Untuk dia yang bukanlah sekedar yang pertama, juga bukan merupakan yang terakhir…
Tapi untuk dia yang kucintai…
Selamanya…
Saat malam datang, aku akhirnya tersadar bahwa kasih yang dia berikan secara cuma- cuma, tidaklah selalu bisa membuat awanku berwarna cerah. Namun seandainya pagi cepat datang, akan aku katakan padanya semua yang kurasa untuknya, hanya untuknya.
Dalam diam, kuharap juga tak ada satu orangpun yang berbicara, agar hanya nyanyian detak jantungku yang terdengar olehnya…agar bangun dari tidur dia hanya merasakan ketenangan dalam alunan kebahagiaan dariku yang mencinta dan genggaman kami sebagai sepasang kekasih nantinya.
Hanya melakukan yang kami suka, berlari ditengah pikuk jalanan seolah kami adalah sepasang gila, mewarnai bangunan sesuka hati kami, menanam bunga di lahan semau kami, berada hanya di tempat yang nyaman untuk kami, terbang dan memeluknya dalam gumpalan awan yang dia suka, menunjuk bintang yang kami punya, dan kembali ke bumi yang kami diami dengan cinta.
Cinta yang kupunya, yang kami miliki, saling kami bagi tanpa syarat, hanya manis yang kami rasa. Cinta yang membuat semua nyata, yang selalu membuat kami sadar bahwa kami tidak sendiri.
Seandainya malam berlalu dan awan kelabu menghampiri, biarkan saya tetap berdiri dengan lengan terbuka. Jika dia ingin berlari menjauh tanpa bisa dipaksa untuk tetap tinggal, biarkan aku melepas dengan berat hati. Bukan tanpa perjuangan, namun agar dia tahu bahwa disana bukanlah yang dia cari. Aku yang selalu ingin menyempurnakan ketidaksempurnaannya, dan aku yang merasa sempurna dengan adanya dia, akan selalu ada di akhir pencariannya.
Dialah telinga dari suara suka dan tangis – Dialah tangan dari lembut cinta dan kasih – Dialah indera penciuman dari wangi indah dunia – Dialah lidah dari rasa manis dan pahit perjalanan – Dialah mata dari cahaya pelangi dan penerang dalam gelap hati – Dialah sang pemilik hati yang membuka hati.
Tidak denganku sekarang, mungkin nanti.
Tidak denganku nantinya, mungkin inilah kehendak pemilik raya.
Dan tetap dalam malam, apakah dia tertawa atau tengah menangis, serupa alam tak bisa menghentikan keingintahuanku akannya. Yang aku tahu saat ini kami tengah melakukan hal yang sama, yakni berjuang untuk sesuatu.
Mengenalnya adalah sebuah kesempatan yang banyak orang miliki, mengejarnya adalah pilihan, memikirkannya adalah sesuatu yang tak terelakkan, menginginkannya adalah lebih dari sekedar kebutuhan, memperjuangkannya adalah pantas untuk dilakukan, membiarkannya bahagia adalah utama yang harus dilakukan.
Pemilik hati yang bisa membuka celah dalam pintu yang rapat tertutup, alunan nada yang tak pernah orang lain dengar telah selalu kumainkan. Hanya hatimu saja pemilik izin untuk itu. Tetap dimainkan atau diredam dalam ruang kedap suara. Jika hanya untukku saja, sesalpun tidak akan pernah ada, karena semua datang tanpa diminta.
Jika hanya pikiran yang dapat menjelajah, aku biarkan dia menuju bebas ke alam yang baik, agar terwujud hal indah menurut-Nya, bukan untukku saja.