Bukan terakhir karena nanti kami akan saling berjauhan dan setelah itu saya tak lagi memiliki 'teman' dekat.
Tetapi terakhir hingga nafas tak lagi saya miliki, tetapi apakah izin-Nya akan ada dan cuma-cuma diberikan pada saya?
Mencintainya adalah mudah, tanpa syarat dan bertele-tele.
Perasaan yang timbul tidaklah dibuat-buat, meskipun membuatnya mau dan mungkin percaya adalah belum saya dapatkan.
Hidup adalah pilihan, dan saya memilih dia.
Tidak banyak pertemuan yang telah kami jalani, tetapi selalu setelah itu, perasaan semakin menggebu dan semakin saya berharap dia adalah benar untuk saya.
Komunikasi tidak selalu berjalan baik, tetapi mungkin memang harus seperti itu. Bahwa hari tidak selalu siang, ada malam untuk ditaklukkan. Setelah itu, biarkan hati menerima kebaikan dan mengesampingkan keburukan.
Setiap kesalahan, adalah pasti pernah dilakukan. Tak lelah bersyukur, bahwa pembicaraan, percakapan lampau yang tidak menyenangkan hanya cukup sampai saat itu, tidak lagi untuk diungkit ungkit.
Dia yang merasa tak sempurna, namun selalu sempurna membuat hari-hari saya berwarna.
Maka sedih, senang, tawa, duka, berbaur dalam warna yang tak dapat digambarkan, hanya indah rasanya.
Tuhan, saya benar-benar menginginkannya...
Jika berlebihan adalah tak baik, maka cukupkanlah perasaan saya hanya olehnya. Tan
pa merasa kurang bahkan lebih. Cukupkanlah waktu yang akan saya lewati hanya dengannya dan olehnya.Tanpa pernah ada penyesalan, hanya syukur yang meluap.
Semoga dia adalah yang terakhir untuk saya,,,