Labels

Selasa, 14 Desember 2010

Tinggalkan...

Setahu saya, ketika dua orang memutuskan untuk memiliki hubungan, adalah berdasarkan kesepakatan bersama, maka selanjutnya komitmen akan hadir dengan sendirinya.
Lalu jika ingin mengakhirinya, sepantasnya berdasarkan keinginan bersama pula, atau setidaknya menanyakan kepada salah satunya meskipun hanya sekedar basa basi.

Entah terlalu sulit, atau bahkan sebaliknya, terlalu mudah jika salah satunya cukup dengan membalikkan badan untuk pergi dan meninggalkan semua tanpa bekas.
Terlalu sulit untuk menjadi jiwa yang bermoral, untuk setidaknya menghargai. Padahal jikapun bertanya secara baik-baik, belum tentu ada rengekan meminta untuk merubah keputusan.

Saya yang pernah memutuskan untuk memilih menjadi orang yang tidak ingin menyakiti, jika dihadapkan pada posisi demikian, saya tentunya tidak akan menempatkan diri sebagai pasangan yang 'lari' lalu menuliskan beberapa kalimat perpisahan tanpa persetujuan.
Saya sudah belajar...

Jikapun saya diposisikan sebagai yang ditinggalkan, tidak akan saya mempersulit semuanya.
Menyulitkan untuk diri saya sendiri jika memang saya masih boleh menjadi orang yang egois.
Bukan karena tidak ingin berjuang...
Trauma itu yang kembali...

Bukan sekali dua kali pahit dicicipi, dan semakin saya berusaha semakin mengoyak hati dan jiwa.
Tidak akan saya meminta untuk perubahan..
Bukan karena gengsi, hanya usaha untuk membuat diri tidak kembali terjembab.

Hanya memandang semua yang pernah tertulis adalah omong kosong.
Mudah bagi banyak orang menulis kata 'selamanya' tapi ternyata dalam hitungan hari, minggu atau bulan, itu berubah.
Atau selamanya bagi sebagian orang adalah sementara bagi saya.

Perjalanan yang pernah ada,
Sebagian dalam diri mengatakan itu adalah sia-sia
Sebagian dalam diri menyatakan itu adalah hal yang berarti.

Jika saya harus dihadapkan sebagai yang ditinggalkan.
Tidak akan ada marah, tidak pula akan ada emosi meluap dan semua yang membuat pedih makin menjalar.
Hanya berharap akan ada obat mujarab yang dapat menutup luka dalam yang tentunya membekas.

Bohong jika saya berkata saya akan baik-baik saja,
Bohong pula jika kemudian rentetan doa semoga pasangan selalu dalam keadaan baik pula akan terucap dari mulut.
Saya tidak akan mengatakan apapun lagi, karena bahkan kalimat baikpun, membuat perihnya menjadi-jadi.
Tidak akan pula saya mengharapkan pasangan jatuh atau merasakan sakit, karena tidak ada gunanya.

Setia, kali ini hanya dapat saya janjikan pada diri sendiri.
Setia pada setiap ucapan yang pernah keluar, setidaknya untuk diri sendiri.
Setia pada setiap tulisan yang pernah tertuang, hanya untuk diri sendiri.

Jika saya dihadapkan sebagai orang yang ditinggalkan...
Saya bersyukur, bukan saya yang menyakiti, meskipun mungkin dia yang meninggalkan akan merasakan sakit pula, tetapi itu adalah pilihannya.

Terbaik, itu selalu menjadi kalimat pamungkas.
Entah untuk siapa...