Melewati jalanan Jakarta yang pikuk sudah biasa.
Namun jika menyengaja berdiam diri dan mengamati pikuk itu, tidak biasa saya lakukan.
Alhasil saya mencobanya
Tanpa maksud.
Duduk di bangku yang cukup nyaman di tepi trotoar.
Entah saya sedang apa.
Pemandangan tentunya jauh dari hijau, udara yang dihirup jauh dari segar,
Panasnya cuaca berhasil mengeluarkan bulir bulir keringat dari tubuh, seperti sauna!
Baru saja mau beranjak, seorang yang berumur kurang lebih sama duduk di sebelah.
Dia bertanya hal-hal standar bagi dua orang yang baru berkenalan.
Saya akhirnya mencoba sopan, tetap tinggal dan menyandarkan punggung pada sandaran yang juga cukup nyaman.
Entah kenapa, tiba-tiba dia bercerita hal yang pribadi dan seolah tengah meminta pendapat :
"Jika kamu dekat dengan seseorang, yang bisa menjamin kehandalanmu untuk orang itu, yang mau mendengarkan semua cerita, yang mau memeluk ketika seorang yang dekat denganmu itu sedang gusar, dan macam-macamnya, namun kamu tidak dilibatkan pada hari besarnya apa yang kamu lakukan?"
Saya tidak mengira, untuk seseorang yang baru saya temui, dia akan menanyakan hal yang tidak biasa. Saya diam lalu berpikir. Namun saya tetap bingung.
"Kenapa menanyakan hal itu? Sedang mengalaminya?", saya bertanya mengulur waktu untuk membiarkan otak menemukan jawaban yang tepat.
"Ya", jawabnya cepat. "Bagaimana?", dia bertanya lagi seperti tidak sabar menunggu jawaban saya.
Menghela nafas, "sudah pernah menawarkan pada orang yang dekat denganmu itu mengenai keinginanmu untuk dilibatkan dalam hari besarnya itu?" Dia mengangguk, "tanpa perlu saya tawarkanpun dia seharusnya tahu".
Seperti kata seorang teman : yang 'seharusnya' buat kita, tidak berarti 'seharusnya' untuk orang lain. Dalam arti, mengerti akan sesuatu hal, yang menjadi keharusan buat kita, bukan berarti orang lain akan mengerti itu dan merasa memiliki keharusan untuk mengerti pula.
"Buat saya tidak menjadi masalah, lagipula saya bukanlah orang yang suka bertanya", ujar saya."Kenapa?" tanyanya lagi. "Saya memang bukan orang yang suka menanyakan hal-hal yang tidak terkait dengan saya. Bukan bermaksud egois, namun saya tidak memahami batasan-batasan yang dapat dimaklumi oleh orang lain. Apa yang disukai dan tidak disukai, apa yang mengganggu dan tidak mengganggu. Untuk saya, jika ada yang ingin diceritakan, mereka dapat bercerita apapun pada saya. Termasuk untuk keterlibatan yang kamu singgung tadi. Bukan hanya dengan orang yang dekat, siapapun jika memerlukan bantuan, mereka dapat bicara langsung. Jika saya tidak dilibatkan, saya akan berpikir memang bantuan saya tidak atau belum diperlukan dan itu semestinya tidak menjadi persoalan besar yang harus saya pikirkan. Namun pada beberapa kondisi saya akan mencoba santun untuk tetap menawarkan bantuan."
"Jika orang yang dekat denganmu melibatkan orang lain? Orang lainnya itu justru yang punya sejarah tidak menyenangkan buatmu, bagaimana?", dia bertanya lagi.
Saya tersenyum, "jadi poinnya itu?"
Dia mendongak, "maksudnya?"
"Ya, bukan dilibatkan atau tidaknya, tapi pihak ketiganya itu. Itu yang menjadi persoalan buatmu saat ini. Saya hanya mengira."
Dia terdiam.
"Dulu saya pernah dekat dengan seseorang, dia menceritakan persoalan hidupnya pada orang lain dan bukan saya. Saya sempat tersinggung pada waktu itu. Sampai akhirnya dia mengatakan bahwa tidak semua dapat kita lakukan. Ada hal yang memang sudah pada porsinya.
"Pada saat itu, saya merasa tidak dihargai, tidak dianggap dan hal negatif lainnya. Bukan menemukan jawaban - jika memang saat ini kamu sedang mencari jawaban - tapi hal-hal seperti itu semakin membutakan.
"Akhirnya, kembali berpikir positif saja. Itu yang paling benar, lalu tidak membiarkan diri kita memiliki ekspektasi yang berlebih. Baik pada diri sendiri maupun orang lain.
"Jika teman dekatmu lebih memilih orang lain yang membantunya, mungkin dia memiliki pemikiran lain yang baik untuknya, untukmu.
"Kamu tahu? Saya hanya akan bisa menguraikan hal-hal standar, yang bisa kamu baca di banyak buku mengenai motivasi dan situs di internet mengenai cara berpikir positif. Tapi, apapun itu, meliputi kepala dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa dia begini, kenapa dia punya cara begitu, kenapa dia bertindak begitu dan lain-lain hanya akan menjerumuskanmu pada pemikiran lain yang makin buruk.
"Saya pernah pada posisi seperti itu. Karenanya saya bisa mengatakan demikian. Akhirnya, saya hanya akan berhenti bertanya. Bertanya mengenai orang lain, siapapun itu, termasuk dia yang dekat dengan saya, karena itu sia-sia."
Dia terdiam, saya juga terdiam.
"Hari besar apa?" saya hanya ingin menunjukkan sedikit simpati dengan bertanya demikian. "Pernikahan", dia menjawab lirih.
"Sahabatmu akan menikah?", saya bertanya dengan sesopan mungkin.
"Bukan", dia menjawab singkat.
Saya mengangguk.
"Kenapa tidak bertanya lagi?" dia menoleh pada saya seperti keheranan.
"Oh maaf, saya lupa kamu tidak suka bertanya", dia seperti sedang meralat dan koreksi akan pertanyaannya tadi.
"Saya minta maaf, tidak bisa menjawab pertanyaan dan persoalanmu," saya berucap tulus.
"Saya berterima kasih untuk jawabanmu, saya justru terbantu. Mungkin benar, saya sebaiknya berhenti bertanya."
Mungkin untuk beberapa perkara, banyak bertanya malah membuat sesat. Apalagi bertanya pada diri sendiri perihal orang lain, bertanya pada orang lain dengan cara yang salah, bertanya pada orang lain mengenai orang lainnya lagi.
"Terima kasih ya sudah menemani dan menjawab pertanyaan saya tadi. Maaf mengganggu waktunya. Saya pamit ya." dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya.
Saya menyambut tangannya, "sama-sama".
Lalu saya beranjak dari tempat duduk itu, wajah saya lengket dengan keringat dan debu. Saya harus pulang lalu mandi. Saya menaiki kendaraan saya, lalu saya tiba-tiba berpikir, bagaimana jika saya sedang dekat dengan seseorang, namun dia melibatkan orang lain yang punya sejarah kurang menyenangkan buat saya, atau yang menyisakan trauma buat saya pada proses menuju hari besarnya?
Saya menggeleng-gelengkan kepala dengan sekuatnya. Seolah cara itu bisa mengenyahkan pikiran macam-macam yang sedang bermain-main dalam kepala saya.
Lalu saya kenakan helm saya, berkata dalam hati : "segala sesuatu sudah diatur oleh-Nya, besok akan seperti apa tidak perlu saya khawatirkan. Jikalaupun saya akan mengalami seperti yang dialami orang yang duduk bersama dengan saya tadi, itu adalah hal yang sudah diatur. Yang patut saya lakukan adalah berbuat baik, bersikap baik, tidak menyakiti orang lain."
Bukan tidak ingin dianggap manusia rendah, berbuat
tidak baik pada orang lain bisa juga membawa dampak yang luar biasa. Terbukti pada orang tadi, tampak linglung karena merasa kecewa, dan bisa saja menjadi tersakiti. Dampaknya bisa seperti itu bahkan lebih, maka benarlah wajib buat saya berusaha keras untuk tidak menyakiti siapapun juga. Jika tidak terelakkan, maka saya harap bukan karena kuasa saya.
Jakarta siang ini, saya mendapat pengalaman lebih dari yang saya harapkan.
Pikuk Jakarta yang sudah biasa, dan cerita manusia yang tidak biasa.
