Labels

Senin, 23 Desember 2013

Last Dance

sejengkal waktu yang tersisa, hati-hati menghela nafas.
fajar datang, semua kan usai.
Waktu kami habis menguap, dalam cerita

gelap menghantar batasnya
tanpa sesal, tanpa kecewa
sinar baru, esok pasti datang
semua tak akan sama

gelap kini mari kita nikmati
dekatlah, menarilah
sebelum waktu semakin menipis
ikuti iramanya, seperti biasa

jika cahaya timur gagah mendatangi
berhentilah tanpa berontak
waktunya telah habis
semua sudah tak sama

gelap kini mari kita nikmati
dekatlah, menarilah
ini akan jadi yang terakhir
tersenyumlah, hanya itu yang kita bisa


Untuk musik yang kita nikmati dan tarian yang dimainkan selama beberapa bulan belakangan
indah meski tidak selalu menyenangkan
berbahagia untuk waktu kemarin, saat ini, dan esok

Untukmu dan untuk saya

Jumat, 29 November 2013

Dieng Plateau

Ke Dieng !!!!!
Mengikuti tour ala Backpacker dalam rangka turut serta meramaikan dan menyaksikan Dieng Culture Festival 2013. 
Perasaan saya? Benar-benar bersemangat.

Saya membayangkan sejuknya udara pegunungan, permukiman di dataran tinggi dengan ketinggian 2.000 m dpl (menurut sumber : Wikipedia) dengan adat yang masih kental. Saya benar-benar antusias!

Melakukan perjalanan malam bersama 4 orang teman dengan bis yang ala kadarnya selama lebih dari 10 jam dari Terminal Lebak Bulus menuju Kabupaten Wonosobo cukup membuat pantat pegal. Sesampai di Kabupaten Wonosobo kami dijemput dengan bis mini menuju Dieng.

Sesampainya di Dieng, benar-benar seperti yang dibayangkan. Penduduk yang ramah, udara yang sejuk, pemandangan yang indah, benar-benar menyegarkan otak yang sebelumnya 'dipacu' untuk memikirkan pekerjaan yang rutin.

Kami lalu diajak berkeliling mengunjungi Telaga Warna lalu Kawah Sikidang. Dikarenakan hujan, tidak lama kami diantar ke homestay yang cukup nyaman. Makanan yang disajikan di tempat kami menginap cukup enak. Namun yang pasti, setiap kali hendak minum sesuatu yang hangat, harus segera dihabiskan, karena dijamin, tidak lama akan dingin.

Setelah cukup istirahat, kami mengunjungi rumah warga, hanya sekedar bertamu, ngobrol-ngobrol. Kami disuguhi minuman hangat dan martabak, sambil duduk di depan tungku, karena dinginnya.

Selanjutnya kami berjalan ke satu tanah lapang yang sudah disulap menjadi arena wisata. Ada panggung yang mempertunjukkan wayang. Ada satu spot yang untuk makan jagung bakar dan api unggun besar, lalu banyak lagi yang menarik disana. Malam harinya lampion beterbangan menghiasi malam di Dieng.



Kami kembali ke homestay, lalu tidur sebentar dan jam 3 subuh kami bangun untuk berjalan mengejar sunrise. Mendaki bukit yang cukup terjal lumayan membuat ngos-ngosan. Namun terbayar setelah sampai puncaknya, karena pemandangannya yang luar biasa dan bisa membuat takjub. Matahari kala itu malu-malu, tapi tidak menjadi persoalan. 


Selanjutnya adalah acara puncaknya. Acara ruwatan.
Dimulai dengan arak-arakan bocah gimbal, yang mana menurut kepercayaan penduduk Dieng, bocah gimbal ini adalah raja tanpa mahkota. Anak-anak spesial yang dipercaya merupakan keturunan dari pepunden atau leluhur pendiri Dieng dan dipercaya ada makhluk gaib yang "menghuni" dan "menjaga" rambut gimbal ini. Biasanya anak-anak yang berambut gimbal ini  memiliki perilaku yang tidak biasa juga, mereka cenderung lebih aktif dari bocah lainnya, kuat dan ada pula yang nakal.
Acara ruwatan ini merupakan ritual pembersihan, yang mana bocah-bocah gimbal ini akan dipotong rambutnya. Karena jika dibiarkan sampai dewasa, warga Dieng percaya akan terjadi musibah yang melanda wilayahnya. Namun, pemotongan rambut ini tidak sembarangan, bukan hanya ritualnya yang istimewa namun keinginan bocahnya itu sendiri untuk dipotong rambutnya adalah sangat penting. Jika bocah ini belum bersedia namun tetap dipaksakan untuk dipotong, gimbalnya ini akan tumbuh lagi dan lagi. 

Pada saat acara ruwatan, keinginan bocah-bocah ini harus dikabulkan. Beragam permintaannya, ada yang meminta jambu, ada yang meminta sepeda hingga baju pesta. 

Setelah prosesi pemotongan rambut, kamipun kembali ke homestay, packing  lalu bersiap pulang kembali ke Jakarta.

Dieng, pemandangan yang luar biasa, suasana yang nyaman, budaya dan tradisi yang unik, saya senang, saya puas, saya punya cerita.









Rabu, 27 November 2013

Jakarta Siang Ini

Melewati jalanan Jakarta yang pikuk sudah biasa.
Namun jika menyengaja berdiam diri dan mengamati pikuk itu, tidak biasa saya lakukan.
Alhasil saya mencobanya
Tanpa maksud.

Duduk di bangku yang cukup nyaman di tepi trotoar.
Entah saya sedang apa.
Pemandangan tentunya jauh dari hijau, udara yang dihirup jauh dari segar,
Panasnya cuaca berhasil mengeluarkan bulir bulir keringat dari tubuh, seperti sauna!

Baru saja mau beranjak, seorang yang berumur kurang lebih sama duduk di sebelah.
Dia bertanya hal-hal standar bagi dua orang yang baru berkenalan.
Saya akhirnya mencoba sopan, tetap tinggal dan menyandarkan punggung pada sandaran yang juga cukup nyaman.

Entah kenapa, tiba-tiba dia bercerita hal yang pribadi dan seolah tengah meminta pendapat :
"Jika kamu dekat dengan seseorang, yang bisa menjamin kehandalanmu untuk orang itu, yang mau mendengarkan semua cerita, yang mau memeluk ketika seorang yang dekat denganmu itu sedang gusar, dan macam-macamnya, namun kamu tidak dilibatkan pada hari besarnya apa yang kamu lakukan?"

Saya tidak mengira, untuk seseorang yang baru saya temui, dia akan menanyakan hal yang tidak biasa. Saya diam lalu berpikir. Namun saya tetap bingung. 

"Kenapa menanyakan hal itu? Sedang mengalaminya?", saya bertanya mengulur waktu untuk membiarkan otak menemukan jawaban yang tepat.

"Ya", jawabnya cepat. "Bagaimana?", dia bertanya lagi seperti tidak sabar menunggu jawaban saya.

Menghela nafas, "sudah pernah menawarkan pada orang yang dekat denganmu itu mengenai keinginanmu untuk dilibatkan dalam hari besarnya itu?" Dia mengangguk, "tanpa perlu saya tawarkanpun dia seharusnya tahu".

Seperti kata seorang teman : yang 'seharusnya' buat kita, tidak berarti 'seharusnya' untuk orang lain. Dalam arti, mengerti akan sesuatu hal, yang menjadi keharusan buat kita, bukan berarti orang lain akan mengerti itu dan merasa memiliki keharusan untuk mengerti pula.

"Buat saya tidak menjadi masalah, lagipula saya bukanlah orang yang suka bertanya", ujar saya."Kenapa?" tanyanya lagi. "Saya memang bukan orang yang suka menanyakan hal-hal yang tidak terkait dengan saya. Bukan bermaksud egois, namun saya tidak memahami batasan-batasan yang dapat dimaklumi oleh orang lain. Apa yang disukai dan tidak disukai, apa yang mengganggu dan tidak mengganggu. Untuk saya, jika ada yang ingin diceritakan, mereka dapat bercerita apapun pada saya. Termasuk untuk keterlibatan yang kamu singgung tadi. Bukan hanya dengan orang yang dekat, siapapun jika memerlukan bantuan, mereka dapat bicara langsung. Jika saya tidak dilibatkan, saya akan berpikir memang bantuan saya tidak atau belum diperlukan dan itu semestinya tidak menjadi persoalan besar yang harus saya pikirkan. Namun pada beberapa kondisi saya akan  mencoba santun untuk tetap menawarkan bantuan."

"Jika orang yang dekat denganmu melibatkan orang lain? Orang lainnya itu justru yang punya sejarah tidak menyenangkan buatmu, bagaimana?", dia bertanya lagi.

Saya tersenyum, "jadi poinnya itu?"
Dia mendongak, "maksudnya?"
"Ya, bukan dilibatkan atau tidaknya, tapi pihak ketiganya itu. Itu yang menjadi persoalan buatmu saat ini. Saya hanya mengira."

Dia terdiam.

"Dulu saya pernah dekat dengan seseorang, dia menceritakan persoalan hidupnya pada orang lain dan bukan saya. Saya sempat tersinggung pada waktu itu. Sampai akhirnya dia mengatakan bahwa tidak semua dapat kita lakukan. Ada hal yang memang sudah pada porsinya.
"Pada saat itu, saya merasa tidak dihargai, tidak dianggap dan hal negatif lainnya. Bukan menemukan jawaban - jika memang saat ini kamu sedang mencari jawaban - tapi hal-hal seperti itu semakin membutakan.
"Akhirnya, kembali berpikir positif saja. Itu yang paling benar, lalu tidak membiarkan diri kita memiliki ekspektasi yang berlebih. Baik pada diri sendiri maupun orang lain.
"Jika teman dekatmu lebih memilih orang lain yang membantunya, mungkin dia memiliki pemikiran lain yang baik untuknya, untukmu. 
"Kamu tahu? Saya hanya akan bisa menguraikan hal-hal standar, yang bisa kamu baca di banyak buku mengenai motivasi dan situs di internet mengenai cara berpikir positif. Tapi, apapun itu, meliputi kepala dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa dia begini, kenapa dia punya cara begitu, kenapa dia bertindak begitu dan lain-lain hanya akan menjerumuskanmu pada pemikiran lain yang makin buruk.
"Saya pernah pada posisi seperti itu. Karenanya saya bisa mengatakan demikian. Akhirnya, saya hanya akan berhenti bertanya. Bertanya mengenai orang lain, siapapun itu, termasuk dia yang dekat dengan saya, karena itu sia-sia."

Dia terdiam, saya juga terdiam.

"Hari besar apa?" saya hanya ingin menunjukkan sedikit simpati dengan bertanya demikian. "Pernikahan", dia menjawab lirih. 
"Sahabatmu akan menikah?", saya bertanya dengan sesopan mungkin.
"Bukan", dia menjawab singkat.
Saya mengangguk.

"Kenapa tidak bertanya lagi?" dia menoleh pada saya seperti keheranan.
"Oh maaf, saya lupa kamu tidak suka bertanya", dia seperti sedang meralat dan koreksi akan pertanyaannya tadi.

"Saya minta maaf, tidak bisa menjawab pertanyaan dan persoalanmu," saya berucap tulus.
"Saya berterima kasih untuk jawabanmu, saya justru terbantu. Mungkin benar, saya sebaiknya berhenti bertanya."

Mungkin untuk beberapa perkara, banyak bertanya malah membuat sesat. Apalagi bertanya pada diri sendiri perihal orang lain, bertanya pada orang lain dengan cara yang salah, bertanya pada orang lain mengenai orang lainnya lagi. 

"Terima kasih ya sudah menemani dan menjawab pertanyaan saya tadi. Maaf mengganggu waktunya. Saya pamit ya." dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya.

Saya menyambut tangannya, "sama-sama".

Lalu saya beranjak dari tempat duduk itu, wajah saya lengket dengan keringat dan debu. Saya harus pulang lalu mandi. Saya menaiki kendaraan saya, lalu saya tiba-tiba berpikir, bagaimana jika saya sedang dekat dengan seseorang, namun dia melibatkan orang lain yang punya sejarah kurang menyenangkan buat saya, atau yang menyisakan trauma buat saya pada proses menuju hari besarnya? 
Saya menggeleng-gelengkan kepala dengan sekuatnya. Seolah cara itu bisa mengenyahkan pikiran macam-macam yang sedang bermain-main dalam kepala saya.
Lalu saya kenakan helm saya, berkata dalam hati : "segala sesuatu sudah diatur oleh-Nya, besok akan seperti apa tidak perlu saya khawatirkan. Jikalaupun saya akan mengalami seperti yang dialami orang yang duduk bersama dengan saya tadi, itu adalah hal yang sudah diatur. Yang patut saya lakukan adalah berbuat baik, bersikap baik, tidak menyakiti orang lain."

Bukan tidak ingin dianggap manusia rendah, berbuat
tidak baik pada orang lain bisa juga membawa dampak yang luar biasa. Terbukti pada orang tadi, tampak linglung karena merasa kecewa, dan bisa saja menjadi tersakiti. Dampaknya bisa seperti itu bahkan lebih, maka benarlah wajib buat saya berusaha keras untuk tidak menyakiti siapapun juga. Jika tidak terelakkan, maka saya harap bukan karena kuasa saya.

Jakarta siang ini, saya mendapat pengalaman lebih dari yang saya harapkan.
Pikuk Jakarta yang sudah biasa, dan cerita manusia yang tidak biasa.


Rabu, 06 November 2013

Harap Maklum

Adalah seorang yang bekerja pada satu perusahaan, diwajibkan bersikap baik dan bekerja keras.
Pimpinannya? Kadang-kadang saja terlihat bekerja.
Sesekali bahkan sikapnya sama sekali tidak meng-enak-kan.
Yang memaklumi? Tentu saja yang bekerja padanya.
Ya, karena kebutuhan, tak jarang pekerja melakukan lebih dari yang seharusnya namun sekaligus menerima makian secara bersamaan.
Dongkol, namun harus diterima.

Adalah seorang pecinta, melakukan ribuan cara untuk menaklukan hati pujaannya, dengan rela tentunya. 
Sang pujaan? Kadang-kadang saja terlihat manis.
Sesekali bahkan sikapnya sama sekali tidak menyenangkan.
Yang memaklumi? Tentu saja pecinta itu.
Ya, karena kebutuhan, karena rasa kasih, karena banyak hal, pecinta itu tulus melakukan hal yang bahkan tidak pernah terbayangkan, namun menerima omelan secara bersamaan.
Tak pernah dongkol, sedih sesekali namun harus diterima.

Seperti itulah..
Merasa diperlukan, maka dianggap lumrah bersikap tak baik
Merasa memerlukan, maka wajib baginya selalu bersikap baik

Seperti itulah..
Merasa diperlukan, maka dianggap lumrah apapun yang dilakukan terhadapnya, sebaik apapun, tidak berpengaruh apapun untuknya.
Merasa memerlukan, maka wajib baginya selalu menerima, meskipun segala tindakan dan keberadaannya tidak dianggap istimewa.

Ini terjadi di banyak tempat, pada banyak kondisi.
Prosentase memaklumi, besar berpihak pada siapapun yang merasa membutuhkan.
Terselip arogansi yang muncul ketika merasa dibutuhkan.
Memang tak bisa disangkal.

Namun, ini hanya terjadi di banyak tempat, pada banyak kondisi.
Tidak semua...
Tidak selalu...



Senin, 28 Oktober 2013

Enggano dan Tas Merah

Saya sudah siapkan pil kina dan mental
Mendengar kabar bahwa di salah satu pulau terluar Indonesia ini merupakan peringkat kedua penyebar penyakit malaria, cukup membuat saya was-was. Tidak ada salahnya antisipasi meminum pil kina.

Perjalanan luar biasapun saya mulai dengan dua orang rekan. Dua belas jam waktu tempuh dengan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Pulo Tello Bengkulu menuju Enggano, dilakukan pada malam hari. Mengarungi Samudera Indonesia, ombaknya tentunya tidak dapat dikatakan 'biasa'. Biaya perjalanan yang hanya Rp. 49.000,- tidak cukup menghibur dan mengurangi rasa was-was.

Sesampai di Enggano, kami harus mencari tumpangan yang dapat membawa kami ke basecamp. Sampai akhirnya dengan dibantu oleh Koramil setempat kami dititipkan pada Pa A Buki (merupakan sebutan bagi ketua para kepala suku). Dengan kendaraan milik Pa A Buki, yaitu mobil dengan bak terbuka, kami duduk di depan samping pak sopir, memulai melewati jalanan Pulau Enggano yang sama sekali tidak bagus, pun melewati hutan-hutan dengan pohon yang sangat besar dan rindang.

Setibanya di Basecamp kami turun dan kagetlah karena tas merah milik saya tidak ada di bak belakang tempat kami menyimpan barang-barang dan perbekalan kami. Pasalnya, surat tugas kami ada di tas itu, dan notebook yang berisi data-data pribadi dan pekerjaan saya yang menurut saya penting ada di dalam tas itu pula. Panik, tapi akhirnya tidak ada yang dapat kami perbuat.

Betapa warga di pulau terluar ini sangat simpatik dan mereka mampu berempati. Setelah hari saya kehilangan tas, hampir setiap warga yang berpapasan ketika kami berjalan, menanyakan mengenai tas itu. Di pulau terpencil, kami seketika menjadi terkenal. Bukan karena pekerjaan yang kami lakukan, namun karena tas itu.

Kami tak menyangka Pa A Buki dibantu warga lainnya masih berusaha keras untuk menemukan tas itu. Bagaimanapun, akses keluar masuk Enggano hanya dapat dilakukan 1 - 2 kali seminggu, sehingga sangat mungkin tas itu tidak berada jauh dari tempat kami tinggal.

Pa A Buki bersama warga yang merasa bersalah (meskipun tentunya ini bukanlah kesalahannya), yang terus berusaha menemukan, membuat saya dan rekan saya terharu. Bagaimana tidak, mungkin kepedulian seperti ini, sudah sangat jarang kami dapatkan, dan ini kami terima dari orang yang baru kami kenal.

Selang tiga hari, saya memutuskan untuk berbicara pada Pa A Buki dan beberapa warga, bahwa saya sudah merelakan tas dan isinya tentu saja. Meskipun mereka tetap bersikukuh untuk mencari, saya pastikan bahwa dengan kami diterima dengan baik di pulau tersebut sudah lebih dari cukup, tidak perlu sampai kami merepotkan mereka dengan harus dan membuat mereka merasa memiliki kewajiban untuk mencari tas.

Malam terakhir kami di Enggano, adalah malam dimana pekerjaan kami sudah hampir selesai. Ketika kami tengah duduk dalam gelap, karena belum ada akses listrik disini, munculah Pa A Buki, dengan membawa kabar baik. Tas saya ditemukan! Seketika kami saling merangkul. Spontan saja.

Tidak hanya mereka yang masih memiliki rasa empati, mereka juga jujur. Pak Puput adalah penemu tas itu. Dia menjaga tas itu sampai berhasil menemui Pa A Buki. Tempat tinggal Pak Puput yang berjauhan dari tempat kami tinggal dan tempat tinggal Pa A Buki, menyebabkan informasi tidak sampai dengan cepat. Ditambah akses jalan yang kurang baik, dan juga tidak adanya sinyal untuk alat komunikasi.

Enggano, salah satu lokasi paling berkesan selama saya bepergian dan melaksanakan survey. Selain karena pengalaman kehilangan tas, keramahan penduduk, ikan yang besar-besar tak jarang menjadi santapan lezat kami, hutannya yang menantang karena belum terjamah, tentunya juga karena panoramanya yang luar biasa. Mengenai malaria, saya rasa itu terjadi beberapa tahun belakang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Enggano, sama sekali.





Rabu, 23 Oktober 2013

Lihat Apa Sekarang

Sudah dikatakan berkali - kali
Tidak perlu menanyakan "kenapa"
Tidak perlu menanyakan "kenapa?"
Tidak perlu tahu apa-apa

Sudah dikatakan berkali-kali
Jangan tahu banyak, ini bukan ilmu pasti
Jangan tahu banyak, ini bukan sejarah
Tidak perlu tahu banyak hal

Sudah dikatakan berkali-kali
Tidak punya wewenang, maka diamlah
Tidak punya wewenang, maka tenanglah
Tidak perlu mengacungkan jari tanda protes

Sudah dikatakan berkali-kali
Kamu diam, kamu akan tetap disitu
Kamu diam, kamu akan tetap aman
Tidak perlu banyak tingkah

Sudah dikatakan berkali-kali
Baik itu nyaman
Baik itu tenang
Tidak perlu nakal terlebih galak

Sudah dikatakan berkali-kali
Tapi tidak mendengar
Tapi tidak mengerti
Tapi merasa kurang
Maka lihatlah sekarang

Semua karena ulahmu
Maka lihat apa sekarang,, (akibatnya)

Janganlah Marah

Saya tengah membayangkan, jika saya berpasangan dengan seorang yang baik menurut sebagian orang namun dia akan menjadi pemarah yang murkanya tidak dapat ditoleransi oleh sebagian orang pula. Akan seperti apa saya?
Dia yang baik, bisa menjadi makhluk hijau besar seperti Hulk, atau seperti Wolverine yang tiba-tiba bisa mengeluarkan cakar tajam dari tangannya ketika marah besar atau merasa terganggu.
Apakah saya akan menjadi seorang yang sabar, yang memaklumi, yang menerima dan akan merangkul dengan lembut ketika pasangan saya tengah marah. 

Atau saya akan menjadi orang yang takut terhadapnya, membiarkan kemarahannya, tidak peduli bahkan menjauhi karena tidak menerima sisi menakutkan dari pasangan saya.

Atau jika saya dekat dengan seseorang yang sedang berusaha membuang sisi arogan dalam dirinya apakah saya mampu berjuang bersama-sama menahan, membantu membuang amarah dalam dirinya, seperti teman-teman si hiu dalam film kartun Finding Nemo. Ya hiu yang tengah berusaha menjadi makhluk yang baik seketika berubah garang karena mencium bau darah, dan teman-temannya dengan payah berusaha menenangkannya.

Akan ada di posisi mana saya berada jika saya berhadapan dan dekat dengan seorang yang seperti itu?

Sebagian besar diri saya memilih menjadi teman, pasangan atau sahabat yang mampu merangkul, menenangkan, dan membantu menghilangkan arogansinya.
Ya, saya berpikir demikian karena sayalah arogan itu.

Banyak yang tidak menerima kenyataan bahwa saya memiliki sisi yang sangat buruk. Mungkin pula jika saya adalah bukan saya, saya akan jengah dan tidak nyaman pula berdekatan dengan seorang yang mampu marah dan kasar seperti yang bisa saya lakukan meski tanpa menyengaja.

Lalu muncul pertanyaan sinis, lalu saya harus selalu bersikap baik meskipun saya terganggu? Lalu saya hanya akan diterima jika saya adalah anak yang baik, sopan dan tidak bertingkah? Lalu saya hanya boleh menjadi seorang yang menelan sepahit apapun perlakuan orang lain?
Jawabannya, Ya.
Karena memang seperti itulah (mungkin) seharusnya.

Sekali saja saya tidak baik, saya akan ditinggalkan. Saya hanya boleh menerima tanpa boleh protes. Kebanyakan akan takut lalu beranjak. Kebanyakan akan tidak nyaman dan pergi dengan seketika karena tersakiti, tanpa memberi kesempatan. Wajar memang demikian. Siapapun tidak ingin dilukai dan terluka. 
Lalu jika saya terluka, terima saja dengan cara yang baik.

Seperti itulah..

Tidak ada yang benar-benar menerima seseorang dengan utuh dan seutuhnya. Mungkin sayapun demikian.

Terlupa

Adalah saat dimana saya meminta sesuatu yang bisa menggiring saya pada satu keadaan yang menyenangkan, sangat nyaman, dan bahagia
tapi, saya lupa bahwa hal itu pula yang bisa membawa saya pada titik yang cukup rendah pada diri saya
Seperti saat ini, saya tidak mengenali diri saya
Saya rasa ada yang hilang

Entah kemana

Saya perlu menyesali permintaan yang lalu?
Saya rasa tidak
Karena tidak ada yang salah,
Hanya saya tidak tepat menyikapinya

Ya, seperti halnya benda yang melambung tinggi dan sangat tinggi, ketika dia terjatuh dia akan berantakan
Saya lunglai mengingat saya harus berada disini lagi
Saya meminta bahagia, saya dapatkan
Saya lupa meminta bahagia itu akan tinggal lama, jika bisa tidak pernah pergi

Karena saya sekarang berantakan

Mungkin sebaiknya memang tidak pernah menaiki ketinggian
Sedikit saja bisa terjatuh, lalu rapuh

Jika tidak pernah berada di tempat yang tinggi mungkin saya tidak akan pernah hancur.
Sekaranglah terjadi, saya menjadi sangat enggan
Enggan, dan sangat enggan

Rabu, 02 Oktober 2013

The Brave One

Menunggu terkadang bukan menjadi hal yang membosankan ketika kita ditemani teman yang bisa mengajak kita melupakan waktu. Dengan membicarakan banyak hal, berbagi berbagai macam cerita dan bahkan mampu mengajarkan kita banyak hal.

Seperti halnya sekarang, dulu pekerjaan sayapun mengharuskan saya menemui banyak orang, yang tak jarang orang yang harus ditemui adalah orang – orang yang terbiasa ingin selalu ditunggu. Dia, teman saya yang seorang lelaki, selalu mengantar saya dan ketika menunggu dia selalu punya cerita yang macam-macam. Terkadang hal yang lucu, terkadang cerita yang bisa membuat saya merinding dan terharu.

Cerita ini yang selalu saya ingat :

Dia, pria dewasa beranak dua. Dia memiliki hati yang luar biasa lapang dan luas, saya mengakui itu. Adalah satu waktu dia mencintai seorang wanita, dan berhasil menikahinya. Kedua anak yang sekarang sudah cukup besar adalah buah cinta mereka. Cerita mengenai mereka menikah, memiliki dua orang anak adalah hal menyenangkan dan biasa saya dengar, biasa saya lihat. Di sekitar saya banyak kisah cinta yang bahagia, yang bisa membuat saya turut senang.

Yang menjadikan dia tidak biasa adalah, ketika dia dipaksa harus berpisah dengan wanita yang dia cintai tersebut, ibu dari anak-anaknya dan dia ikhlas menerimanya. Seperti sinetron yang pastinya sebagian besar kaum ibu suka. Cerita mengenai keterlibatan mertua dalam rumah tangga dan pengaruh roh serta hal mistis menjadi bumbu dalam cerita dia. Benar-benar mirip dalam beberapa sinetron.

Dia merasa memiliki rumah tangga yang cukup bahagia kala itu, hingga pada satu waktu istrinya selalu sakit. Kebiasaan menyukai makanan pedas menjadikan organ dalam perutnya tidak berfungsi baik, itu jika dilihat dari sisi medis. Namun sayang, sang mertua berpikir lain, “itu bukan penyebabnya”, ujarnya. Sang mertua mulai mencari jalan lain, dia mendatangi beberapa orang pintar yang pada akhirnya sebagian orang pintar itu berpendapat bahwa sang wanita akan selalu sakit dan kehidupan ekonomi akan buruk jika masih bersuamikan teman saya tadi, laki-laki yang baik hatinya.

Alhasil, sang mertua benar-benar menyuruh anaknya berpisah dengan teman saya. Teman saya berjuang sebisa mungkin untuk mempertahankan rumah tangganya yang tanpa masalah kala itu. Namun sia-sia. Cara sang mertua lebih dahsyat (tanpa perlu  saya jelaskan), ini membuat teman saya akhirnya menyerah.

“Jika kamu ingin anak saya bahagia, kamu lepaskan dia. Dia akan menjadi sehat, dia tidak akan kesulitan ekonomi. Dia harus menikah terlebih dahulu dengan orang lain. Setelah itu kamu bisa mendapatkannya kembali”, ucapan sang mertua. Sakit sekali mendengarnya. Dia ingin marah pada orang-orang yang disebut pintar tadi. Dia tahu istrinya bahagia dengannya. Dia yakin sakit itu bukan karena dia penyebabnya. Lalu apa itu pandangan mengenai dia harus menikah dulu? Kenapa istrinya menjadi korban? Dia merasa kehidupan mereka baik-baik saja. Kenapa sang mertua selalu berpikir ekonominya kurang? Akhirnya dia tahu bahwa memang sang mertua yang menginginkan harta berlebih, yang untuk saat ini memang belum dapat dia berikan.

Dia akhirnya mau melepas istrinya. Dia rela, dia ridho, dia ikhlas. Bukan karena dia percaya si pintar dan sang mertua. Tapi dia tahu istrinya akan menjadi lebih tersiksa dengan paksaan dan celaan, makian, dan hal negatif lainnya dari sang mertua.

Cerita ini masih belum luar biasa? Ya, memang belum. Yang menjadikan luar biasa adalah, pada saat proses istrinya harus berkenalan, pendekatan dengan calon suami barunya, teman saya selalu mengantar (mantan) istrinya tersebut. Luar biasa besar hatinya.

Dia mengantar wanita yang dia cintai ke sebuah taman untuk menemui calon suaminya, dia terkadang menunggu di pinggir taman, terkadang dia pulang ke rumah memeluk anak-anaknya. Lalu kembali ke taman beberapa jam setelahnya untuk menjemput wanita tadi pulang ke rumah ibunya. Dia mengakui, kadang dia ingin menangis. Tapi dia tahu itu sia-sia, bahkan mungkin akan membuat wanita yang ia cintai semakin sakit.
Saat ini, wanita itu telah menikah dan sudah memiliki anak dari lelaki lain. Wanita itu tetap masih sering sakit, dan teman saya lelaki yang baik hati masih sering mengunjungi mantan istrinya, membawakan buah untuk wanita itu, dan menyuapi ketika wanita itu sakit tak berdaya. 

Sang (mantan) mertua? Tak jarang menangis menyaksikan kebesaran hati lelaki ini, dari balik pintu. Entah jika dia menyesali atau hanya sekedar terharu.


Cerita ini nyata adanya, saya benar-benar melihat bahwa hati sebenar-benarnya memang tak berbatas. Saya sering berpikir jika saya ada di posisi tersebut, entah apa jadinya saya.


Namun kini, meskipun tidak sama, kebesaran hati yang dimiliki teman saya, sedang dituntut dirasakan oleh saya juga. Jika terkadang saya menangis, dan merasa pilu, saya minta itu dibenarkan. Tapi percayalah, jika saya tanya pada hati saya, jauh di dalamnya saya benar-benar ikhlas. Saya memang belum memiliki kualitas hati seperti milik teman saya, saya hanya sedang berusaha. 

Lagu Sedih

Udara pagi ini, udara yang biasa kuhirup
Secangkir kopi pagi ini, rasa yang biasa kuminum
Berita pagi ini, masih dengan berita yang itu-itu saja
Angin pagi ini, angin wajar yang biasa kurasa
Aku tidak bosan

Hanya sebuah lagu yang tiba-tiba bermain dalam pikiranku, adalah bukan lagu yang biasa
Aku tidak menyukainya
Lagu lama tentang hal yang tidak menyenangkan, yang bisa membuatku gusar
Aku tidak menyukainya

Bingkai-bingkai cerita mengenai hal lampau dan gambaran mengenai masa depan, serta musik yang ada di kepalaku,
Aku tidak menyukainya.

Udara pagi ini, aku bahagia menghirupnya
Seharusnya selalu seperti itu.
Secangkir kopi pagi ini, aku bahagia menikmatinya
Seharusnya selalu seperti itu.
Semua orang berhak bahagia, begitu pula denganku...semestinya.
Seandainya tidak ada lagu sedih itu...



Rabu, 18 September 2013

Karena Saya ........ Kamu

Hei..

Jangan menangis..
Kamu sudah terbiasa berbesar hati bukan?

Jangan menangis,
Saya mungkin tidak akan menjadikan semua baik-baik
Namun saya bisa mendampingi sampai kamu merasa baik

Jangan menangis,
Jika gundah tidak pernah ada, tidak pula kamu akan mengerti tenang
Jika sedih tak pernah datang, senang menjadi tidak luar biasa.

Jangan menangis,
Sampai habis waktunya, saya akan dampingi

Jangan menangis,
Saya menyayangimu bahkan mungkin hingga lewat masanya.

Diraih Bukan Dialami

Kembali bicara mengenai pencapaian. Layaknya manusia yang telah meraih sesuatu utamanya yang diidamkan, saya jelas akan senang dan lebih dari itu, saya akan bahagia.

Ya, saya mengerti bahwa bahagia adalah harus dicapai bukan sekedar dialami. Lalu kini? Saya hanya tengah mengalami bahagia.

Saya sedang addict (mungkin) terhadap sesuatu, ya, kebersamaan dengan seseorang. Yang saya tahu pasti ini hanya sementara. Mungkin malam ini, besok pagi, atau beberapa hari mendatang itu akan lenyap. Tapi jelas membekas dalam diri saya.

Saya berpikir dan berpikir ulang, saat ini jika dibuat perumpamaan saya sedang asyik dengan zat adiktif yang bisa membuat saya tersenyum, tertawa, sekaligus sedih. Saya kecanduan.

Besok ketika zat itu tidak ada lagi saya juga tahu saya akan mengalami sakit seperti layaknya pemadat yang sedang mengalami sakau. Tapi juga melepaskan,..oke...sebut saja kebiasaan, kebiasaan ini tidak juga membuat tenang.

Oh, (tanpa bermaksud sinis) hanya berpihak pada saya saja tentunya dilema ini. Lagi-lagi seperti zat adiktif itu, zat itu tidak akan terpengaruh sama sekali jika saya mendekati atau menjauhi sekalipun.

Seandainya ini terjadi pada orang lain, dan saya adalah penonton yang berhak memberi komentar, saya akan terang-terangan mengatakan sudahi dan jangan semakin tebuai.

Saya tidak terbuai, dan bukan tanpa usaha juga saya ingin menyudahi. Berkali-kali pernah saya coba namun saya hanya mendapati diri saya sakit fisik dan hati. Lalu saya beranggapan, saya hanya belum siap.

Sore tadi terlintas, bagaimana jika ini membuat saya trauma. Bukan bermaksud drama. Tapi apa sebenarnya rencana yang disiapkan untuk saya? Saya rasanya berbuat sebaik yang seharusnya. Lalu beruntun akhirnya seperti yang sebelum-sebelumnya. Argh, lagi-lagi saya pamrih.

Ya, bisa jadi setelah ini saya enggan mencoba lagi.

Saya tahu betul rasanya bahagia, seperti halnya sakit dan sedih. Tapi saya benar-benar ingin meraih dan mencapai kebahagiaan, tidak hanya mengalami. Yang cukup dialami hanyalah sedih dan sakit itu.  

Kamis, 12 September 2013

Achievement

Saya rasa sebagian besar manusia selalu menginginkan hal yang mapan, stabil dan sepertinya jarang ada yang menginginkan sesuatu hal yang tanpa pencapaian.
Layaknya pekerja yang selalu ingin menapaki jenjang karir, mendambakan jabatan yang tidak terhenti di level "bawahan", tak jarang yang menginginkan kekuasaan dan banyak  lainnya. 
Begitu pula menurut saya terkait dengan hubungan antar manusia itu sendiri, khususnya dengan seseorang yang bisa dikatakan dekat dengan dia, atau lebih eksplisitnya adalah seseorang yang dia sayang.

Umumnya manusia jika diberi rasa suka, rasa sayang, dia akan ingin selalu dekat dengan orang yang dimaksud, dan kebanyakan akan mengukuhkan menjadi pasangannya lalu hidup bersama selamanya. Termasuk saya, selalu mengharapkan hal itu bisa terjadi pada diri saya. 

Berpasangan memang lebih baik, lebih menyenangkan dan fakta dari berbagai risetpun membuktikan bahwa memiliki pasangan membuat seseorang lebih bahagia, dengan garis bawah pasangan yang dia inginkan, bukan paksaan dan bukan karena keharusan.

Saya sebelumnya adalah orang yang sinis ketika mendengar kalimat, Saya bahagia jika kamu bahagia, meskipun kamu dengan orang lain. Menurut saya, keikhlasan seperti itu sebenarnya menyakitkan dan terlalu dibuat-buat. 
Percaya atau tidak, saya sekarang ada di posisi itu. Bukan konteks bahagianya yang tengah saya alami, namun kerelaan (karena tidak juga dapat dikatakan ikhlas) untuk dia (orang yang saya care terhadapnya) berpasangan dengan yang lain. 

Lalu apa hubungannya dengan bahasan di awal? Ya, ketika kita atau lebih tepatnya saya, peduli dan menyukai seseorang, saya ingin dekat dengan dia, dan pencapaiannya adalah bisa hidup bersama sampai tua. Jenjang yang meningkat seperti itu tidak beda jauh dengan karier toh

Selama ini saya melakukan sesuatu hal yang seperti dikatakan tadi, bahwa saya berharap ada pencapaian dari setiap apa yang tengah saya usahakan.

Lalu kini? Saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya peduli terhadap seseorang dan dekat dengannya, saya berusaha untuk menjadi orang yang reliable untuknya, saya mengasihinya, namun sekaligus saya dihadapkan bahwa tidak lama lagi dia akan berpasangan dengan seseorang yang sayangnya bukan saya.

Saya melakukan dan mengusahakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada achievement-nya. Jika saya membayangkan di depan sana adalah dia dengan yang lain, tanpa perlu saya jabarkan mengenai perasaan, itu benar-benar bisa membuat saya terkulai.

Saat ini, saya bahagia dan sekaligus sedikit tidak bahagia ketika dekat dengannya. Bukan hal yang luar biasa jika saya pilih tetap dekat dengannya kan

Entah apa yang saya lakukan. Saya juga sedang tidak dapat memilah yang baik dan yang tidak untuk diri saya,

Pada akhirnya saya hanya berpikir, ini hanya proses belajar saya yang lain mengenai hal yang semestinya saya sudah pahami betul. Saya jalankan sesuai skenario yang ditulis bukan oleh saya, tanpa berharap sedikitpun darinya dan dari apapun. 

Mungkin saja pencapaian lain yang tak terbayangkan yang akan saya dapatkan di depannya, yang optimisnya dapat menjadikan saya lebih baik.


Rabu, 31 Juli 2013

Selamat Malam Penguasa Hati

Selamat malam penguasa hati...

Bolehkah saya meminta banyak hal dan menanyakan banyak hal pula?
Bolehkah?

Saya lihat hati ini banyak lebamnya, dari manakah dia berasal? Jika karena kesalahan saya sendiri, lalu mengapa kau biarkan saya merasakan ini? Atau jika asal mulanya karena dia, mengapa kau biarkan dia memperlakukan itu dengan sangat mudah? Jika dia begitu dimudahkan olehmu, mengapa sulit yang saya dapat?

Selamat malam penguasa hati...

Saya lihat hati ini tidak baik-baik, mengapa dia mengalami kondisi seperti itu? Jika karena saya menumpahkan rasa pada dia itu berasal, mengapa kau biarkan alirannya sangat deras sehingga sulit terbendung? Atau jika dia yang membiarkan semua masuk, mengapa dia tidak menampung dalam wadah yang saya kira telah dia siapkan namun ternyata tidak, sehingga semua yang mengalir hanya sekedar lewat lalu dia buang percuma. Karena itukah? Mengapa kau biarkan dia? Mengapa kau biarkan saya?

Selamat malam penguasa hati...

Saya lihat hati seakan jatuh dari sanggaannya, mengapa dia seperti itu? Apa yang saya khawatirkan ketika dia menganggap sayapun tidak? Apakah kau telah membiarkan pula saya bergantung padanya, dan berharap banyak padanya? Atau karena ego saja ketika disadarkan bahwa ketiadaan saya tak berdampak padanya, dan kehadiran sayapun tak memiliki arti?

Selamat malam penguasa hati...

Waktu pagi adalah waktu yang saya takuti, kau tahu itu. Ketika saya harus menghadapi hari yang tak sama, seperti sebelumnya. Bisakah saya meminta fajar besok menjadi sahabat saya? Hati berdamai dengan keadaan, lalu fajar lusa menjadi teman baik. Bisakah? Jika kau ijinkan hatinya tak pernah mencari saya, bisakah kau biarkan hati saya tidak menoleh padanya lalu bergegas membaik? Bisakah saya mendapat kemudahan seperti dia mendapatkan itu? Bisakah?

Selamat malam penguasa hati...

Saya sangat ingin hati ini baik-baik, kau ijinkan?



if there's no Hope

Banyak yang bilang yang namanya hidup itu akan lebih berarti jika ada yang namanya harapan. Jika harapan terpenuhi orang-orang akan bersuka cita, senang, bahagia. Sementara jika tidak terpenuhi, akan kecewa, sedih, kesal dan lain-lain. Namun tidak jarang juga beberapa orang positif dalam bersikap, ketika harapan tidak terpenuhi, sebagian mereka akan tetap tenang, lalu bangkit dan belajar.

Lalu saya termasuk kelompok mana?

Untuk beberapa hal, saya bisa sangat positif, namun sayangnya jika menyangkut hati akan menjadi kebalikannya. Maka wajar jika menyangkut hati, saya lebih memilih untuk mengenyahkan "harapan". Tapi pilihan itu hanya angan-angan, justru ketika menyangkut hatilah harapan selalu timbul dan menggebu-gebu.

Saya terkadang iri dengan mereka yang bersikap biasa ketika mereka kecewa. Bersikap acuh ketika keadaan tidak seperti yang mereka harapkan. Sementara saya? Lagi-lagi jika menyangkut hati, ketika saya kecewa dampaknya sangat luar biasa. 

Saya bosan dengan harus selalu tiba-tiba demam, tiba-tiba asam lambung meningkat, tiba-tiba sakit kepala, tiba-tiba tidak bisa berbuat apa-apa untuk sesuatu yang diakibatkan oleh kecewa. 

Pada akhirnya saya tidak ingin berteman dengan harapan jika dia dekat dengan rasa sakit yang mengakibatkan sakit pada bagian yang lain. Namun nyatanya bagaimana? Harapan selalu bergelayut dalam hati saya. Artinya kecewa dapat mudah meresap dan sakit seperti selalu tampak jelas.

Seandainya saja harapan tidak ada

Kamis, 02 Mei 2013

OCD

Kadang agak mengganggu ya, ketika saya harus memastikan sesuatu dan mengecek ulang akan sesuatu berkali - kali. Entah itu karena tidak yakin sudah benar dan selesai, atau memang khawatir yang berlebihan, atau karena lupa.

Teman atau bahkan keluarga sering komentar begini : "selalu seperti itu". Ya, ketika saya telah mengunci pintu rumah, saya akan kembali cek ulang. Mungkin sebagian orang tahu, saya akan berkali-kali mengecek pintu kendaraan, jika sudah saya parkirkan. Saya bisa berlari balik arah jika saya sudah menjauhi areal parkiran. Untuk motorpun begitu, saya akan tersiksa jika tidak kembali memastikan sudah benar dikunci.

Tapi ini bukan sekedar kunci, bahkan flushing di water closet-pun saya akan kembali mengecek itu. Meskipun saya sudah berada jauh dari toilet saya akan kembali, karena saya merasa tidak yakin atau mungkin lupa.

Siapapun yang dititipi barang oleh saya ketika bepergian mungkin pernah dibuat kesal, karena di tengah perjalanan saya akan menanyakan barang itu, dan kalau tidak ditunjukkan bahwa memang benar ada, saya belum yakin. Bukan karena tidak percaya, hanya ada yang mengganjal dan ganjalan itu harus dienyahkan dengan cara dibuktikan.

Jika saya memasukkan apapun dalam tas, begitu pula. Saya bisa tiba-tiba harus mengecek kembali dan memastikan semua sudah masuk. Meskipun sering pula ada yang terlupa.

Bagaimana dengan kartu atm, ini adalah sesuatu yang bisa saya cek lebih dari yang lain. Kalau saya keluar dari bilik atm, saya akan kembali menarik dompet untuk pastikan kartu sudah dimasukkan. Tidak berapa lama, saya akan bisa berhenti berjalan, untuk mengulang itu.

Banyak hal yang saya rasa, saya melakukan itu berulang dan berlebihan. Tapi ketika tidak dilakukan ini akan mengganggu diri saya. Saya akhirnya merasa perlu bertanya pada yang mengerti.

Hasilnya : Saya menjurus pada OCD katakanlah semi, ya semi Obsessive Compulsive Disorder. Agak mengejutkan tapi juga akhirnya saya paham dengan diri saya. 

Saya bisa tiba-tiba memiliki rasa was-was ketika tidak yakin akan sesuatu. Lalu saya juga bisa terganggu dan geli atau merinding jika melihat sesuatu tidak pada tempatnya.

Saya bisa terganggu jika melihat ada satu butir nasi di atas karpet atau di atas kursi, dan jijik sendiri. Saya juga tidak akan meminum sesuatu dari yang bukan tempatnya. Tidak juga akan meminum sesuatu dari tempat minum yang tidak biasa menurut saya. Katakanlah gelas plastik yang tidak bisa saya lihat isinya. Yang paling mengganggu, saya akan sangat merasa jijik jika melihat tissue bekas tergeletak dimana saja, namun memindahkan pada tempat yang benar juga saya tidak akan mau melakukannya.

Saya sendiri bukan orang yang rapi, barang saya tergeletak dimana saja. Jawaban dari ahli,  jika selama saya tidak mengganggap itu kotor dan menjijikan, saya memang tidak akan terganggu.

Saya tidak malu mengakui ini, juga tidak akan bangga. Justru mungkin setelah tahu saya bisa menahan dan melawan rasa was-was tersebut dan bisa berhenti atau setidaknya mengurangi hal yang dilakukan berulang-ulang.

Kalau menurut ahlinya : jika dilihat dari cirinya yang belum 'parah', saya harus bisa mengurangi itu. Mendorong diri sendiri melawan untuk dapat menghilangkan 'predikat' ini.


Rabu, 17 April 2013

Mencintai Al-Qur'an

Sering kali saya mendapatkan pesan singkat yang mengingatkan untuk saya selalu dan tidak lalai membaca Al-Qur'an.
Malu sebenarnya dengan tidak kontinyu-nya kebiasaan ini. Bila dibandingkan dengan yang saya lakukan lainnya, yang oke itu bisa dikatakan tidak penting sama sekali, saya lebih betah melakukan hal tidak penting itu. Harusnya malu. Bahkan setelah saya tuliskan inipun tidak menjadi jaminan saya akan lebih konstan dan benar membaca juga mengkajinya. 

Setiap memikirkan ini, ada rasa sedih, betapa saya adalah manusia yang selalu mengabaikan. Entah sampai kapan saya akan menjadi seperti ini. Astagfirullahaladzim.

 Karena hati di bawah kekuasaan Allah, dan saya tidak mampu menguasai hati saya sendiri. Semoga dengan sering berdoa ini dan mengharap Ridho-Nya, saya bisa benar mencintai Al-Quran.




اللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِيْ وَنُورَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

Ya Allah, sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu (laki-laki), anak dari hamba-Mu (perempuan). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, takdir-Mu berlaku atasku, dan ketetapan-Mu adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, Nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diri-mu, atau yang Engkau sebutkan dalam Kitab-mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang diantara hamba-Mu (Nabi), atau yang Engkau sembunyikan di alam keghaiban-Mu; hendaknya Engkau menjadikan Al-Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku, dan penolak rasa gundahku.

Aamiin..

Senin, 15 April 2013

Menjadi tidak di Dasar


Menunggu dan berharap memang sangat dekat dengan kecewa. Ada satu masa dimana saya seperti menemukan sesuatu yang saya kira itu yang diidamkan. Namun tanpa bisa dipaksakan, ternyata sesuatu itu nampaknya urung untuk mendekat. Akhirnya menjauh dan saya sulit untuk melihatnya kembali.

Kecewa, tentu terbesit. Meski berkali saya sadari segala sesuatu adalah sudah pasti atas kehendak-Nya, namun terkadang ada penolakan untuk saya bisa terima begitu saja. Saya kembali berusaha, tanpa berlebihan.

Bukankah tidak sekali ini saya mengalami kekecewaan? Namun kenapa rasanya tetap sulit ketika harus dialami kembali? Mengatasinya sangat tidak mudah. 

Meyakini yang terbaik ada di depan sana dan penantian akan berujung, memang salah satu upaya diri sendiri untuk mengikhlaskan yang saat ini terjadi. Benar, tidak mudah menjadi manusia yang pasrah. 

Kecewa memang kadang menyakitkan. Ingin sekali berjauhan dengan itu. Namun saya harus mengingat ini : jika saya takut untuk kecewa, maka saya akan tidak punya harapan. Lalu saya akan menjadi makhluk yang selalu ada di dasar. 

Ikhtiar saja, belajar lebih keras untuk menjadi manusia yang ikhlas dan berdoa. Mudah ditulis dan diucapkan, sulit diterapkan, tapi tidak ada lagi negosiasi, ini yang harus dilakukan.  Saya yakin Tuhan tidak buta dan tuli.