Menunggu
terkadang bukan menjadi hal yang membosankan ketika kita ditemani teman yang bisa
mengajak kita melupakan waktu. Dengan membicarakan banyak hal, berbagi berbagai
macam cerita dan bahkan mampu mengajarkan kita banyak hal.
Seperti
halnya sekarang, dulu pekerjaan sayapun mengharuskan saya menemui banyak orang,
yang tak jarang orang yang harus ditemui adalah orang – orang yang terbiasa
ingin selalu ditunggu. Dia, teman saya yang seorang lelaki, selalu mengantar
saya dan ketika menunggu dia selalu punya cerita yang macam-macam. Terkadang hal
yang lucu, terkadang cerita yang bisa membuat saya merinding dan terharu.
Cerita
ini yang selalu saya ingat :
Dia,
pria dewasa beranak dua. Dia memiliki hati yang luar biasa lapang dan luas,
saya mengakui itu. Adalah satu waktu dia mencintai seorang wanita, dan berhasil
menikahinya. Kedua anak yang sekarang sudah cukup besar adalah buah cinta
mereka. Cerita mengenai mereka menikah, memiliki dua orang anak adalah hal
menyenangkan dan biasa saya dengar, biasa saya lihat. Di sekitar saya banyak kisah
cinta yang bahagia, yang bisa membuat saya turut senang.
Yang
menjadikan dia tidak biasa adalah, ketika dia dipaksa harus berpisah dengan
wanita yang dia cintai tersebut, ibu dari anak-anaknya dan dia ikhlas
menerimanya. Seperti sinetron yang pastinya sebagian besar kaum ibu suka.
Cerita mengenai keterlibatan mertua dalam rumah tangga dan pengaruh roh serta
hal mistis menjadi bumbu dalam cerita dia. Benar-benar mirip dalam beberapa
sinetron.
Dia
merasa memiliki rumah tangga yang cukup bahagia kala itu, hingga pada satu
waktu istrinya selalu sakit. Kebiasaan menyukai makanan pedas menjadikan organ
dalam perutnya tidak berfungsi baik, itu jika dilihat dari sisi medis. Namun
sayang, sang mertua berpikir lain, “itu bukan penyebabnya”, ujarnya. Sang
mertua mulai mencari jalan lain, dia mendatangi beberapa orang pintar yang pada akhirnya sebagian orang pintar itu
berpendapat bahwa sang wanita akan selalu sakit dan kehidupan ekonomi akan
buruk jika masih bersuamikan teman saya tadi, laki-laki yang baik hatinya.
Alhasil,
sang mertua benar-benar menyuruh anaknya berpisah dengan teman saya. Teman saya
berjuang sebisa mungkin untuk mempertahankan rumah tangganya yang tanpa masalah
kala itu. Namun sia-sia. Cara sang mertua lebih dahsyat (tanpa perlu saya jelaskan), ini membuat teman saya
akhirnya menyerah.
“Jika
kamu ingin anak saya bahagia, kamu lepaskan dia. Dia akan menjadi sehat, dia
tidak akan kesulitan ekonomi. Dia harus menikah terlebih dahulu dengan orang
lain. Setelah itu kamu bisa mendapatkannya kembali”, ucapan sang mertua. Sakit
sekali mendengarnya. Dia ingin marah pada orang-orang yang disebut pintar tadi.
Dia tahu istrinya bahagia dengannya. Dia yakin sakit itu bukan karena dia
penyebabnya. Lalu apa itu pandangan mengenai dia harus menikah dulu? Kenapa
istrinya menjadi korban? Dia merasa kehidupan mereka baik-baik saja. Kenapa
sang mertua selalu berpikir ekonominya kurang? Akhirnya dia tahu bahwa memang
sang mertua yang menginginkan harta berlebih, yang untuk saat ini memang belum
dapat dia berikan.
Dia
akhirnya mau melepas istrinya. Dia rela, dia ridho, dia ikhlas. Bukan karena
dia percaya si pintar dan sang mertua. Tapi dia tahu istrinya akan menjadi
lebih tersiksa dengan paksaan dan celaan, makian, dan hal negatif lainnya dari
sang mertua.
Cerita
ini masih belum luar biasa? Ya, memang belum. Yang menjadikan luar biasa
adalah, pada saat proses istrinya harus berkenalan, pendekatan dengan calon
suami barunya, teman saya selalu mengantar (mantan) istrinya tersebut. Luar
biasa besar hatinya.
Dia
mengantar wanita yang dia cintai ke sebuah taman untuk menemui calon suaminya, dia
terkadang menunggu di pinggir taman, terkadang dia pulang ke rumah memeluk
anak-anaknya. Lalu kembali ke taman beberapa jam setelahnya untuk menjemput
wanita tadi pulang ke rumah ibunya. Dia mengakui, kadang dia ingin menangis.
Tapi dia tahu itu sia-sia, bahkan mungkin akan membuat wanita yang ia cintai
semakin sakit.
Saat
ini, wanita itu telah menikah dan sudah memiliki anak dari lelaki lain. Wanita
itu tetap masih sering sakit, dan teman saya lelaki yang baik hati masih sering
mengunjungi mantan istrinya, membawakan buah untuk wanita itu, dan menyuapi
ketika wanita itu sakit tak berdaya.
Sang (mantan) mertua? Tak jarang menangis menyaksikan kebesaran hati lelaki ini, dari balik pintu. Entah jika dia menyesali atau hanya sekedar terharu.
Cerita
ini nyata adanya, saya benar-benar melihat bahwa hati sebenar-benarnya memang
tak berbatas. Saya sering berpikir jika saya ada di posisi tersebut, entah apa
jadinya saya.
Namun
kini, meskipun tidak sama, kebesaran hati yang dimiliki teman saya, sedang
dituntut dirasakan oleh saya juga. Jika terkadang saya menangis, dan merasa
pilu, saya minta itu dibenarkan. Tapi percayalah, jika saya tanya pada hati
saya, jauh di dalamnya saya benar-benar ikhlas. Saya memang belum memiliki kualitas
hati seperti milik teman saya, saya hanya sedang berusaha.