Labels

Kamis, 26 Maret 2009

Forgiven but not Forgotten

Aku Lintang, berdesah dalam hela yang sangat panjang.

Mungkin benar sakit ini dia rasakan juga, tetapi mengapa aku hanya ingin berlari tanpa perlu ia bersamaku lagi? Merasakan sakit bersama, serta menyembuhkan luka dengan kasih bersama. Aku tak ingin.

Tiada ucapan yang dapat kuutarakan
Goresan penapun rasanya akan sia-sia.

Yang kusesali adalah justru penyesalan itu. Mengapa selalu ditempatkan di ujung, sehingga selalu menjadi tak ada makna. Selalu hal ini yang enggan aku dengar, aku rasa, sakit.

Malam ini rasanya baik-baik saja, sampai akhirnya dia yang sungguh kucinta membiarkan amarahnya kembali meledak yang akupun tak tahu sebabnya. Selalu aku kembali merasa tidak berbuat satupun cela yang dapat membuat gunung meletus. Ada apa?

Hingga akhirnya lelah yang kurasa, memantapkan hati untuk meninggalkan dan melepaskan hubungan yang kunilai sudah sangat tak sehat ini. Untuk apa? Untuk apa kuteruskan jika hanya dia dan dia yang harus menjadi utama dan bukan kita.

Egoiskah dia, sehingga hanya keegoisannya yang harus kumengerti? Atau dengan memiliki pikiran ini menjadikan aku menjadi seorang yang egois pula?

Seandainya saja mampu, aku sudah hapus semua hal tentang kami, kita, aku dan dia. Karena hanya dengan mengingatnya saja walaupun tanpa sengaja, hanya sembilu yang kurasa.

Segala salah, cela sudah termaafkan. Namun tidak dengan ingatanku.
Hatiku memaafkan, sungguh sayangku. Namun otakku tidak.