Ada waktu dimana saya sama sekali tidak ingin apa-apa. Tetapi tetap melakukan banyak hal yang memang mesti dilakukan. Tanpa menginginkan kepemilikan akan sesuatu. Tidak jarang saya meyakini, bekal saya bukan sesuatu milik saya yang bersifat nyata, namun keyakinan dan kesadaran itu kerap kali terlupakan lalu saya menjadi terlena kembali untuk memburu banyak hal yang sifatnya sementara.
Menjadi ngeri sendiri ketika terlintas pertanyaan, setelah ini apa? Eksplisitnya, setelah masa hidup saya disini habis, apa yang terjadi pada diri saya?
Semoga kajian yang semalam saya lakukan dengan beberapa orang rekan akan hal ini menjadi berkah dan terlebih lagi, membuat saya menjadi lebih mawas diri dan lebih baik.
Banyak orang mendahului kita, kembali pada Sang Khalik. Ketika yang meninggalkan dunia ini adalah keluarga, teman dan orang yang saya kenal, beberapa saya hadir dalam pemakamannya. Berkali-kali juga ketika prosesi pemakaman, ustadz yang memberikan "sambutan" menjelaskan pada kami yang hadir bahwa setiap dari kita yang hidup pasti akan meninggal. Hal yang tengah dihadapkan pada kami kala itu merupakan pengingat bagi kami untuk selalu berbuat baik, karena tidak ada yang akan dibawa melainkan amal dan ilmu, yang tentunya tidak dapat kami lihat secara nyata.
Saya merinding, dan takut. Sayangnya, saya akan terlupa lagi.
Kajian semalam, bukan mengenia mengingat kematian saja. Saya yakini ada masa dimana kontrak saya habis di dunia ini. Karena mati adalah sudah ketetapan, dan tidak perlu diragukan lagi. Lalu saya dan rekan membahas mengenai 'kematian' yang lain. Pembahasan mengenai hidup hanya sementara adalah biasa kita dengar, tetapi jika mati sebelum mati, jarang menjadi pembahasan.
"Apa yang dilakukan dan diinginkan orang yang telah meninggal?", tanya seorang rekan. Saya menjawab, "tidak satupun". Rekan saya yang tentunya lebih paham mengenai ini membenarkan itu, dan menjabarkan bahwa yang meninggal, menyerahkan seluruhnya pada siapapun yang hidup untuk mengurusnya. Memandikan, mengkafani, menyolatkan, lalu memakamkan. Dia yang meninggal tidak akan protes ketika dimandikan dengan air yang kurang bersih, dia tidak akan mengucapkan terima kasih jika dimandikan dengan air bunga. Dia tidak akan protes jika dimakamkan di lahan kotor, tidak juga akan menyalami kita jika dimakamkan di pemakaman mewah. Semua diserahkan pada yang hidup.
Lalu bagaimana dengan kita yang masih hidup? Mengurusi hal yang patut dan baik saja seharusnya yang dilakukan. Namun seandainya saya sanggup dan mampu saya ingin mati juga, sebelum mati (meninggal dunia).
Proses ketika kita mengurusi mayat hingga menguburkan, itu adalah poin utama yang harus saya sadari. Bahwa menyerahkan pada yang hidup adalah keharusan. Lalu siapa yang hidup yang sebenar-benarnya? Hanya satu, Allah. Saya ingin bisa mencapai tahap ini, bahwa saya mati (sebelum mati), dan menyerahkan sepenuhnya diri saya pada Yang Maha Hidup.
Kembali saya menuliskan disini adalah sebagai pengingat, untuk diri saya utamanya. Saya yang selalu protes ketika sesuatu tidak sesuai harapan, ketika sesuatu melenceng dari yang dirancang, semoga setidaknya setelah ini, tidak lagi melakukan hal itu. Perancang besar adalah Dia saja. Seharusnya saya malu dengan arogansi dan kesombongan. اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ