Masih terlalu pagi untuk otak ini bisa bekerja keras
Tapi pagi ini, belum lagi adzan berkumandang otak sudah 'dipaksa' berpikir sesuatu yang tidak mampu dipikirkan. Pagi buta dengan berbagai pikiran berkecamuk dan hati yang merasa dikoyak-koyak entah oleh benda tumpul atau tajam seperti apa, namun rasa perihnya teramat.
Perlu rasanya melihat sudah pukul berapa ini, lalu kuraih telepon genggam yang tergeletak sembarang di tepi tempat tidur, kulihat layarnya dan waktu menunjukkan pukul 3:50 pagi. Sudah terdengar suara lelaki melafadzkan ayat-ayat Qur'an dari speaker mesjid dekat rumah, rasanya membuat nyaman sekali namun tetap ada yang merayap dalam tubuh, dalam hati, yang akhirnya membuat tetesan-tetesan air keluar dari kedua mata. Tersadarlah bahwa lagi-lagi aku harus merasakan yang namanya kehilangan.
Seperti yang pernah dirasakan dulu sekali, ketika seorang sahabat, teman sekaligus orang terdekat memilih untuk tidak lagi bersama, setiap bangun pagi harus perasaan ini yang terasa. Ya, perasaan sakit, perasaan kosong, perasaan kehilangan.
Yang dilakukan hanyalah memandang ruangan kamar yang cukup terang dengan nanar. Setiap pagi hanyalah berharap semua yang terlewati, yang meyakitkan adalah tidak pernah ada.
Setiap pagi berat rasanya, menerima kenyataan bahwa dia yang terdekat, yang selalu mengisi hari, yang selalu memperhatikan, yang selalu memberikan tawa sudah tidak lagi ada. Sakit yang tidak dapat tergambarkan, menularkan sakitnya pada seluruh sendi dan tulang yang mungkin beranjak rapuh.
Pagi ini, apakah harus pula aku bersikap dengan ketidak berdayaanku?
Aku pikir tidak. Tidak ingin apa yang menerangi hati harus lenyap tanpa aku bisa berusaha, walaupun semakin berusaha semakin sakit dan semakin membuat lubang dihati makin menganga.
Secara otomatis jari memainkan telepon genggam yang memang sedang digenggam, lalu memilih menu panggilan terakhir dan menekan satu nama yang sudah sangat kuhafal, lalu sekejap muncul peringatan memanggil...
Terdengar bunyi ring back tone yang juga mulai terbiasa terdengar, berharap yang memiliki nomor cepat menerima panggilan, atau mungkin sedikit harapan dia merasakan apa yang tengah aku rasakan. Kesulitan tidur karena sakit dalam hati, memikirkan apa yang malam sebelumnya terjadi dan memutuskan untuk meralat apa yang telah menjadi keputusannya.
Bersyukur, telepon diangkat, memang ada kekhawatiran dia akan menolak panggilan atau membiarkan atau mengabaikan panggilan.
Harusnya ada rasa senang dan tenang ketika dia menerrima panggilan ini, tetapi yang terasa malah sebaliknya, hati semakin sakit, sedih makin menyeruak, karena suara mesra yang biasa terdengar kini berubah menjadi suara yang tanpa intonasi, tidak bersahabat, sangat dingin.
Disela subuh pagi ini, lagi-lagi air mata berurai....
Lintang...
Telahkah aku menjadi pendosa bagimu yang tidak lagi dapat dimaafkan? Tunjukkanlah dosa apa yang membuatmu begitu berhasrat untuk lari dariku?
Arogan yang telah mengerak dalam sifatku, mungkin ini penyebab hancur semua bangunan yang tengah dibuat hingga ke pondasi yang sebelumnya susah payah dipancangkan.
Kemudian seraya aku berpikir, siapakah pasangan yang tepat bagi para arogan, jikalau seorang sabar sekalipun letih dan menyerah untuk mendampingi?
Lintang, rasanya jauh sekali saat ini, dariku dari hatiku, dari harapan.
Bahkan sinarnya kini semakin samar dan terasa berangsur menghilang.
Lengan yang sama sekali tidak kuat ini tidak lagi mampu menggapai...
Putus asa...
Aku yang berharap
Aku yang mencinta
Aku yang menyakiti
Aku yang menghancurkan
Aku yang berdoa
Aku yang terluka
Aku yang tak berdaya
Aku yang ingin kau tinggalkan
Hanya aku dan tangisku....
Untuk inikah wahai penguasa alam Kau ciptakan mata di depan? Untuk selalu melihat ke depan, visioner, untuk menggapai hari di depan.
Lalu serta merta muncul pikiran bahwa hari ke depan tidak lagi ada Lintang, mungkin akanlah kosong sebuah ruangan yang disebut orang dengan hati, dan itu sakit...hampa.
Aku yang berjanji
Aku yang menyesal
Aku yang arogan
Aku yang menyayangimu
Putus asa...
to be continued