Labels

Kamis, 16 Desember 2010

ekspose

Hari sesudah hari ini, merupakan hari yang pikuk.
Mulai dari matahari beringsut naik, sepertinya gerak terbatas.
Menghadiri workshop hingga matahari tepat di atas kepala,
kemudian saya membayangkan saya harus mengendap-endap untuk dapat 'melarikan diri' dari situ agar dapat menghadiri ekspose terakhir laporan yang tengah dibuat.

Sangat-sangat berharap ekspose terakhir nantinya memberikan performance yang baik, tidak seperti sebelumnya.

Setelah itu, berkurang satu pekerjaan yang sudah berbulan-bulan selalu dipikirkan, namun tidak selalu dikerjakan.
Tentunya setelah itu (lagi-lagi) akan merasa ada yang hilang.
Kehilangan ritme salah satunya.

Rabu, 15 Desember 2010

Pak Sopir

Seperti biasa, selesai acara keluarga untuk sebagian yang bisa nyetir dan para sopir wajib mengantarkan saudara-saudara..
Pak Tatang sopir Ibu sepuh mengantarkan adik ibu sepuh dibarengi ibu sepuhnya sendiri...
Kami yang sudah selesai mengantar kembali ke tempat.
Pak Tatang adalah yang terakhir yang kembali.
Anehnya dia hanya sendiri...

Anak mertua ibu sepuh serta merta menanyakan ibunya...
"Ibu Sepuh mana????!"
Pak Tatangpun dengan linglung tapi polos menjawab, "hah?mmm ketinggalan..."
Kontan anak mertua kesal, "Kalau sandal karet yang ketinggalan, wajar... Ini majikan sendiri???!!!".
"Saya jemput lagi pak?", pak Tatang bertanya lagi, yang makin membuat kami geleng-geleng kepala.
"Gak usah, biarin aja!", jawab anak mertua.
Pak Tatang lalu duduk hendak beristirahat, "ooo ya sudah..."

"JEMPUUUUUT!!!", kami dan anak mertua serta merta berteriak...

Selasa, 14 Desember 2010

Bangunkan Saya

Benar - benar waktu yang 'tepat'
Penghujung tahun dihadapkan dengan kehilangan orang yang (pernah) ada untuk selamanya...
Anggota keluarga yang tengah tidak sehat yang menjadikan hati terkadang miris..
Lalu kini, harus menghadapi hal lain yang mendorong saya pada keadaaan yang tak baik...

Menutup wajah berharap ketika membukanya semua akan kembali pada situasi sebelum hari ini.
Namun kenyataannya tidak demikian.

Seperti inikah caranya?
Setiap detak dalam detik, sesak.

Entah ada apa dengan bulan Agustus dan Desember, selalu saya merasakan yang lain.

Saya seperti sedang bermain poker, saya mempertaruhkan semua yang ada, lalu kalah telak dan bangkrut. Tak lagi dapat bermain selama tidak memiliki cukup uang.
Menunggu terisi dengan sendirinya.
Butuh waktu.

Seperti itulah, tiba-tiba kosong..
Lunglai...

Obat menjadi racun..

Saya tak akan pernah mengumpat,
Tak akan pernah pula berkata tak ada pengaruhnya ada dan tidak adanya siapapun atau apapun itu.
Karena saya tak pernah tahu, kelak akan seperti apa.

Mungkinkah selama ini sebenarnya saya tengah bermimpi, lalu tiba-tiba terbangun dalam situasi yang saya kenal. Yaitu sakit.
Atau sebaliknya, hari-hari sebelumnya saya tengah terjaga, lalu sekejap saat ini tengah tertidur dan diberi mimpi buruk?

Jika benar demikian, maka bangunkan saya ketika Desember berakhir...

Selamat Pagi Sahabat

Lengkap di pagi yang tidak terlalu cerah...
Menuliskan ini, bukan untuk menyalahkan...

Sahabat, tiba-tiba saya teringat satu waktu, dimana saya harus membuang setan dalam diri saya.
Karena perintah, masukan dan karena saya tahu kamu menyayangi saya.

Seratus hari lebih yang lalu, kamulah yang meminta saya untuk banyak berubah.
Untuk saya yang lebih baik dan untuk kebaikan orang disekitar saya, terutama yang paling berarti.

Saya yang biasanya diam, menjadi (agak) banyak berceloteh
Saya yang biasanya merasa tidak perlu mengirim dan menuliskan kalimat manis, menjadi banyak mengumbar.
Saya yang biasanya merasa tidak perlu mengungkapkan isi hati, menjadi kecanduan untuk selalu menyatakan apa yang ada dan seadanya.

Tapi lihatlah sekarang...
Apa yang saya dapat...
Diabaikan lalu dibuang...

Senyum miris, lalu tangis...

Berangsur setan dalam hati saya kendalikan, tapi sakit yang saya terima.

Sahabat, inilah tulus yang ingin kamu ajarkan..?
Menerima apapun hanya cukup berlapang dada, lalu sakit saya rasakan sendiri.

Menyayangi bukan hal mudah bagi saya,
Namun lebih tidak mudah lagi bagi saya untuk menjadi orang sebaik yang kamu harap.

Luka...luka dan luka yang ada, tidak dapat dibagi.
Kebaikan yang kamu ajarkan semoga tidak lantas hilang, karena tersakiti.

Ini waktu tergelap lainnya bagi saya.
Apa yang saya harapkan?
Mungkin saya biarkan yang lain mengendalikan saya jika itu memang baik.

Tenangkan saya, tidak hanya menggenggam
Buat saya diam, lalu lindungi saya...
Melewati ketidak teraturan hari dan hati, kegaduhan dan ketakutan..

Sedang tak tahu cara tertawa dan menangis yang benar..
Semenjak...
Semoga hati tak lagi terkunci rapat...

Menjadi baik, selalu itu yang diinginkan..
Tak pernah mengira akan seperti ini..

Saya tahu, bukan seperti ini pula yang kamu inginkan..
Saya kembali ada disatu keadaan dimana semua terasa hambar.
Tak perlu diceritakan seperti apa sakit ini, karena saya yakin kamu tahu.

Sahabat..
Ini bukan bentuk protes, saya yakin apa yang kamu minta kala itu akan baik untuk saya satu waktu.

Sahabat...
Saya yakin, saat ini jika saya ungkapkan apapun yang dapat membuat saya seperti ini.
Bukan hanya bahu yang dapat disandarkan, tapi hati yang dapat merangkul.



UNTUK :

Mamo, Rna, Rdie, Ica, Oji, Unyil, Ranie, Opik, Bude, Tami, Hesty, De'o, Bos Asep, Pahenk, Bos Cep, Deli, Budin, Goler, dan semua sahabat yang selalu mengajarkan dan membuat hati menjadi luas...
Memiliki dan menyayangi kalian, adalah abadi.

Tinggalkan...

Setahu saya, ketika dua orang memutuskan untuk memiliki hubungan, adalah berdasarkan kesepakatan bersama, maka selanjutnya komitmen akan hadir dengan sendirinya.
Lalu jika ingin mengakhirinya, sepantasnya berdasarkan keinginan bersama pula, atau setidaknya menanyakan kepada salah satunya meskipun hanya sekedar basa basi.

Entah terlalu sulit, atau bahkan sebaliknya, terlalu mudah jika salah satunya cukup dengan membalikkan badan untuk pergi dan meninggalkan semua tanpa bekas.
Terlalu sulit untuk menjadi jiwa yang bermoral, untuk setidaknya menghargai. Padahal jikapun bertanya secara baik-baik, belum tentu ada rengekan meminta untuk merubah keputusan.

Saya yang pernah memutuskan untuk memilih menjadi orang yang tidak ingin menyakiti, jika dihadapkan pada posisi demikian, saya tentunya tidak akan menempatkan diri sebagai pasangan yang 'lari' lalu menuliskan beberapa kalimat perpisahan tanpa persetujuan.
Saya sudah belajar...

Jikapun saya diposisikan sebagai yang ditinggalkan, tidak akan saya mempersulit semuanya.
Menyulitkan untuk diri saya sendiri jika memang saya masih boleh menjadi orang yang egois.
Bukan karena tidak ingin berjuang...
Trauma itu yang kembali...

Bukan sekali dua kali pahit dicicipi, dan semakin saya berusaha semakin mengoyak hati dan jiwa.
Tidak akan saya meminta untuk perubahan..
Bukan karena gengsi, hanya usaha untuk membuat diri tidak kembali terjembab.

Hanya memandang semua yang pernah tertulis adalah omong kosong.
Mudah bagi banyak orang menulis kata 'selamanya' tapi ternyata dalam hitungan hari, minggu atau bulan, itu berubah.
Atau selamanya bagi sebagian orang adalah sementara bagi saya.

Perjalanan yang pernah ada,
Sebagian dalam diri mengatakan itu adalah sia-sia
Sebagian dalam diri menyatakan itu adalah hal yang berarti.

Jika saya harus dihadapkan sebagai yang ditinggalkan.
Tidak akan ada marah, tidak pula akan ada emosi meluap dan semua yang membuat pedih makin menjalar.
Hanya berharap akan ada obat mujarab yang dapat menutup luka dalam yang tentunya membekas.

Bohong jika saya berkata saya akan baik-baik saja,
Bohong pula jika kemudian rentetan doa semoga pasangan selalu dalam keadaan baik pula akan terucap dari mulut.
Saya tidak akan mengatakan apapun lagi, karena bahkan kalimat baikpun, membuat perihnya menjadi-jadi.
Tidak akan pula saya mengharapkan pasangan jatuh atau merasakan sakit, karena tidak ada gunanya.

Setia, kali ini hanya dapat saya janjikan pada diri sendiri.
Setia pada setiap ucapan yang pernah keluar, setidaknya untuk diri sendiri.
Setia pada setiap tulisan yang pernah tertuang, hanya untuk diri sendiri.

Jika saya dihadapkan sebagai orang yang ditinggalkan...
Saya bersyukur, bukan saya yang menyakiti, meskipun mungkin dia yang meninggalkan akan merasakan sakit pula, tetapi itu adalah pilihannya.

Terbaik, itu selalu menjadi kalimat pamungkas.
Entah untuk siapa...

Senin, 13 Desember 2010

Blind

I was (not) young & I wasn't naive
I watched helpless as u turned around to leave
And still I have the pain I have to carry
A past so deep that even you could not bury if you tried

I would fall asleep
Only in hopes of dreaming
That everything would be like it was before
But nights like this it seems are slowly fleeting
They disappear as reality is crashing to the floor

After all this time
I never thought we'd be here
When my love for you was blind
But I couldn't make you see it
That I loved you more than you'll ever know
A part of me died when I let you go

After all this, why?
Would you ever wanna leave it
Maybe you could not believe it
That my love for you was blind
But I couldn't make you see it
That I loved you more than you will ever know
A part of me died when I let you go

Habis Akal

Kembali malam menjadi musuh waktu
Pagi menjadi teman berduka

Saya harusnya menyadari jika kembali ke situasi ini, selalu ada kemungkinan untuk merasakan hal ini lagi.
Takut untuk tidur, karena saya tahu ketika terbangun jauh di dalam hati ada rasa kehilangan yang teramat lalu berhasil membuat luka yang menyebar.

Berapapun banyaknya pertanyaan yang ada, tak ada jawaban terlebih jalan keluar.
Hanya berjalan kosong
Senyum dan tawa menjadi topeng

Seperti halnya orang lain. maka saya harus bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan
Namun rasanya, saya tidak melakukan kesalahan apapun
Saya merasa telah berjalan dalam rel yang ada
Tetapi saya harus terseret dalam sakit...

Semakin saya bertanya, lagi-lagi hanya pedih dan kata-kata yang saya tidak tahu mengapa saya pantas mendapatkan ini.
Seperti pasir hisap, semakin meronta maka semakin dalam terjebak.
Maka saya hanya akan diam, toh diampun saya tetap sakit.

Berdesir pedih itu
Entah... Ini yang harus saya nikmati saja lalu saya syukuri
Ataukah ada pilihan lain...

Mengikis Arogan

Kali ini
Saya merasa memang saya benar tidak lagi muda
Saya merasa tidak perlu lagi drama dalam hidup seperti dalam opera sabun, yang penuh emosi...tangis lalu tertawa..
Saya rasa saat ini dan sampai nanti, ingin dan hanya mampu menjalankan dan berperan sebagai manusia biasa tanpa lakon berlebih

Ketika mendapati sesuatu sudah sedemikian menyakitkan, lebih baik saya diam
Karena hati tidak lagi cukup kuat untuk menerima yang lebih lainnya.

Adu argumen hanya semakin mengikis hati.
Meskipun diam tidak menyelesaikan apapun.

Saya memang bergantung dengan kebiasaan.
Maka ketika ada sedikit hal yang lain, perih rasanya menyadari itu.
Lalu kembali lagi,
Entah karena benar menua atau benar sudah tak mampu, maka mengirimkan tulisan menyakitkan tak perlu lagi saya lakukan.

Saya hanya berharap, ini hanya penyakit kambuhan...
Ketika sembuh, dan saya masih bisa bertahan
Semua menjadi terasa pantas.