Labels

Jumat, 29 November 2013

Dieng Plateau

Ke Dieng !!!!!
Mengikuti tour ala Backpacker dalam rangka turut serta meramaikan dan menyaksikan Dieng Culture Festival 2013. 
Perasaan saya? Benar-benar bersemangat.

Saya membayangkan sejuknya udara pegunungan, permukiman di dataran tinggi dengan ketinggian 2.000 m dpl (menurut sumber : Wikipedia) dengan adat yang masih kental. Saya benar-benar antusias!

Melakukan perjalanan malam bersama 4 orang teman dengan bis yang ala kadarnya selama lebih dari 10 jam dari Terminal Lebak Bulus menuju Kabupaten Wonosobo cukup membuat pantat pegal. Sesampai di Kabupaten Wonosobo kami dijemput dengan bis mini menuju Dieng.

Sesampainya di Dieng, benar-benar seperti yang dibayangkan. Penduduk yang ramah, udara yang sejuk, pemandangan yang indah, benar-benar menyegarkan otak yang sebelumnya 'dipacu' untuk memikirkan pekerjaan yang rutin.

Kami lalu diajak berkeliling mengunjungi Telaga Warna lalu Kawah Sikidang. Dikarenakan hujan, tidak lama kami diantar ke homestay yang cukup nyaman. Makanan yang disajikan di tempat kami menginap cukup enak. Namun yang pasti, setiap kali hendak minum sesuatu yang hangat, harus segera dihabiskan, karena dijamin, tidak lama akan dingin.

Setelah cukup istirahat, kami mengunjungi rumah warga, hanya sekedar bertamu, ngobrol-ngobrol. Kami disuguhi minuman hangat dan martabak, sambil duduk di depan tungku, karena dinginnya.

Selanjutnya kami berjalan ke satu tanah lapang yang sudah disulap menjadi arena wisata. Ada panggung yang mempertunjukkan wayang. Ada satu spot yang untuk makan jagung bakar dan api unggun besar, lalu banyak lagi yang menarik disana. Malam harinya lampion beterbangan menghiasi malam di Dieng.



Kami kembali ke homestay, lalu tidur sebentar dan jam 3 subuh kami bangun untuk berjalan mengejar sunrise. Mendaki bukit yang cukup terjal lumayan membuat ngos-ngosan. Namun terbayar setelah sampai puncaknya, karena pemandangannya yang luar biasa dan bisa membuat takjub. Matahari kala itu malu-malu, tapi tidak menjadi persoalan. 


Selanjutnya adalah acara puncaknya. Acara ruwatan.
Dimulai dengan arak-arakan bocah gimbal, yang mana menurut kepercayaan penduduk Dieng, bocah gimbal ini adalah raja tanpa mahkota. Anak-anak spesial yang dipercaya merupakan keturunan dari pepunden atau leluhur pendiri Dieng dan dipercaya ada makhluk gaib yang "menghuni" dan "menjaga" rambut gimbal ini. Biasanya anak-anak yang berambut gimbal ini  memiliki perilaku yang tidak biasa juga, mereka cenderung lebih aktif dari bocah lainnya, kuat dan ada pula yang nakal.
Acara ruwatan ini merupakan ritual pembersihan, yang mana bocah-bocah gimbal ini akan dipotong rambutnya. Karena jika dibiarkan sampai dewasa, warga Dieng percaya akan terjadi musibah yang melanda wilayahnya. Namun, pemotongan rambut ini tidak sembarangan, bukan hanya ritualnya yang istimewa namun keinginan bocahnya itu sendiri untuk dipotong rambutnya adalah sangat penting. Jika bocah ini belum bersedia namun tetap dipaksakan untuk dipotong, gimbalnya ini akan tumbuh lagi dan lagi. 

Pada saat acara ruwatan, keinginan bocah-bocah ini harus dikabulkan. Beragam permintaannya, ada yang meminta jambu, ada yang meminta sepeda hingga baju pesta. 

Setelah prosesi pemotongan rambut, kamipun kembali ke homestay, packing  lalu bersiap pulang kembali ke Jakarta.

Dieng, pemandangan yang luar biasa, suasana yang nyaman, budaya dan tradisi yang unik, saya senang, saya puas, saya punya cerita.