Menunggu dan berharap memang
sangat dekat dengan kecewa. Ada satu masa dimana saya seperti menemukan sesuatu
yang saya kira itu yang diidamkan. Namun tanpa bisa dipaksakan, ternyata
sesuatu itu nampaknya urung untuk mendekat. Akhirnya menjauh dan saya sulit
untuk melihatnya kembali.
Kecewa, tentu terbesit. Meski
berkali saya sadari segala sesuatu adalah sudah pasti atas kehendak-Nya, namun
terkadang ada penolakan untuk saya bisa terima begitu saja. Saya kembali
berusaha, tanpa berlebihan.
Bukankah tidak sekali ini saya
mengalami kekecewaan? Namun kenapa rasanya tetap sulit ketika harus dialami
kembali? Mengatasinya sangat tidak mudah.
Meyakini yang terbaik ada di
depan sana dan penantian akan berujung, memang salah satu upaya diri sendiri
untuk mengikhlaskan yang saat ini terjadi. Benar, tidak mudah menjadi manusia
yang pasrah.
Kecewa memang kadang menyakitkan.
Ingin sekali berjauhan dengan itu. Namun saya harus mengingat ini : jika saya
takut untuk kecewa, maka saya akan tidak punya harapan. Lalu saya akan menjadi
makhluk yang selalu ada di dasar.
Ikhtiar saja, belajar lebih keras
untuk menjadi manusia yang ikhlas dan berdoa. Mudah ditulis dan diucapkan,
sulit diterapkan, tapi tidak ada lagi negosiasi, ini yang harus dilakukan. Saya yakin Tuhan tidak buta dan tuli.