Siapa yang paling benar? Saya, kamu atau mereka?
Siapalah kita ini, hingga merasa punya hak untuk menilai?
Menjalani sesuatu yang baik dengan cara baik itulah yang perlu dilakukan, selanjutnya dikembalikan pada-Nya.
Tak jarang karena keangkuhan dan merasa paling benar, menyakiti orang lain menjadi dihalalkan. Lagi-lagi, siapalah kita ini?
Sayapun sepertinya sama seperti sebagian orang itu.
Tanpa berpikir mengenai hati, hati yang dibiarkan kotor, dan hati mereka yang terusik. Padahal kesempurnaan jauh sekali dari diri ini.
Terganggu dengan teman yang banyak cakap, lalu tanpa berani mengingatkan kadang hanya mampu bergunjing.
Terganggu dengan sifat teman yang tidak menyenangkan menurut kita, kembali bergunjing yang menjadi aktivitas.
Terlupa bahwa bukanlah kita pencipta itu.
Lalu menjadi hak kita untuk menilai?
Bukankah sedih rasanya jika teman yang kita cintai, saudara yang selalu ingin kita lindungi, orang tua yang kita kasihi menjadi bulan-bulanan orang lain. Lalu kenapa saya dan kita harus selalu memiliki kemampuan untuk menyakiti saudara, teman, orang tua mereka dengan selalu membicarakan hal yang tidak baiknya. Baik dan buruk bukan kita menakar.
Termasuk ketika melihat sesama kita yang memiliki keterbatasan fisik. Lalu kita sering mengatakan hal kurang baik, bahkan sampai berkata amit-amit atau naudzubillah min dzalik.
Padahal bisa jadi mereka itu makhluk yang lebih dicintai Tuhan, dan kitalah yang patut dikasihani.
Bahkan, acap kali kita dibantu oleh orang lain, tetapi mengomentari keburukannya (menurut kita) yang dilakukan si penolong. Entah ketika lapar, kita diberi makan, bukan terima kasih dengan tulus yang diucapkan tetapi malah berkomentar soal rasa yang kurang pas.
Mungkin pernah kita tinggal semalam atau dua malam di rumah seseorang, bukan berterima kasih, malah mengomentari kamar mandi yang kotor, tempat tidur yang kurang empuk, atau bahkan menjadi kurang ajar dengan berani membicarakan keburukan pemilik rumah. Mungkin banyak sekali yang lainnya yang tak pantas dilakukan karena melukai orang lain.
Maka kita benar-benar telah menjadi orang yang tidak bersyukur, dan memang justru kita yang lebih pantas dipandang oleh manusia lain dan dia berkata naudzubillah min dzalik.
Apa yang kita lakukan, semestinya melihat kembali pada diri kita.
Menerima jika kita diperlakukan tidak baik? Bersedia jika kita menjadi bahan pergunjingan orang lain?
Terlebih lagi, ketika kita menghina orang lain, bagaimana dengan Sang Pencipta? Pantas kita menghina-Nya?
Semoga kita dilindungi oleh Tuhan. Mencintai makhluknya wujud cinta kita pada-Nya juga bukan?