Labels

Rabu, 02 Oktober 2013

The Brave One

Menunggu terkadang bukan menjadi hal yang membosankan ketika kita ditemani teman yang bisa mengajak kita melupakan waktu. Dengan membicarakan banyak hal, berbagi berbagai macam cerita dan bahkan mampu mengajarkan kita banyak hal.

Seperti halnya sekarang, dulu pekerjaan sayapun mengharuskan saya menemui banyak orang, yang tak jarang orang yang harus ditemui adalah orang – orang yang terbiasa ingin selalu ditunggu. Dia, teman saya yang seorang lelaki, selalu mengantar saya dan ketika menunggu dia selalu punya cerita yang macam-macam. Terkadang hal yang lucu, terkadang cerita yang bisa membuat saya merinding dan terharu.

Cerita ini yang selalu saya ingat :

Dia, pria dewasa beranak dua. Dia memiliki hati yang luar biasa lapang dan luas, saya mengakui itu. Adalah satu waktu dia mencintai seorang wanita, dan berhasil menikahinya. Kedua anak yang sekarang sudah cukup besar adalah buah cinta mereka. Cerita mengenai mereka menikah, memiliki dua orang anak adalah hal menyenangkan dan biasa saya dengar, biasa saya lihat. Di sekitar saya banyak kisah cinta yang bahagia, yang bisa membuat saya turut senang.

Yang menjadikan dia tidak biasa adalah, ketika dia dipaksa harus berpisah dengan wanita yang dia cintai tersebut, ibu dari anak-anaknya dan dia ikhlas menerimanya. Seperti sinetron yang pastinya sebagian besar kaum ibu suka. Cerita mengenai keterlibatan mertua dalam rumah tangga dan pengaruh roh serta hal mistis menjadi bumbu dalam cerita dia. Benar-benar mirip dalam beberapa sinetron.

Dia merasa memiliki rumah tangga yang cukup bahagia kala itu, hingga pada satu waktu istrinya selalu sakit. Kebiasaan menyukai makanan pedas menjadikan organ dalam perutnya tidak berfungsi baik, itu jika dilihat dari sisi medis. Namun sayang, sang mertua berpikir lain, “itu bukan penyebabnya”, ujarnya. Sang mertua mulai mencari jalan lain, dia mendatangi beberapa orang pintar yang pada akhirnya sebagian orang pintar itu berpendapat bahwa sang wanita akan selalu sakit dan kehidupan ekonomi akan buruk jika masih bersuamikan teman saya tadi, laki-laki yang baik hatinya.

Alhasil, sang mertua benar-benar menyuruh anaknya berpisah dengan teman saya. Teman saya berjuang sebisa mungkin untuk mempertahankan rumah tangganya yang tanpa masalah kala itu. Namun sia-sia. Cara sang mertua lebih dahsyat (tanpa perlu  saya jelaskan), ini membuat teman saya akhirnya menyerah.

“Jika kamu ingin anak saya bahagia, kamu lepaskan dia. Dia akan menjadi sehat, dia tidak akan kesulitan ekonomi. Dia harus menikah terlebih dahulu dengan orang lain. Setelah itu kamu bisa mendapatkannya kembali”, ucapan sang mertua. Sakit sekali mendengarnya. Dia ingin marah pada orang-orang yang disebut pintar tadi. Dia tahu istrinya bahagia dengannya. Dia yakin sakit itu bukan karena dia penyebabnya. Lalu apa itu pandangan mengenai dia harus menikah dulu? Kenapa istrinya menjadi korban? Dia merasa kehidupan mereka baik-baik saja. Kenapa sang mertua selalu berpikir ekonominya kurang? Akhirnya dia tahu bahwa memang sang mertua yang menginginkan harta berlebih, yang untuk saat ini memang belum dapat dia berikan.

Dia akhirnya mau melepas istrinya. Dia rela, dia ridho, dia ikhlas. Bukan karena dia percaya si pintar dan sang mertua. Tapi dia tahu istrinya akan menjadi lebih tersiksa dengan paksaan dan celaan, makian, dan hal negatif lainnya dari sang mertua.

Cerita ini masih belum luar biasa? Ya, memang belum. Yang menjadikan luar biasa adalah, pada saat proses istrinya harus berkenalan, pendekatan dengan calon suami barunya, teman saya selalu mengantar (mantan) istrinya tersebut. Luar biasa besar hatinya.

Dia mengantar wanita yang dia cintai ke sebuah taman untuk menemui calon suaminya, dia terkadang menunggu di pinggir taman, terkadang dia pulang ke rumah memeluk anak-anaknya. Lalu kembali ke taman beberapa jam setelahnya untuk menjemput wanita tadi pulang ke rumah ibunya. Dia mengakui, kadang dia ingin menangis. Tapi dia tahu itu sia-sia, bahkan mungkin akan membuat wanita yang ia cintai semakin sakit.
Saat ini, wanita itu telah menikah dan sudah memiliki anak dari lelaki lain. Wanita itu tetap masih sering sakit, dan teman saya lelaki yang baik hati masih sering mengunjungi mantan istrinya, membawakan buah untuk wanita itu, dan menyuapi ketika wanita itu sakit tak berdaya. 

Sang (mantan) mertua? Tak jarang menangis menyaksikan kebesaran hati lelaki ini, dari balik pintu. Entah jika dia menyesali atau hanya sekedar terharu.


Cerita ini nyata adanya, saya benar-benar melihat bahwa hati sebenar-benarnya memang tak berbatas. Saya sering berpikir jika saya ada di posisi tersebut, entah apa jadinya saya.


Namun kini, meskipun tidak sama, kebesaran hati yang dimiliki teman saya, sedang dituntut dirasakan oleh saya juga. Jika terkadang saya menangis, dan merasa pilu, saya minta itu dibenarkan. Tapi percayalah, jika saya tanya pada hati saya, jauh di dalamnya saya benar-benar ikhlas. Saya memang belum memiliki kualitas hati seperti milik teman saya, saya hanya sedang berusaha.