Labels

Senin, 30 Maret 2009

bukan hanya jenuh

klo dibilang jenuh, itu udah jauh lewat dari masa-masa itu
2 tahun sudah belajar disini, memeras otak, tenaga, keringat, waktu dan banyak hal.

semenjak beralih job desk, hanya jadi seorang yang banyak mengeluh.
sekali lagi yang nampak diluar tidak berarti menggambarkan apa yang dirasa di dalamnya.

Kalo orang liat saya masih seperti bersemangat mengerjakan pekerjaan ini, hingga masih dapat menyusun rencana kerja tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh tim, hingga mendapat tugas yang secara lisan dan eksplisit harus dapat jadi koordinator untuk teman2 yang lain, bukan berarti bisa sepenuh hati mengerjakan dan menjalankannya.

Jika diibaratkan ini adalah hubungan seperti sepasang kekasih, saya sudah tidak lagi cinta terhadap pasangannya. Ketika semua yang dilakukan akhirnya selalu menjadi selalu dihitung-hitung, rasanya lebih baik ditinggalkan, daripada memberi luka.
Luka yang mungkin dapat timbul karena saya tidak bekerja optimal yang berdampak 'kerusakan' pada naungannya.
Bekerja adalah benar harus dengan hati, namun bukan berarti harus main hati. Yang pastinya bisa membuat keduanya 'terluka'.

Ini adalah yang kedelapan, dan dari record tujuh sebelumnya, jika sudah mulai mengeluh menjalaninya, pastinya 'ditinggalkan'.

Benar ini adalah universitas, institut, akademi atau apapun orang bisa menyebutnya, karena selain di tempat kuliah dulu, disini juga salah satu tempat yang memang berpengaruh besar dalam pengembangan diri, dan pengembangan pemikiran.

Memang yang benar dan sebenar-benarnya adalah tidak hanya bicara keinginan, melainkan tindakan. Bulan lalu sudah cukup untuk menimbang-nimbang untuk lanjut atau tidak, dan sekarang akhirnya sudah sampai pada keputusan untuk tidak dilanjutkan disini. Mungkin bulan ini adalah bulan terakhir. Tindakan sekarang adalah mulai hunting pekerjaan yang baru. Tidak peduli dimana lokasinya.

Jika 2 tahun sebelumnya sangat tidak keberatan jika waktu pribadi tersisihkan untuk diberikan penuh bagi perusahaan, rasanya sekarang sudah tidak lagi. Ketika hari libur dipaksa untuk harus bekerja, rasanya berat memikirkan bahwa tidak dapat menghabiskan waktu untuk bermain dengan si bocah gendut, menghabiskan waktu dengan keluarga, menghabiskan waktu dengan si tembem. Semuanya menjadi semakin dipaksakan, yang akhirnya bukan lagi istilah setengah-setengah yang muncul melainkan seperduapuluh dan seperdelapan puluh. Porsi terkecil dari bagian hati yang masih mengijinkan untuk tetap berada disini.

"Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah"