Menuliskan ini, bukan untuk menyalahkan...
Sahabat, tiba-tiba saya teringat satu waktu, dimana saya harus membuang setan dalam diri saya.
Karena perintah, masukan dan karena saya tahu kamu menyayangi saya.
Seratus hari lebih yang lalu, kamulah yang meminta saya untuk banyak berubah.
Untuk saya yang lebih baik dan untuk kebaikan orang disekitar saya, terutama yang paling berarti.
Saya yang biasanya diam, menjadi (agak) banyak berceloteh
Saya yang biasanya merasa tidak perlu mengirim dan menuliskan kalimat manis, menjadi banyak mengumbar.
Saya yang biasanya merasa tidak perlu mengungkapkan isi hati, menjadi kecanduan untuk selalu menyatakan apa yang ada dan seadanya.
Tapi lihatlah sekarang...
Apa yang saya dapat...
Diabaikan lalu dibuang...
Senyum miris, lalu tangis...
Berangsur setan dalam hati saya kendalikan, tapi sakit yang saya terima.
Sahabat, inilah tulus yang ingin kamu ajarkan..?
Menerima apapun hanya cukup berlapang dada, lalu sakit saya rasakan sendiri.
Menyayangi bukan hal mudah bagi saya,
Namun lebih tidak mudah lagi bagi saya untuk menjadi orang sebaik yang kamu harap.
Luka...luka dan luka yang ada, tidak dapat dibagi.
Kebaikan yang kamu ajarkan semoga tidak lantas hilang, karena tersakiti.
Ini waktu tergelap lainnya bagi saya.
Apa yang saya harapkan?
Mungkin saya biarkan yang lain mengendalikan saya jika itu memang baik.
Tenangkan saya, tidak hanya menggenggam
Buat saya diam, lalu lindungi saya...
Melewati ketidak teraturan hari dan hati, kegaduhan dan ketakutan..
Sedang tak tahu cara tertawa dan menangis yang benar..
Semenjak...
Semoga hati tak lagi terkunci rapat...
Menjadi baik, selalu itu yang diinginkan..
Tak pernah mengira akan seperti ini..
Saya tahu, bukan seperti ini pula yang kamu inginkan..
Saya kembali ada disatu keadaan dimana semua terasa hambar.
Tak perlu diceritakan seperti apa sakit ini, karena saya yakin kamu tahu.
Sahabat..
Ini bukan bentuk protes, saya yakin apa yang kamu minta kala itu akan baik untuk saya satu waktu.
Sahabat...
Saya yakin, saat ini jika saya ungkapkan apapun yang dapat membuat saya seperti ini.
Bukan hanya bahu yang dapat disandarkan, tapi hati yang dapat merangkul.

UNTUK :
Mamo, Rna, Rdie, Ica, Oji, Unyil, Ranie, Opik, Bude, Tami, Hesty, De'o, Bos Asep, Pahenk, Bos Cep, Deli, Budin, Goler, dan semua sahabat yang selalu mengajarkan dan membuat hati menjadi luas...
Memiliki dan menyayangi kalian, adalah abadi.