya kembali ada disatu keadaan dimana semua terasa hambar.
Tak perlu diceritakan seperti apa sakit ini, karena saya yakin kamu tahu.

Sahabat..
Ini bukan bentuk protes, saya yakin apa yang kamu minta kala itu akan baik untuk saya satu waktu.

Sahabat...
Saya yakin, saat ini jika saya ungkapkan apapun yang dapat membuat saya seperti ini.
Bukan hanya bahu yang dapat disandarkan, tapi hati yang dapat merangkul.



UNTUK :

Mamo, Rna, Rdie, Ica, Oji, Unyil, Ranie, Opik, Bude, Tami, Hesty, De'o, Bos Asep, Pahenk, Bos Cep, Deli, Budin, Goler, dan semua sahabat yang selalu mengajarkan dan membuat hati menjadi luas...
Memiliki dan menyayangi kalian, adalah abadi.

Tinggalkan...

Setahu saya, ketika dua orang memutuskan untuk memiliki hubungan, adalah berdasarkan kesepakatan bersama, maka selanjutnya komitmen akan hadir dengan sendirinya.
Lalu jika ingin mengakhirinya, sepantasnya berdasarkan keinginan bersama pula, atau setidaknya menanyakan kepada salah satunya meskipun hanya sekedar basa basi.

Entah terlalu sulit, atau bahkan sebaliknya, terlalu mudah jika salah satunya cukup dengan membalikkan badan untuk pergi dan meninggalkan semua tanpa bekas.
Terlalu sulit untuk menjadi jiwa yang bermoral, untuk setidaknya menghargai. Padahal jikapun bertanya secara baik-baik, belum tentu ada rengekan meminta untuk merubah keputusan.

Saya yang pernah memutuskan untuk memilih menjadi orang yang tidak ingin menyakiti, jika dihadapkan pada posisi demikian, saya tentunya tidak akan menempatkan diri sebagai pasangan yang 'lari' lalu menuliskan beberapa kalimat perpisahan tanpa persetujuan.
Saya sudah belajar...

Jikapun saya diposisikan sebagai yang ditinggalkan, tidak akan saya mempersulit semuanya.
Menyulitkan untuk diri saya sendiri jika memang saya masih boleh menjadi orang yang egois.
Bukan karena tidak ingin berjuang...
Trauma itu yang kembali...

Bukan sekali dua kali pahit dicicipi, dan semakin saya berusaha semakin mengoyak hati dan jiwa.
Tidak akan saya meminta untuk perubahan..
Bukan karena gengsi, hanya usaha untuk membuat diri tidak kembali terjembab.

Hanya memandang semua yang pernah tertulis adalah omong kosong.
Mudah bagi banyak orang menulis kata 'selamanya' tapi ternyata dalam hitungan hari, minggu atau bulan, itu berubah.
Atau selamanya bagi sebagian orang adalah sementara bagi saya.

Perjalanan yang pernah ada,
Sebagian dalam diri mengatakan itu adalah sia-sia
Sebagian dalam diri menyatakan itu adalah hal yang berarti.

Jika saya harus dihadapkan sebagai yang ditinggalkan.
Tidak akan ada marah, tidak pula akan ada emosi meluap dan semua yang membuat pedih makin menjalar.
Hanya berharap akan ada obat mujarab yang dapat menutup luka dalam yang tentunya membekas.

Bohong jika saya berkata saya akan baik-baik saja,
Bohong pula jika kemudian rentetan doa semoga pasangan selalu dalam keadaan baik pula akan terucap dari mulut.
Saya tidak akan mengatakan apapun lagi, karena bahkan kalimat baikpun, membuat perihnya menjadi-jadi.
Tidak akan pula saya mengharapkan pasangan jatuh atau merasakan sakit, karena tidak ada gunanya.

Setia, kali ini hanya dapat saya janjikan pada diri sendiri.
Setia pada setiap ucapan yang pernah keluar, setidaknya untuk diri sendiri.
Setia pada setiap tulisan yang pernah tertuang, hanya untuk diri sendiri.

Jika saya dihadapkan sebagai orang yang ditinggalkan...
Saya bersyukur, bukan saya yang menyakiti, meskipun mungkin dia yang meninggalkan akan merasakan sakit pula, tetapi itu adalah pilihannya.

Terbaik, itu selalu menjadi kalimat pamungkas.
Entah untuk siapa...

Senin, 13 Desember 2010

Blind

I was (not) young & I wasn't naive
I watched helpless as u turned around to leave
And still I have the pain I have to carry
A past so deep that even you could not bury if you tried

I would fall asleep
Only in hopes of dreaming
That everything would be like it was before
But nights like this it seems are slowly fleeting
They disappear as reality is crashing to the floor

After all this time
I never thought we'd be here
When my love for you was blind
But I couldn't make you see it
That I loved you more than you'll ever know
A part of me died when I let you go

After all this, why?
Would you ever wanna leave it
Maybe you could not believe it
That my love for you was blind
But I couldn't make you see it
That I loved you more than you will ever know
A part of me died when I let you go

Habis Akal

Kembali malam menjadi musuh waktu
Pagi menjadi teman berduka

Saya harusnya menyadari jika kembali ke situasi ini, selalu ada kemungkinan untuk merasakan hal ini lagi.
Takut untuk tidur, karena saya tahu ketika terbangun jauh di dalam hati ada rasa kehilangan yang teramat lalu berhasil membuat luka yang menyebar.

Berapapun banyaknya pertanyaan yang ada, tak ada jawaban terlebih jalan keluar.
Hanya berjalan kosong
Senyum dan tawa menjadi topeng

Seperti halnya orang lain. maka saya harus bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan
Namun rasanya, saya tidak melakukan kesalahan apapun
Saya merasa telah berjalan dalam rel yang ada
Tetapi saya harus terseret dalam sakit...

Semakin saya bertanya, lagi-lagi hanya pedih dan kata-kata yang saya tidak tahu mengapa saya pantas mendapatkan ini.
Seperti pasir hisap, semakin meronta maka semakin dalam terjebak.
Maka saya hanya akan diam, toh diampun saya tetap sakit.

Berdesir pedih itu
Entah... Ini yang harus saya nikmati saja lalu saya syukuri
Ataukah ada pilihan lain...

Mengikis Arogan

Kali ini
Saya merasa memang saya benar tidak lagi muda
Saya merasa tidak perlu lagi drama dalam hidup seperti dalam opera sabun, yang penuh emosi...tangis lalu tertawa..
Saya rasa saat ini dan sampai nanti, ingin dan hanya mampu menjalankan dan berperan sebagai manusia biasa tanpa lakon berlebih

Ketika mendapati sesuatu sudah sedemikian menyakitkan, lebih baik saya diam
Karena hati tidak lagi cukup kuat untuk menerima yang lebih lainnya.

Adu argumen hanya semakin mengikis hati.
Meskipun diam tidak menyelesaikan apapun.

Saya memang bergantung dengan kebiasaan.
Maka ketika ada sedikit hal yang lain, perih rasanya menyadari itu.
Lalu kembali lagi,
Entah karena benar menua atau benar sudah tak mampu, maka mengirimkan tulisan menyakitkan tak perlu lagi saya lakukan.

Saya hanya berharap, ini hanya penyakit kambuhan...
Ketika sembuh, dan saya masih bisa bertahan
Semua menjadi terasa pantas.

Selasa, 09 November 2010

MadtaRi

Sabtu malam dan kelaparan

Gajah : On, enak kayaknya malam minggu jalan ke Dago
Oon : Sekarang ?
Gajah : Klo besok itu namanya malam senin
Oon : Hayu
Gajah : Makan internet di Madtari Dago ya, ketemu disana..
Oon : ya

30 menit setelahnya

Oon : Jah dimana, aku di taman Flexi
Gajah : Ngerti Madtari gak sih? Itu yang depan BCA Dago
Oon : Gak ada
Gajah : Udah cepet ditunggu di depan BCA

1 jam setelahnya

Oon : Gak ada Jah, aku balik ke Taman Flexi
Gajah : Eh dibilang ditunggu di depan BCA
Oon : Gak ada yang namanya Madtari
Gajah : Jelas-jelas aku di depannya

1,5 jam setelahnya

Oon : Aku BALIK!!! (pundung)
Gajah : Kamu di Taman Flexi?Aku kesitu, Tunggu!

1 jam 45 menit setelah

Oon : Monyet Gajah! Udah 3 kali aku ngiterin BCA Dago, mana gak ada yang namanya Madtari??
Gajah : Tunggu, aku masih macet dari Taman Flexi
Oon : CEPEEEET

2 jam setelahnya

Oon : MANA LIHAT PAKE MATAMU, namanya MADTARI ATAU APA????
Gajah : Heh, koq jadi Mandiri ya? Dari tadi aku nunggu disini kagak baca.... hehe udah ganti ya
Oon : Keseeeeeel.....

Minggu, 24 Oktober 2010

Curang

Berbuat curang kadang memang tidak perlu sembunyi-sembunyi
Karena toh akhirnya saya tahu juga
Dengan cara apapun

Rasanya namun tetap sama
Menyakitkan

Atau mungkin yang terang-terangan ini yang membuat begitu menyakitkan

Inikah buah tangan dari sini?
Saya perlu tersenyum menerimanya atau diam kemudian pergi?

Saya sepertinya sudah cukup menjaga
Atau memang hanya perlu saya saja?
Lalu semua menjadi selalu baik?

Ketika semua pantas mati,
maka mungkin karena saya
saya yang tidak cukup dan tidak mencukupi

Rabu, 20 Oktober 2010

Cara

Sembunyi di setumpuk pasir
Jika saya seekor laba-laba pemangsa
Di gurun

Membatu tak bergerak
Jika saya seekor ular derik
Di gurun

Jika itu dapat menjadi umpan
Lalu perut tak lagi lapar

Menggerakkan ekor
Jika saya seekor tupai
Merasa terancam

Mengendus perlahan
Jika saya seekor musang
Merasa terancam

Jika itu dapat membuat saya berani
Lalu saya dapat bertindak

Bergerombol mengejar mangsa
Jika saya seekor singa
Di padang rumput yang luas

Menerjang awan mengikuti angin
Jika saya seekor burung
Bermigrasi

Jika itu dapat membuat saya nyaman
Lalu saya percaya diri

Patut mengikuti cara hewan?
Untuk mendapatkan nyaman, lalu percaya diri
Untuk mendapatkan berani, lalu bertindak
Untuk menjadi umpan, lalu kenyang dan senang

Patut mengikuti cara hewan?
Jika menginginkan seorang penggila hewan...?

Selasa, 19 Oktober 2010

Sesat

Lalu lintas pikuk
Tak ada celah untuk menerobos
Atau saya tak tahu caranya

Waktu hanya terisi kalimat
Tak ada ucapan
Terlebih perbincangan
Tak ada topik
Atau saya tak tahu caranya

Meluap dan meluap
Tak tertampung
Tak terbendung

Bagaimana bisa terasa
Menyentuhpun tak pernah
Bagaimana bisa terlihat
Menampakkanpun tak pernah
Bagaimana bisa terdengar
Suarapun tak pernah ada

Saya seperti seorang bodoh
Pemerhati yang tak mengerti
Kuat keinginan namun tak pandai

Lakukan

Jika benar pengetahuan adalah pencapaian tertinggi manusia..
maka saya ingin tahu..
Tidak pas mungkin dengan maksud kalimatnya
Tetapi saya benar-benar ingin tahu

Bukan pencapaian tertinggi mungkin
Tetapi keinginan yang paling dalam
Perlu jawaban, agar saya tahu

Saya akan lakukan itu...
untuk saya tahu
lalu saya tentukan langkah

Terkadang kita harus ambil resiko
Terutama ketika hati yakin akan apa yang kita inginkan
Yang bukan hanya untuk saat ini saja
Tetapi untuk selamanya.

Nyaman mungkin
setelah menjadi tahu

Tanna

Satu waktu...
Ketika sekelompok orang dari Pulau Tanna berkumpul dengan orang Inggris, yang pertama mereka katakan adalah,

"Kami adalah orang kulit hitam dan kalian adalah orang kulit putih. Kami adalah tinta, dan kalian adalah kertas. Kami tidak akan berguna jika tak ada kertas, begitu pula kalian, tak bermakna jika tak ada tinta yang tertuang di dalamnya.."

Mestinya seperti itu...
Hidup rukun, perbedaan tidak dijadikan pemicu perselisihan
Toh tanpa adanya si putih, si hitampun tak ada..
Tak ada istilah miskin, jika kaya tidak ada..
Tak ada istilah baik, jika buruk tak pernah ada..

Semua istimewa karena ada perbedaan..

Tidak melulu dan lantas marah lalu berperang karena ada yang tak sama..
Tapi tidak juga menjadi tak peduli..

Tak perlu memaksakan beda menjadi sama
Jika semua terlahir sama, lalu apa masing-masing kita ini?
Tak ada yang perlu dilihat, dipelajari dan dipahami..

Manusia adalah makhluk yang cenderung mudah bosan..
Karena itu mungkin lalu ada banyak hal yang tak sama
Hanya perlu bersyukur
Cara lain bersyukur adalah dengan berpikir, mengerti, toleransi lalu rukun..

Saya tak paham dengan perang yang disebabkan karena perbedaan..
Yang merasa bersih memerangi yang terlihat kotor
Yang merasa lurus memerangi yang berjalan belok dan berkelok-kelok
Seperti merekalah Tuhan itu, yang patut menghukum

Selama tidak mengganggu, tidakkah dibiarkan masing-masing berjalan dengan caranya..?
Selama tidak mengganggu, biarkan seperti itu..
Hitam putih...
Indah dan beragam...
Belajar dari sekelompok Tanna yang mengerti perbedaan..

Jika Dulu

Saya namakan pejuang,
Ya itu dulu...

Giat mencari cara untuk menjadi seorang penakluk
Selalu memiliki gagasan untuk selalu disambut

Lihat saya sekarang..

Otak yang tak lagi tajam
Entah karena menua, entah karena pengalaman
Hati yang terlalu berhati-hati
Atau hanya ketakutan semu

Tahu yang saya inginkan
Tetapi tak tahu lagi caranya

Jika dulu...
Saya masih cukup berotak
Masih cukup punya nyali...

Sekarang...
Hanya mampu berharap..
Bermimpi...
Kembali berharap...

Syukron...

Seperti biasa...barang yang dipegang, kalau sedang tidak cukup konsentrasi bisa terlepas dan atau lupa menyimpannya.
Hari ini... dompet...!
Jatuhnya tidak sadar...
Tiba-tiba ada yang mengembalikan ke kantor...tanpa ada satupun yang hilang..
Subhanallah...takjub...
Terima kasih untuk-Nya
Terima kasih juga untuk pria yang mengembalikan dompet...

Selasa, 12 Oktober 2010

memburu waktu

ingin cepat lewat hari rabu..
sepertinya lebih santai..
saat ini jam 3 pagi
dan saya belum boleh tidur

mata merah
muka kusut
pemandangan yang biasa

ingin cepat lewat hari rabu...

Minggu, 10 Oktober 2010

"Pop..hari ini musibah banget, tadi pagi kena tilang, maghrib aku nabrak motor orang dari belakang, tadi siang handphoneku ilang.."

Mendapat pesan masuk dari saudara sekaligus teman terdekat membuat saya merasa simpati..

Saya segera menghubunginya, dan seperti biasa, dia selalu riang.
Saya sempat terpikir akan perlu menenangkannya, ternyata tidak sama sekali.
Untuk usia yang belum terlalu matang, dia cukup dewasa.

"Mungkin karena aku kurang sedekah, terkadang lewat waktu sholatnya, puasa sunat udah mulai aku lalaikan, jadi aku ikhlas, semoga untuk yang ambil handphoneku, itu bisa bermanfaat buat dia."

Saya lalu berpikir, apalagi dengan saya...
Saya tidak ingin mendapatkan 'teguran' jika saya lalai, tetapi selalu saya banyak lupa untuk sesuatu yang wajib saya lakukan, apalagi yang sunat.

Tidak ada nada kesal atau marah dalam nada suaranya, saya sebelumnya yang justru merasa panik setelah membaca pesan tadi, jadi merasa ikut tenang. Dia cukup pandai menata hati. Saya belajar darinya..

Semoga dia yang sudah baik, selalu baik dan semakin baik..

Rabu, 06 Oktober 2010

Singa Mengincar Sang Kembar

Hey...Lari kemana?
Kau tak lihat tulang runcingku yang gagah?
Menopang tubuh dengan sempurna

Tidak kau lihat bulu lebat yang hangat?
Mata tajam menyelidik
Kau lari kemana?

Menyebar seperti ingin membuatku bingung
Makin menjauh
Bukan ku tak mampu mengejarmu

Lariku cepat
Terkadang mudah lelah
Jangan biarkan harus mengincar dua mangsa

Mempesona
Energi berkharisma
Seperti tak ingin dikejar

Kau merasa tertantang jika kau tak tahu
Kau mendekat karena perubahan
Sang kembar, berlari-lari

Labil yang membuatku tersenyum, singa yang mencari mangsa
Spontanitas yang menakjubkan, dari sang kembar yang ku incar
Tidak untuk hidangan sarapan atau makan malam
Bukan untuk kusantap

Aku singa yang mengincar
Sang kembar yang menyilaukan..

astrophobia

Melihat layar televisi, monitor komputer yang menampilkan galaksi, planet, bulan, matahari dan semua yang terkait dengan bintang dan luar angkasa, dapat menimbulkan gejala ini :
sesak napas, pusing, keringat berlebihan, mulut kering, merasa sakit, gemetar, jantung berdebar-debar, ketidakmampuan untuk berbicara atau berpikir jernih, yang takut mati, menjadi gila atau kehilangan kontrol, sebuah sensasi detasemen dari realitas atau serangan kecemasan penuh sesak nafas. Maka sudah pasti termasuk orang yang memiliki kelainan yang disebut Astrophobia.
Jangankan melihat layar yang cukup besar, melihat gambar dengan ukuran kecilpun sudah ingin segera membuangnya karena ketakutan.

Dengan sangat menyesal, saya memiliki kelainan ini.
Cukup banyak orang yang tahu, terkadang menjadi bulan-bulanan..
Beberapa orang teman sengaja memajang poster yang 'menyeramkan', di jendela kamar, ada juga teman yang sengaja mengganti wallpaper desktop dengan gambar planet.

Sudah sejak lama, bahkan dulu ketika umur masih di bawah sepuluh tahun, sering kali ketakutan menyalakan televisi jika sendiri. Karena saya masih ingat, pernah satu kali menyalakan televisi dan tayangannya adalah tentang bumi. Seketika saya matikan televisi dengan kasar lalu lari, panik.

Seorang pakar mengatakan hal ini disebabkan oleh adanya cabang dalam pikiran seorang penderita astrophobia ketika ditunjukkan dan melihat benda yang 'berbau' luar angkasa. Yang dapat merubah keyakinan, pikiran, strategi dan kebiasaan orang tersebut.
Ada terapi yang bisa dijalankan, yang mana kemungkinan untuk sembuhnya adalah 85%.
Ada pula terapi yang mana seorang penderita tidak perlu bertemu dengan psikolog untuk dapat sembuh, cukup melalui perbincangan di telepon dan bisa juga dengan membaca artikel yang tersedia.

Saya sudah membacanya, tapi tidak ada pengaruhnya.
Bahkan selain bintang, saya selalu ketakutan dengan beberapa gambar lain jika 'disajikan' dalam ukuran yang cukup besar.

Saya selalu menolak dan menjadi sangat tidak suka dengan tayangan, film, artikel mengenai perbintangan.. Padahal saya tertarik untuk tahu mengenai astrologi..

Ingin sembuh, karena saya ingin menikmati apa yang orang lain dapat nikmati...
Ya.. menurut orang lain, apa yang saya takuti tidak masuk akal...

Raja

Raja dari pulau cinta
Mendekam dalam mimpi indah
Tidur dalam pangkuan kekasih

Salah satu dari cinta sejati
Bersinar dengan caranya

Aku ingin berdansa denganmu
Menyaksikan orang hidup dan mati dalam rahmat-Nya
Sampai laut mengering tanpa jejak

Kau tersenyum, menatap lalu pergi
Aku terjaga dalam kemarahan
Menggantikan bahagia

Keteduhan matamu
Meyakinkanku
Aku bukan apa-apa
Tak tahu apa-apa

Aku rindu...

Kau bukan batu lompatan
Kau adalah pegangan
Kau tak pernah hilang

Aku rindu...

Raja dari pulau cinta
Kujaga Dewimu
Tak yakin yang kuhadapi
Kupahami yang kau tunjukkan...

Aku rindu...
Ayahku...

--------------------------------------------------------------------------------------------------

15 tahun 7 bulan 10 hari...tanpamu
Aku rindu..
Sangat rindu..

Kau ajarkan aku, apa dan untuk apa hidup...
Aku bangga memilikimu...
Selalu bangga...

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Pap...Ang Sayang Papap...
Sakit menahun mungkin memang lebih baik ditinggalkan..
Diganti sehat yang abadi..

Semua hal baik yang dilakukan didedikasikan untuk lelaki lembut, baik, bertanggung jawab, pintar, tampan, yang paling membanggakan dan paling aku sayang...Ayahku...

Selasa, 05 Oktober 2010

Surat Untuk (sebuah) Volkswagen


Bumblebee..
Volkswagen yang benar-benar bisa diajak bicara

Belum pernah benar-benar bisa melepasmu
Teman yang baik untuk menemani banyak perjalanan
Teman yang baik juga untuk menemani beberapa kali kegiatan yang orang bilang bobo pake gohan alias pacaran ^_^

Satu-satunya teman yang bisa membuat orang melihat sampai memutar kepala
Yang bisa membuat orang berhenti untuk sekedar bertanya "tahun berapa?" bahkan "mau dilepas berapa?"

Bee..saya benar-benar menikmati proses perbaikanmu
Luar dan dalam..

Meskipun saya beberapa kali dibuat agak jengkel juga
Pernah satu waktu kamu tiba-tiba berhenti di depan mall ramai pengunjung & sama sekali tidak mau 'bangun' & manja ingin diderek..
Setelah tidak ada lagi, saya merasa itu lucu.

Maaf karena saya harus melepas teman yang setia
Tidak perlu berlama-lama menjadi berkarat, saya sudah menemukan 'tuanmu' yang baru
Semoga dia lebih baik dalam mengurusmu

Mulai merasa kehilangan...

Sekarang, saya benar-benar harus minta maaf karena saya sudah dengan yang lain.
Yang ini sama mungilnya, dengan fungsi & muatan yang sama... Saya minta maaf...

Tapi tetap yang tak tergantikan adalah kamu Bee..

Kamu bukan mobil, Kamu adalah Volkswagen...
Kangeeenn....

Melarikan diRi

"Dikarenakan selama mengikuti proyek ini saya menjadi sering sakit-sakitan, saya mengundurkan diri. Saya yakin teman-teman yang lain mampu menyelesaikannya tanpa saya."

Saya diam membaca pesan singkat ini.
Yang terlintas bukan simpati karena dia yang memiliki tanggung jawab lebih besar menjadi sering sakit, tapi pengunduran dirinya dari kegiatan ini yang terkesan lari disaat yang sangat tidak tepat.

Saya terlibat dalam kegiatan ini, jujur karena beliau.. Beliau yang meminta tolong dan saya yakin pekerjaan ini dapat diselesaikan karena ada beliau yang tentunya jauh lebih paham isi pekerjaannya. Meskipun ada unsur air minum yang memang sesuai bidang saya, tapi pekerjaan ini lebih mengarah ke pembiayaan, ya...finansial.. Saya tidak paham itu.

Waktu yang sangat tidak tepat, karena 2 minggu ini kami dikejar untuk selalu asistensi & minggu depan kami harus presentasikan isi laporan yang kami buat.

Pekerjaan ini bukan pekerjaan teknis, tapi manajemen dan saya bukan ahlinya.
Ini bukan masalah chemistry saya & dua teman yang lain dengan pemberi kerja lebih baik seperti yang dia bilang, sehingga merasa jika beliau tidak terlibat semua tetap berjalan baik.

Maaf, tapi saya tidak bisa menerima pengunduran diri dengan alasan seperti itu.
Dimata saya, maaf... ini terkesan melarikan diri..
Setidaknya hadapi dulu pertemuan minggu depan, sebagai itikad baik. Lalu carikan kami pengganti.
Rasanya untuk menjadi profesional, beliau mestinya lebih paham daripada saya.

Saya menyesal dengan keputusannya yang sebelah pihak & tidak dapat diganggu gugat.

Senin, 04 Oktober 2010

Aturan

Tidak pernah mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal, terlebih private no
Tidak pernah ingin menghubungi orang jam 6 sore, atau masuk waktu sholat Maghrib jadi tentunya saya tidak ingin juga dihubungi pada jam tersebut
Jika sedang tidak dapat mengangkat telepon, tidak perlu menghubungi saya berkali-kali sampai meninggalkan lebih dari 3 kali panggilan tak terjawab.

Kirim pesan jika memang begitu penting & bila ingin menghubungi menggunakan nomor yang belum saya kenal sebagai pemberitahuan.

Bukan sok artis dan sok sibuk..
Tapi...
Semua ada aturannya..
Saya harap orang lainpun paham aturan saya sendiri

Saya & Hari Libur

Saya pikir 2 hari 'liburan' di Bandung, bisa diselingi dengan mengerjakan laporan yang dikejar deadline..
Tapi sia-sia saya bawa 2 buku yang tebalnya melebihi bantal saya ke Bandung, karena jangankan dibuka dan dibaca untuk bisa saya jadikan referensi dalam laporan saya, tapi disentuhpun tidak.

Bukan karena ternyata saya harus menepati janji untuk menemui beberapa teman di Bandung, bukan juga karena saya harus memenuhi kebutuhan keluarga saya yang perlu hiburan untuk kemudian saya ajak ke tempat sesuai yang mereka mau, seperti rutinitas akhir minggu kalau saya di Bandung.
Tapi karena sejak hari Sabtu pagi sampai Minggu malam, saya harus disibukkan dengan sms-sms dan telepon yang cukup membuat saya letih.

Setiap orang punya cara untuk bisa merasa lelah..
Saya, lebih baik disuruh survey naik turun bukit, menggali Tempat Pengelolaan Sampah hingga malam hari, begadang bermalam-malam mengerjakan laporan, saya tidak pernah merasa sampai selelah ini, dibandingkan harus melewati 2 hari seperti 2 hari yang lewat.

Proses klarifikasi seperti kemarin, dimana saya harus menjelaskan satu hal yang tidak saya sukai membuat saya benar-benar kepayahan. Ya, ketika saya harus dihadapkan dengan yang namanya penawaran produk dan harus menolak itu, saya benar-benar kesulitan ketika harus menjelaskan alasannya yang membuat orang lain kecewa.
Total lebih dari puluhan telepon yang saya angkat dan juga tidak saya angkat. Belum lagi sms-sms yang dibaca saja sudah bisa membuat saya capek, apalagi membalasnya. Saya tidak melebih-lebihkan tapi memang kenyataan.

Memiliki 3 nomor pribadi, menjadi tidak pribadi lagi.
Maaf, saya tidak ingin menyinggung profesi pemasar, tapi sungguh untuk yang satu kemarin benar-benar bisa membuat saya naik darah. Bukan hanya menyita waktu, tapi benar-benar menguras emosi.
Saya dituntut untuk paham pekerjaannya yang dikejar target, sayapun ingin demikian..
Target yang berbeda mungkin, dia dikejar untuk menjual produknya, sedang saya harus menyelesaikan laporan yang harus dimasukkan hari Senin siang. Saya perlu tenang, tidak dirongrong seperti ini. Otak saya seketika mandek, belasan batang Sampoerna tidak bisa membuatnya lancar.

Pemasar itu sukses membuat saya tidak produktif, sukses membuat saya ingin 'membakar' gedung tempatnya bekerja..

Pagi tadi saya kembali ke Jakarta seperti orang tolol, kembali membawa buku yang beratnya cukup lumayan dan tentunya tanpa satu katapun yang saya ketik apalagi berhasil menyusun satu bentuk laporan.

Saya tidak ingin orang itu datang lagi....

Save Me

Tuhan, jangan Kau biarkan aku begitu mencintai hidup
Karena aku tahu, aku pasti akan mati..

Jangan Kau buat aku kaya, jika aku tak mampu memperkaya orang lain walau cuma satu orang
Jangan Kau buat aku menderita, jika akan membuat sekelilingku susah

Tuhan, jangan Kau buat aku pandai jika hanya untukku dapat membuat siasat merugi
Jangan Kau buat aku begitu fasih berkata-kata jika selalu tanpa isi.

Tuhan, jangan Kau buat aku berani jika dapat menakutkan bagi orang lain
Jangan buat aku menjadi seorang yang rumit, jika dapat menyulitkan orang lain

Tuhan, jangan biarkan aku memohon selain pada-Mu.
Aku tak ingin benar-benar merdeka...
Tanpa pemimpin, tanpa aturan, tanpa-Mu.

Jadikan aku hamba-Mu yang selalu berpikir.

Kamis, 30 September 2010

Akhir Bulan Tutup Buku

Bukunya memang penuh saja belum
Coretanpun masih jarang
Bahkan banyak lembar yang terlewat

Tidak ada kesempatan untuk kembali menulis disitu
Tidak akan pernah memaksa
Jika memang harus seperti itu

Aku pamit
Kalaupun kembali bukan karena merasa terundang
Mungkin karena tidak benar-benar pergi
Atau karena kehendak hati

Akhir bulan,
Menutup buku

Bulan baru
Entah dengan buku yang baru
atau tetap menatap yang lama
dan berharap bisa kembali terbuka..

Jangan usang tanpa bermakna
Jangan lusuh tanpa berisi
Aku mohon

Isi dengan tulisan baik oleh tangan yang baik
Mungkin tidak olehku...

Jawaban...

Kuharap cukup pantas
Jika sampai harus menyita seluruh hidup

Aku ingin jadi jawaban

Tak paham
Begitu membutuhkannya

Selama kau perlu waktu
Aku ingin ada disitu

Bintang lenyap
Beri aku peran
Maka tetap terang untukku

Jadikan aku pijakan yang utuh
Aku akan seimbangkan
Dari sejak pagi buta
Agar malam selalu baik

オーラ

Menunggu kesempatan
Selalu ada alasan
Aku ingin disini bukan sekedar selingan

Jika kau ingin berhenti untuk sejenak menghela nafas
Aku menunggu

Tak perlu lama
Pembuluh sudah mengalir mengingatmu

Mari berlari menjauh dari kotak kayu yang kau duduki
Ayo kita terbang pergi dari ruangan dingin yang kau tinggali
Lekas genggam, atau perlu kuangkat agar kau tak perlu merasa lelah

Jangan cepat menyerah
Tidak perlu sendiri, aku disini

Tidak seperti malaikat yang selalu lembut
Tidak seperti dewa yang kuat
Tidak seperti sufi yang suci

Hanya punya hati
Aku ingin kau nyaman

Lihat aku
Bukan penyabar memang
Tapi aku mau belajar
Bukan menang yang dicari
Tapi tenang

Kemasi dan berangkat
Dari semua hitam
Untuk kita pilih warna lain, warna KITA...

2 Bungkus 1 Hari

Selamat datang di zona 'diburu-buru'
Seperti dikejar bis..yang sayangnya bis itu tidak pernah mogok atau berhenti untuk angkut penumpang..
Pilihannya, lari atau terlindas..

Saya pilih lari tentunya, karena saya belum ingin mati..

Saya tahu garis start-nya, tapi dimana finish-nya?

Belum benar-benar masuk hari kerja saja, mulai minggu lalu map di atas meja kerja sudah nangkring, merasa dia cukup manis ada disitu..

Cara ampuh untuk membantu otak bekerja adalah batangan putih berlogo A..
Setiap buntu, mulai dibakar...dan dihisap... cukup bikin lumer yang hampir beku..

Tidak tidur, lagi-lagi jadi asupan gizi yang harus ditelan mentah.
Saya yang tidak suka kegiatan menyegarkan diri yang dinamakan mandi, menjadi benar-benar tidak butuh itu dan tidak merasa perlu tidur.
Saya hanya ingin sehat, tidak seperti siang tadi yang tiba-tiba sempoyongan dan harus 'tewas' di tempat tidur.

Kepala berat dan tenggorokan tidak baik..

Masih banyak yang harus dikerjakan...
Belum boleh berhenti, dan istirahat..

Saya minta izin untuk melakukan semuanya sampai selesai dan kembali mengerjakan yang baru.
Minta izin karena membolak-balikkan waktu.
Minta izin untuk tetap dengan batangan putih itu, karena saya perlu itu untuk membantu saya bisa berpikir, walau sampai harus habis 2 bungkus 1 hari.
Saya minta izin, untuk boleh meminta sesuatu yang diberi julukan sehat...

Selasa, 28 September 2010

Pita Yang (tidak) Rusak

hmmm...
kenapa mesti mikirin sesuatu yang bukan apa-apa...
saya pikir hari kemarin itu merupakan satu titik terang
ternyata belum
atau bahkan bukan

semoga segera hilang dari ingatan
sayang semuanya terekam sempurna, mestinya gulungan itu menjadi kusut dan rusak sampai tidak dapat berfungsi lagi. Saya akan sangat lega..

Kalau semua tindakan tidak digubris, saya memang harus merasa tidak lagi melakukan apapun.
Harusnya mudah...

Berharap cuaca membuat pitanya berjamur
Berharap debu membuat piringan tergores

Saya hanya tidak ingin diperlakukan seperti ini, oleh apapun
oleh siapapun..
Tidak perlu dianggap penting
Tapi tidak juga menjadi yang terabaikan..

Tolong jangan mampir lagi dalam ingatan...

Pitanya tetap tidak rusak
Saya kesal...

Mohan...

Terjebak di dunia yang sedingin baja
Tanpa bisa bicara
Beku...
Siapa yang mampu menyelamatkan?
Jika ini begitu berarti untukmu, tak perlu berbagi sudut pandang

Selalu dengan pikiran jernih
Bersih...murni, dan nyata
Mungkin selamanya akan disini
Belajar dan tumbuh
Semua didapat dengan cuma-cuma
Sampai jiwa melepas

Bagaimana mengingat ini?
Dulu dan hari ini..
Besok masih tetap akan sama
Adakah seorang yang tahu?

Menanti lagu pelepasan
Dari sebuah biosfer berpijak tanah dan batu

Baja memanas
Mulut bersuara
Tak lagi bisu
Tak lagi dingin
Terberkati

Senin, 27 September 2010

Ketika Tidur Menjadi Sesuatu Yang Langka

Konsekuensi..

Saya pernah bermimpi bahwa tidur dengan kualitas yang baik bisa saya dapatkan..
Tidur yang tidak sekedar memejamkan mata...dan mendengkur seperti babi..
Tetapi benar-benar terlelap tanpa memikirkan pekerjaan yang selalu dikejar deadline..
Saya pernah sangat menginginkan itu..

Mengingat hal yang belum saya dapatkan itu...
Saya rasanya perlu berpikir dengan cara lain..
Hal yang setidaknya bisa membuat saya tersenyum...

Menyenangkan ketika saldo bertambah bukan hanya satu kali tiap bulannya...
Kadang menjadi hura-hura karena merasa perlu membayar 'hal yang hilang' rasanya masih cukup pantas dilakukan..

Bekerja bukan hanya di satu konsultan terkadang menjadi satu kebanggaan untuk saya sendiri..
Mencoba menambah daftar pengalaman untuk dapat 'dijual' ke depannya..

Itu konsekuensinya mungkin..
Semua seperti diburu waktu...
Tidur dan terjaga karena ingat ada saja pekerjaan yang belum benar-benar selesai...
Tidak perlu lagi saya keluhkan itu lagi...

Saya ternyata benar-benar mencintai 'dunia' ini...
Walaupun tidur yang baik menjadi hal yang langka...

Tak jarang tanpa sadar tertidur di depan monitor dan meja kerja..
Harus selalu bisa saya syukuri...

Setidaknya saya selalu punya yang namanya perjalanan..
Di travel, di pesawat, di mobil...
itu terkadang malah menjadi tempat nyaman untuk bisa sejenak tidur..
Ya setidaknya saya masih punya itu...

Semoga ini pantas saya jalankan dan saya dapatkan untuk bisa saya nikmati di depan...

Sen - Ci

Pelajaran penting yang saya dapat hari minggu 26 September 2010 adalah jangan pernah memaksakan diri atas sesuatu yang tidak pernah dapat dijalani..

Saya pikir, saya sudah cukup 'besar' untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan sekelompok orang (meskipun) yang belum terlalu saya kenal..
Ternyata saya masih seperti saya yang dulu, ya saya sebelum hari itu, bahkan masih sama seperti belasan tahun yang lalu...

Uji keberanian ternyata tidak cukup berhasil...

Seharusnya hari itu, merupakan hari yang ditunggu-tunggu..tetapi hasilnya malah menjadi hari yang tidak terlalu berjalan dengan sempurna...

Perjalanan 170 KM lebih menggunakan sepeda motor dipenuhi dengan pikiran, topik apa yang harus saya lontarkan untuk menjadikannya sebuah percakapan nanti...?
4 jam di perjalanan & saya tidak menemukan jawabannya.. Saya tahu pasti, saya hanya bisa diam..

Ketika saya harus dihadapkan dalam satu komunitas baru, harusnya saya sadar diri, bahwa saya tidak akan pernah bisa secepat itu untuk menjadi orang yang banyak bicara..
Harusnya jika saya ingin dekat dengan seseorang, hanya orang itu saja terlebih dahulu yang saya temui...
Yang lain bukan 'pengganggu', tapi ketika ada orang lain, saya seperti di posisikan sebagai murid baru di sekolah yang tidak bisa berkutik dan tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya...

Menjadi 'patung' di tengah kerumunan orang memang sangat tidak mengenakan..
Kursinya terasa panas, semuanya serba salah...

Mereka baik, tidak ada yang salah dengan mereka... Lagi-lagi... Saya...

Sepulang dari situ saya cepat menghubungi teman baik saya, karena saya perlu 'obat' yang bisa menetralisir kegugupan saya...

Ternyata diapun sama...
Ketika harus dihadapkan dengan kondisi seperti yang saya alami hari itu, dia berkata diapun hanya akan diam..
Ternyata kami hanya lancar jika mengirimkan pesan singkat... Tetapi jika bertemu muka, kami hanya menjadi bisu...

Bagaimana jika kesempatannya hanya hari itu saja?
Masih perlu yang namanya penyesalan?
Bagaimana jika ada kesempatan lain, tetapi tetap dengan kondisi yang sama?
Saya hanya bisa menjamin bahwa keadaanpun akan tetap sama...
Saya hanya akan menjadi orang yang menghafal menu makanan dan tanpa berani mengeluarkan suara...
Mungkin yang saya perlukan kesempatan untuk bertemu dengan satu orang itu tanpa hadirnya orang lain (terlebih dahulu)...
Sepertinya jika itu yang terjadi, keadaan masih cukup mudah...
Tetapi apakah dia tertarik untuk memberikan kesempatan lain?
Sepertinya tidak...

Mau diapakan lagi, saya memang tidak sepandai orang lain yang bisa cepat berinteraksi..

Setidaknya ke depannya, sebelum melakukan sesuatu saya harus mengukur kemampuan saya terlebih dahulu...

Maaf.....

Menyakiti dan disakiti..
Saya lebih memilih disakiti, meskipun itupun bukan hal yang dapat membuat hidup tenang..
Tetapi setidaknya untuk saya, ketika saya disakiti, saya tidak akan selalu hidup dalam penyesalan yang panjang dan hanya saya sendiri yang perlu disembuhkan...dengan cara saya sendiri.

Tapi lagi-lagi.. semua tidak sejalan dengan yang direncanakan..
Bukan keinginan saya jika harus ada diposisi ini..
Ketika harus kembali menyakiti orang yang pernah dekat.
selalu dan kembali hanya kata "maaf" yang bisa saya keluarkan...

Saya tahu itu sama sekali tidak membuat perihnya menjadi lebih baik..
Saya tahu itu tidak membuat galaunya berubah menjadi ketenangan..

Bukan tanpa usaha...
Saya pernah mencoba..tapi tidak berhasil
Waktu memang bukan ukuran..Lama...Sebentar...
Ketika saya merasa tidak dapat memberikan apa yang dibutuhkan..
Ketika saya merasa dia lebih layak mendapatkan apa yang seharusnya dia terima..dan sayangnya bukan dari saya.

Keinginan saya untuk selalu berhubungan baik tidak disambut dengan suka cita...saya bisa apa?

Lagi-lagi, saya harus mengulang kata-kata yang tentunya tidak ingin didengar olehnya..

Jika dia selalu bilang, dia tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup saya..
Dia harusnya tahu, bahwa itu tidak benar..

Sekali lagi...
Saya benar-benar pernah berusaha dan mencoba untuk hubungan yang dulu pernah ada berhasil..
Tapi kenyataannya?
Saya tidak akan pernah menyalahkan siapapun..kecuali diri sendiri..

Maaf jika semua yang pernah kita rencanakan tidak pernah terlaksana..
Maaf jika semua yang pernah ada membuat semua yang ada sekarang menjadi kacau..

Saya benar-benar berharap apa yang ada di hadapannya saat ini, menjadi yang terbaik baginya..
Yang bukan saja mengisi kekosongannya, tetapi benar-benar menjadikan hari, hati dan dunianya penuh dan saya benar-benar rindu dia tertawa lepas seperti dulu...

Maaf...saya tidak bisa memenuhi permintaan itu..
keadaaannya memang sudah tidak seperti sebelumnya..
Di samping itu...saya tidak akan pernah ingin lagi menyakiti dia lebih dalam...

Saya benar-benar ingin kami berteman dan saya yakin satu waktu...ketika semua sudah benar-benar baik...itu bisa terwujud..

Semoga waktu menjadi media yang tepat untuk kami menjadi orang yang berlapang dada menerima keadaan..

Saya yang pernah menyayanginya...
dan
Saya benar-benar minta maaf...

Selasa, 31 Agustus 2010

satu minggu penuh "berkah"

Terima kasih atas hadirnya pasangan & rekan yang baik...

Mengutip pembicaraan seorang teman, bahwa sepertinya berkah ramadhan kali ini salah satunya telah saya terima dan tengah saya nikmati...

Semua memang perlu proses... Sempat saya merasa bahwa apa yang tengah dijalankan bukan seperti yang saya inginkan... Tetapi setelah beberapa lama, semua ternyata sangat indah..bukan lagi cara saya yang kami pakai dan jalankan...melainkan cara kami.

Bersyukur memiliki dia yang memiliki sifat, sikap, dan hal lain di atas kriteria yang saya harapkan sebelumnya, hingga kadang merasa saya bukanlah orang yang tepat untuknya.

Dia yang memiliki banyak rutinitas yang baik, yang bisa memberi pelajaran yang baik untuk banyak orang, membagi waktu dengan orang lain untuk membuat mereka mengerti hal penting, selain tentunya dia sendiri yang mencari dan menambah ilmu di waktu-waktu pentingnya.

Menyadari hal tersebut, membuat saya merasa menjadi orang yang tidak memiliki keteraturan, bertindak semau saya, dan selalu berusaha segala sesuatu berjalan sesuai keinginan saya. Saya yang selalu lupa banyak hal penting, semakin merasa dia adalah orang yang sangat baik dan lagi-lagi terlalu baik untuk saya.

Satu pesan saya terima...yang membuat ketidak yakinan terhadap diri sendiri memudar..
Bahwa bukanlah satu kebodohan baginya memilih saya sebagai "rekan"....karena memang hatilah yang "mengatur"...

Jika diizinkan, saya ingin selalu menjadi jiwa yang membuatnya selalu merasa "penuh"...
Jika diizinkan, biarlah hanya saya pengusir galau...

Tertawa adalah kegiatan yang menyenangkan yang selalu mengisi hari kami...
Amarah menjadi hal yang tidak perlu dihindari..karena terkadang rasa sayang perlu ditunjukkan secara "berlebih"...

Lagi-lagi terima kasih untuk kesediaannya...
terima kasih untuk detik-detik berharga lain yang saya dapat...
terima kasih untuknya

Saya menyayanginya...
semoga ribuan minggu selalu ada untuk kami...

Rabu, 25 Agustus 2010

kembali ke Manado

wuiiiiihhhhh 3 tahun yang lalu saya mengunjungi kota penuh gogog.. Manado...
Ya..dimana-mana anjing berkeliaran..
Jadi kangen sambal dabu-dabu, ikan bakar dan tumis kangkung yang kalau dilahap habis sudah pasti berhasil menjadi obat tidur...zzzz....

Beberapa jam lagi, insya Allah saya akan kembali ke Manado dengan flight pertama. Alhamdulillah akan kembali napak tilas ke kota yang banyak tugu dan patung ini...

3 tahun yang lalu, berminggu-minggu dihabiskan di kota ini yang membuat saya bisa memiliki banyak teman.
Jadi kangen perjalanan bolak balik Manado - Minahasa Utara - Bitung dengan menggunakan motor dengan seorang teman Is (mu'alaf), penduduk asli Manado, yang dengan senang hati menunjukkan tempat makan yang halal dan penginapan muslim.
Merokok bareng ibu Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kab. Minahasa Utara sambil bercerita tentang pemekaran wilayah di Sulawesi Utara.
Dtraktir kudapan ringan oleh ibu Irenne staf BPLHD Kota Manado sambil berbincang-bincang mengenai keterlibatan calon suaminya di Ikatan Motor Indonesia..(semoga saat ini ibu Irenne sudah menikah dgn pria tsb)..
Dijamu makan besar di restoran pinggir pantai oleh ibu Jean Mamengko, Ka Satker PLP Dept. PU Sulut, sambil menyaksikan orang-orang bernyanyi menikmati malam...
Diantar Bang Heldy mengunjungi kota dan kabupaten di Sulawesi Utara lainnya, dari Tomohon, Tondano, Minahasa, sampai Bolaang Mongondow untuk mendapatkan data yang saya butuhkan.

Menghadiri rapat pembahasan RPIJM besok memang rasanya menjadi lain dibanding ketika saya harus menghadiri rapat lainnya, ya tentu saja karena saya berharap akan dapat menemui sahabat dan teman lama nantinya...

hmmmm.....Kangen Manado...

Torang Samua Basodara....

setelah hari yang bahagia...

Pagi yang tidak terlalu baik...
Mungkin memang tidak seharusnya saya membuka sesuatu yang bukan diperuntukkan bagi saya....
Hasilnya...jadi uring-uringan sendiri.....

Sepertinya lebih baik membiarkan dia melakukan apa yang dia suka..
Apa yang menurut dia baik, yang bisa membuat dia senang dan merasa tercukupi...dengan caranya sendiri...

Untuk perkara menjaga hati, saya tidak akan pernah lagi meminta dia untuk melakukan itu...
Sayapun tidak perlu memberi contoh bagaimana layaknya berpasangan yang baik yang utamanya harus menghargai perasaan masing-masing dan memberikan kenyamanan juga ketenangan.
Saya tidak merasa lebih baik darinya, tetapi satu yang pasti, saya tidak akan pernah melakukan hal seperti yang dia lakukan pagi ini.

Hari ini ada beberapa hal yang saya sadari....
Saya belum atau bahkan tidak memiliki dia sepenuhnya.
Pagi hari bukanlah waktu dimana kami dapat bertukar pesan saling memberi semangat jalani hari baru...dia selalu dengan dunianya dan bahkan lebih tertarik mencari tahu kabar orang terdekat lainnya.

Dimana sepanjang hari kami berada adalah hanya kepentingan untuk masing-masing kami sendiri. Apa yang kami lakukan sepanjang hari adalah hal yang sepertinya belum perlu kami bagi.

Mulai merasa hari sebelumnya lebih baik daripada hari ini.
Pesan yang saya terima jauh lebih menyenangkan daripada hari ini, obrolan kami sebelum hari inipun lebih menyenangkan.

Saya tidak akan menuntut apa yang dilewati haruslah selalu menyenangkan, tetapi menghargai pasangan dalam bentuk apapun adalah kewajiban yang harus dijalankan..
Bahkan jika dijalankan dan diluapkan dengan hati, Marah, Sedih, Tawa, Senang tetap dapat membuat bahagia. Tapi tidak dengan hari ini...

Berhasil membuat hari ini menjadi hari dimana saya banyak berpikir..

Lagi-lagi saya tahu pagi bukan waktu dimana saya adalah orang pertama yang dia ingat, dan malam bukanlah waktu dimana ucapan selamat tidur dia sampaikan dengan hati.

Esok pagi, tidak perlu saya melakukan pengumuman bahwa saya masih hidup dengan mengirimkan teks ringan.. Karena rasanya sia-sia..

Begitu juga dengan malam... rasanya saya tidak ingin lagi diposisikan sebagai pengganggu yang merusak suasana hati dengan selalu mencoba menghubunginya..

Ironis ketika saya sibuk mencari tahu kabarnya dan keadaannya, sementara dia sibuk dengan yang lain dan ingat sayapun tidak.

Entah harus menjadi satu hal yang saya sesalkan atau saya syukuri...bahwa rasa sayang sudah terlanjur timbul. Menjadi siksaan ketika saya akhirnya harus membatasi diri.

Saya hanya tidak ingin harus mengulangi lagi hari seperti hari ini.
Saya rasanya memiliki pasangan, tetapi saya merasa berjalan sendiri.

Ketika saya dengan bangga mulai memamerkan pada dunia bahwa hati sudah membaik, saat akan menunjukkan siapa yang berhasil membuatnya menjadi baik...saya mencari ke segala arah..
Hanya saat dia sempat, dia ada disitu....

Lagi-lagi diawali dengan menjaga hati...

Selasa, 24 Agustus 2010

i'm (not) single and very happy

hmmmm.... deg-degannya udah ilang...
kayak lagi ikutan kuis & hadiahnya satu yang paling dipengenin..
Klo menang pastinya seneng banget, & kalo kalah sedih bener...
mudah2an orangnya gk marah disamain sama kuis..heeee

Terima kasih partner (baru)...
Saya bisa bawa "pulang" hadiahnya...
Saya tidak lagi sendiri dan saya bahagia...

Mari membuat cerita yang baik dan indah, untuk saya, untuk kamu... untuk KITA...



24 agustus 2010
saya tidak lagi sendiri ^_*

Senin, 23 Agustus 2010

selamat datang 'teman' baru

3 hari 3 malam mata terhibur, dengan banyak teks masuk ke inbox yang bisa bikin cerah mata dan bibir senyum-senyum..
Selamat datang 'teman' baru yang bukan sekedar distraction untuk banyak hal yang sebenernya gk perlu saya tahu... Tp lebih dari itu...bahkan sama menyenangkannya dengan ketika saya menerima pesan-pesan dari sahabat lama...

Baru 3 hari, tapi sudah cukup tahu apa yang bisa buat seneng, buat kesal, buat marah, buat ketawa....
Selama keduanya belum kembali "sibuk", biarkan keadaannya seperti ini...karena saya sedang sangat menikmati...dan semoga diapun begitu..

Selamat datang 'teman' baru... semoga menjadi 'teman' selamanya...^_*

Rabu, 18 Agustus 2010

memories....



Lagu ini pernah saya dengarkan berulang-ulang beberapa tahun lalu. Ketika saat itu saya merasa sakit dan terpuruk. Ya, sakit hingga titik terendah, begitu sebutan yang sering saya ucapkan dulu.

Hari ini saya 'terpaksa' memutar kembali lagu ini, dan ternyata rasanya masih sama. Hanya saja, saat ini tidak lagi untuk objek yang sama. Rasanya, dulu jika saya mengingat kenangan tiba-tiba hati saya merasa sakit, dada saya merasa sesak, dan lagu ini tak jarang membuat saya meneteskan air mata, sepertinya wajar. Karena saya teringat pasangan yang telah lama menjalani semuanya bersama-sama dalam hitungan ribuan hari.. Ya, tentunya banyak sekali kenangan yang terekam.

Tetapi hari ini, sama sekali saya sudah tidak pernah ingat dengan pasangan lama yang telah hidup bahagia (semoga) yang telah memberikan banyak kenangan. Hari ini, saya selalu teringat pada satu nama..sang Ahli MaDya.

Cuplikan-cuplikan kenangan yang terkesan biasa saja, pertemuan biasa, percakapan biasa, kerap kali muncul. Saat saya dengarkan lagu ini, entah kenapa dada saya kembali sesak dan gambaran sang Ahli MaDya selalu muncul dan berhasil membuat saya harus menenangkan diri jika saat itu saya sedang melakukan kegiatan.

Pertemuan yang bisa dihitung dengan jari, entah kenapa sangat membekas. Semoga ini pantas untuk saya. Heran, cuplikan-cuplikan itu bisa membuat saya merasa seperti dekat dengannya, meskipun saya tahu bahkan mengingat saya bukan satu rutinitasnya, atau bukan satu yang tiba-tiba mampir diotaknya juga.

Lagu ini rasanya lebih tepat diperuntukkan bagi sepasang kekasih yang terpisah karena kematian, dan hingga uzur masih bisa mengingat dan merasakan besarnya cinta pasangannya, ketika masih hidup.

Tetapi bagi saya saat ini, lagu ini menjadikan satu gambaran bahwa waktu, intensitas pertemuan, kualitas percakapan, kedekatan tidak menjadikan sebagai faktor saya bisa menyayangi seseorang.. Sedikit sekali saya pernah punya waktu dengannya, dan sampai saat ini saya masih belum punya kesempatan untuk bertemu atau berkomunikasi dengan baik (menurut saya) dengannya, tapi masih belum hilang perasaan yang mungkin menurut banyak orang lebih baik dihilangkan...

Ada beberapa yang bisa membuat saya lega
Bisa membuat jantung saya berdegup kencang
Bisa membuat saya merasa lemas
Bisa membuat saya sangat bergairah
Bisa membuat saya merasa sesak
Bisa membuat saya selalu ingin tahu tentangnya...

Kamis, 05 Agustus 2010

Catatan Untuk Seorang Teman Yang Tetap Tulus Mencintai

Belajar tentang ketulusan memang harus berkaca darinya, yang bisa mencintai tanpa perlu dia yang dicintai tahu akan hal itu. Belajar akan ketulusan memang perlu melihat padanya, yang dapat menjalani satu perjalanan baru tanpa merasa menyesal dan ikhlas ketika menjalaninya.

Dia yang tidak pernah keberatan ketika orang yang dicintainya merancang sesuatu sesuai keinginannya.

Dia yang tidak keberatan ketika mengakui salah seperti anak kecil

Karena memang seperti itulah cara dia berjuang.

Ada saat dia menangis dan hatinya hancur

Tapi kesabaran selalu bersamanya yangmembawanya ke tempat yang paling baik.

Dia yang mungkin ingin percaya bahwa hidupnya tidak lagi dikelilingi akan pikiran tentang orang yang dicintanya yang telah tidak bersamanya lagi. Dia yang tidak lagi ingin memikirkannya karena memang hidupnya telah terpisah. Dia yang tidak ingin percaya ketika mendengar orang yang dicinta tidak membutuhkannya lagi. Dia yang tak pernah berpura-pura dan tak ingin berpura-pura.

Dia yang tidak keberatan saat kekasih yang dicintainya menghapusnya.. Dia percaya mimpi buruk pasti akan selalu ada, yang kadang membuat kita tidak dapat terbangun dan merasa ingin menyerah. Karena dia percaya semua akan terlewati dan sang kekasih akan tersadar bahwa hidup selalu akan saling membutuhkan.

Dia yang tak pernah berhenti untuk mencintai, karena dia percaya sang kekasih akan kembali sebagai apapun. Dia yang tulus membuat kekasihnya selalu ada, tanpa pernah menghapusnya.

Dia hanya tidak ingin apa yang dilakukannya dinilai sebagai satu kegagalan, satu keterpurukan. Karena apa yang dipilih dan dijalani adalah sesuatu yang tak memberatkannya.

Dia untukku adalah seorang yang membantu ketika aku tak percaya cinta dan tak ingin mendengar apapun lagi.

Dia yang menghilangkan rasa kesal dan sedih, yang selalu ada ketika tak ada satupun yang bisa menjadi teman bicara. Dia yang selalu membantu, mendengar dan dia seorang yang nyata.

Dia seperti pelindung dari apapun, yang selalu mendorongku untuk selalu berjalan dalam arah yang benar. Dan dia adalah sesuatu yang membanggakan. Dengan sentuhan yang sederhana, dia bisa membantuku mencapai tujuanku, yang bisa melebarkan kembali sayapku. Yang tak pernah meminta balasan apapun.

Dia yang membuatku nyaman dalam meja kerja, mengerjakan pekerjaan dengan baik, karena selalu ditemani tulisan ringan yang selalu membuatku tertawa. Dia seperti selalu melihatku setiap hari.

Caranya mencintai adalah sempurna. Tanpa dibuat-buat dan lagi-lagi tanpa kepura-puraan.

Terkadang ketulusan dan kebaikannya terasa berlebihan untukku, karena selalu tanpa pernah meminta balasan.

Cara dia membiarkan kekasihnya tetap ada, adalah satu hal menakjubkan. Ketulusan, kebaikan terlihat indah dimataku…


Untuk salah satu teman terbaik - "Elmo"