Saya pikir 2 hari 'liburan' di Bandung, bisa diselingi dengan mengerjakan laporan yang dikejar deadline..
Tapi sia-sia saya bawa 2 buku yang tebalnya melebihi bantal saya ke Bandung, karena jangankan dibuka dan dibaca untuk bisa saya jadikan referensi dalam laporan saya, tapi disentuhpun tidak.
Bukan karena ternyata saya harus menepati janji untuk menemui beberapa teman di Bandung, bukan juga karena saya harus memenuhi kebutuhan keluarga saya yang perlu hiburan untuk kemudian saya ajak ke tempat sesuai yang mereka mau, seperti rutinitas akhir minggu kalau saya di Bandung.
Tapi karena sejak hari Sabtu pagi sampai Minggu malam, saya harus disibukkan dengan sms-sms dan telepon yang cukup membuat saya letih.
Setiap orang punya cara untuk bisa merasa lelah..
Saya, lebih baik disuruh survey naik turun bukit, menggali Tempat Pengelolaan Sampah hingga malam hari, begadang bermalam-malam mengerjakan laporan, saya tidak pernah merasa sampai selelah ini, dibandingkan harus melewati 2 hari seperti 2 hari yang lewat.
Proses klarifikasi seperti kemarin, dimana saya harus menjelaskan satu hal yang tidak saya sukai membuat saya benar-benar kepayahan. Ya, ketika saya harus dihadapkan dengan yang namanya penawaran produk dan harus menolak itu, saya benar-benar kesulitan ketika harus menjelaskan alasannya yang membuat orang lain kecewa.
Total lebih dari puluhan telepon yang saya angkat dan juga tidak saya angkat. Belum lagi sms-sms yang dibaca saja sudah bisa membuat saya capek, apalagi membalasnya. Saya tidak melebih-lebihkan tapi memang kenyataan.
Memiliki 3 nomor pribadi, menjadi tidak pribadi lagi.
Maaf, saya tidak ingin menyinggung profesi pemasar, tapi sungguh untuk yang satu kemarin benar-benar bisa membuat saya naik darah. Bukan hanya menyita waktu, tapi benar-benar menguras emosi.
Saya dituntut untuk paham pekerjaannya yang dikejar target, sayapun ingin demikian..
Target yang berbeda mungkin, dia dikejar untuk menjual produknya, sedang saya harus menyelesaikan laporan yang harus dimasukkan hari Senin siang. Saya perlu tenang, tidak dirongrong seperti ini. Otak saya seketika mandek, belasan batang Sampoerna tidak bisa membuatnya lancar.
Pemasar itu sukses membuat saya tidak produktif, sukses membuat saya ingin 'membakar' gedung tempatnya bekerja..
Pagi tadi saya kembali ke Jakarta seperti orang tolol, kembali membawa buku yang beratnya cukup lumayan dan tentunya tanpa satu katapun yang saya ketik apalagi berhasil menyusun satu bentuk laporan.
Saya tidak ingin orang itu datang lagi....